Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
64.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


NIAT NYA MAU KIRIM DARI KEMAREN MALAM, TAPI AUTHOR KETIDURAN 😅😅😅.


SUDAH LAH JADI PAGI-PAGI BARU KE KIRIM WKWKKWK.


Asyifa menghampiri Bima dengan kesal. Karena sudah lebih dari sejam dia menunggu, dan pemuda itu baru menampakkan diri nya di depan wanita hamil itu yang emosional nya selalu naik turun.


Bima kaget dan juga meringis ngeri, dia menatap Malik yang juga menatap nya dengan senyuman yang polos.


Bima hanya diam menerima omelan apa saja yang keluar dari mulut manis adik nya itu. "Aku nggak salah alamat kan?"


Pertanyaan itu membuat Syifa terdiam, "kenapa emang?" wanita itu mengernyit bingung.


"Yang aku tau, penghuni nya itu kalem, nggak suka ngomel," ujar nya. Meski hal itu hanya untuk menggoda dan juga membuat Syifa terdiam untuk mengomel, tapi perkataan yang keluar dari mulut Bima membuat Syifa bertambah kesal.


Tanpa bicara lagi, Syifa membalikkan badan nya dan melenggang pergi ke dalam melewati Malik sang suami. Bima jadi bingung. Malik menghembuskan nafas lelah melihat hal itu.


Bima menatap Malik meminta penjelasan. Malik menghampiri Bima dan menepuk pundak nya, "akhir-akhir ini dia lagi terlalu sensitif, mungkin bawaan hamil, nggak bisa kena sindiran sedikit pun, aku saja yang hanya bercanda kemarin di suruh tidur di luar, sabar yah."


Bima mengangguk paham meski kekehan mengikuti, dia berbalik ke mobil nya mengambil apa yang dia bawa dari mall tadi.


Satu kotak es krim besar kesukaan Syifa pun dia keluar kan dan menutup pintu mobil dengan kaki nya sebelum melangkah ke dalam untuk membujuk ibu hamil yang satu ini.


Bima melangkah mendekati pintu balkon, terlihat Syifa sedang duduk santai sembari membalas pesan ntah dari siapa.


Dia duduk di samping nya, Asyifa memperbaiki duduk nya dan sedikit berpindah posisi. Malik tak ikut duduk, hanya bersandar di ambang pintu saja mendengar percakapan mereka.


"Aku tadi, ketemu sama anak kecil, terus dia nangis minta di temani makan es krim," jelas nya.


Bima menatap Asyifa yang juga mulai menatap nya, pemuda itu melanjutkan perkataannya, "ya karena aku kasihan, terus aku kebayang keponakan aku yang satu ini di posisi yang sama ya aku bantuin dia."

__ADS_1


"Ralat, dua bukan satu," Asyifa menjawab dengan kesal.


Bima Sejenak terdiam, dia menatap Asyifa yang tersenyum lebar, kemudian dia menatap Malik mencari kebenaran. Malik melangkah mendekati kedua nya dan bersandar di pagar pembatas balkon menghadap kedua nya.


"Itu memang benar, Allah menitipkan dua sekaligus sama kita," jelas Malik.


Bima membelalakkan matanya kagum, "Wow," kata itu yang terlontar dari nya.


Asyifa terkekeh melihat reaksi yang di berikan kakak angkat nya itu. "Wah, bisa selucu Chacha nggak yah?" tanya Bima sembari membayangkan betapa lucu nya Chacha, bocah kecil yang baru beberapa jam yang lalu dia temui.


Asyifa penasaran dengan nama itu, "siapa Chacha?, kekasih kamu kah?" tanya nya.


"Bukan, dia itu anak kecil yang aku temui tadi waktu di mall, dan dia adalah alasan kenapa aku bisa terlambat datang," terangnya.


Asyifa mengangguk-anggukan kepalanya, dia melirik kotak es krim di tangan Bima dan merebut kotak itu lalu membuka nya, dia memandang Malik dan mengerjap lucu, Malik terkekeh dan mengambil sesuatu dari dalam saku nya. Hanya sebuah sendok, namun mampu membuat Asyifa tersenyum.


Asyifa tersenyum sumringah dan menerima barang itu, dia membuka tisu yang di gunakan untuk menutup kepala sendok nya dan menyendok kan es krim ke mulut. Memang suami nya itu sungguh pengertian, tidak di minta namun dia selalu siap sedia.


Malik dan Bima melihat Asyifa yang begitu lahap nya memakan es krim itu pun menggelengkan kepala. "Jangan banyak-banyak yah," tegur Malik, Asyifa mendongak dan memberengut. Keasyikan nya mulai terusik dengan kata yang terlontar dari Malik.


"Pintar nya," kekeh Malik. Asyifa mencebikkan bibir dan beralih menatap Bima. Dia menengadah kan tangan nya. "Pesanan aku yang lain nya mana?" lanjut nya kemudian.


"Ada di bawah, ayo makan sekalian." Bima menawarkan. Asyifa mengangguk semangat dan mendahului kedua lelaki itu.


Bima menoleh pada Malik yang berdiri di samping nya. "Asyifa sekarang jadi cerewet yah." Bima merasa heran akan sikap Asyifa yang berubah drastis.


"Aku juga bingung Bim, mungkin bawaan hamil kali yah, kata Mama dan Bunda sih tiap orang hamil itu beda-beda kelakuan nya."


Sedang asik nya mereka ngobrol, terdengar Asyifa berteriak dari jauh memanggil keduanya. "Ayo kita samperin, nanti aku malah di suruh tidur di luar lagi." Malik menuturkan dengan nada yang sedikit takut. Bima tertawa keras, apa sehebat itu kah efek dari tidur di luar?, tanya nya dalam hati.


Tak menunggu lama lagi, mereka akhirnya menghampiri Asyifa dan ikut menikmati apa yang di bawa oleh Bima tadi.

__ADS_1


💢💢💢💢


Di sisi lain, Bian yang baru datang ke kediaman Annisa itu menghampiri Amier, adik tiri nya.


"Amier, aku mau main ke rumah Kak Syifa. Aku kangen banget sama dia," ucap Bian yang mendudukan dirinya di sofa di samping Amier.


Amier yang sibuk dengan buku itu pun menoleh, "aku juga, aku sudah lama nggak lihat Kakak main," saut nya.


"Kalau kita kesana gimana?" usul Bian. Amier sejenak berfikir, dan tak lama dia pun mengangguk mengiyakan.


Bian terlihat sumringah, "ya sudah, kamu selesai kan dulu PR kamu yah."


Amier menurut saja, dia dengan segera menyelesaikan tugas nya itu.


Setelah menyelesaikan tugas nya, Amier dan juga Bian berpamitan pada Bunda mereka. "Kalian hati-hati yah, jangan ceroboh," pesan sang Bunda pada kedua anak nya.


Mereka mengangguk mengerti dan melangkah pergi. Kedua saudara itu menaiki sepeda mereka masing-masing. Bian kini sudah bisa mengendarai sepeda dengan handal. Dan karena rumah Asyifa sang kakak dan juga kakak ipar nya itu tak terlalu jauh, jadi mereka menggunakan sepeda sebagai alat transportasi mereka.


Mereka kini sudah di depan pintu masuk rumah Malik dan juga Syifa. Karena pintu yang tak di kunci, akhir nya mereka langsung masuk saja.


"Kakak!" seru Amier heboh. Asyifa dan ke dua lelaki yang sedang asik memakan makanan mereka pun menoleh secara bersamaan.


Asyifa yang melihat kedua adiknya itu langsung berdiri dan menghampiri mereka.


Asyifa memeluk kedua adik nya secara bergantian. "Kakak kangen banget sama kalian." seru Asyifa heboh.


"Kita juga kangen sama Kakak." Mereka mengucapkan nya dengan kompak membuat Asyifa terkekeh.


"Kalian sudah makan belum?" tanya nya dan ke dua bocah itu menggeleng secara bersamaan.


"Kasihan nya, ayo ikut gabung sama kita, " ajak nya dan membawa mereka untuk duduk di kursi samping kedua lelaki itu.

__ADS_1


VOTE NYA JANGAN KETINGGALAN YAH😊.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


__ADS_2