
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Adelia menatap suaminya menunggu jawaban. Reyyan menarik nafas sebelum dia berbicara.
"Sayang, apa kamu tau jika kamu sedang mengandung?" tanya Reyyan memejamkan mata nya.
Adelia tak merespon, karena tidak mendengar jawaban, Reyyan membuka matanya.
"Aku nggak tau," ucap singkat Adel tersenyum namun air mata keluar dari pelupuk mata nya.
Mungkin saja air mata bahagia, atau apa itu dia tak tau, dan air mata nya yang mengungkapkan rasa yang ada di hati nya.
Namun, senyum nya tak nampak kembali setelah mendengarkan penuturan Reyyan selanjutnya. Reyyan menarik nafas lagi sebelum mengucapkan kata-kata nya kembali.
"Tapi, anak kita telah pulang kembali Dek, dia di panggil lagi sama Allah."
Senyuman Adelia yang tadi merekah, kini hilang, dia menutup mata nya untuk menetralkan ekspresi nya. Reyyan jadi takut karena tak ada jawaban. "Sayang?" panggil Reyyan lirih.
"Nggak Mas, aku nggak mau dengar, hiks ,,, hiks ,,, aku nggak mau dengar." Adelia menangis pilu.
Reyyan semakin mengeratkan pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja sayang, dia akan bahagia di sana," lirih Reyyan menciumi kening Adelia. Adelia mengangguk meski tangis nya tak kunjung reda. Kepiluan yang mereka rasakan begitu amat sangat menyesak kan.
💢💢💢💢
Asyifa sedang membaca buku nya dia atas kasur sembari mengusap sayang perut nya.
Malik menghampiri dan mencium kening sang istri. Asyifa diam saja tak menanggapi, ntah dari kapan dia mulai terbiasa dengan ciuman suami nya itu dia juga tidak tau.
"Jangan capek-capek sayang, istirahat sekarang yah, besok kamu masih ada kelas kan." Malik mengambil buku yang ada di tangan Asyifa dan meletakkan nya di atas nakas.
Malik berbaring di pangkuan Syifa dan menciumi perut nya yang kini sudah mulai terlihat. "Geli ih!" seru Asyifa memukul lengan Malik.
Malik mendongak dan menatap Asyifa yang juga menatap nya. "Jangan capek-capek yah, kamu harus banyak istirahat. Aku jadi sedikit takut mengingat Adelia yang keguguran." tutur Malik.
"Insha Allah nggak apa-apa, itu sebuah kecelakaan. Dan kita nggak bisa memilih untuk tidak kan." Asyifa menyikat rambut Malik ke belakang.
"Iya sih, tapi kamu tetap hati-hati dan jangan ceroboh." Nasihat Malik memperingati.
__ADS_1
"Bawel." Asyifa mencuit hidung Malik dan terkekeh.
"Aww!" pekik Asyifa. Malik langsung beranjak dari pangkuan dan memegang lengan Syifa dengan khawatir. "Kenapa Yang?, kita ke dokter yah?!" Asyifa terdiam sejenak kemudian dia tersenyum lebar.
"Dia bergerak Mas, dia bergerak, mereka bergerak." Asyifa begitu heboh menanggapi nya.
Malik yang sempat bingung pun langsung tersadar saat telapak tangan nya menyentuh permukaan perut Asyifa dan merasakan tendangan. Malik tersenyum takjub.
"Kamu merespon sayang?"tanya Malik berbicara dengan sang calon bayi.
Malik begitu senang dan menyikap baju rumahan yang di pakai oleh Asyifa untuk menempelkan telinga nya. Bayi itu menendang kembali membuat keduanya tertawa girang. Usia kandungan yang memasuki lima bulan, membuat sang bayi dapat di rasakan pergerakan nya dengan jelas.
Malam itu, mereka habis kan dengan terus mengajak bicara sang calon buah hati mereka. "Aku mencintai kalian sayang," ucap Malik bahagia mencium pipi Asyifa dan perut nya.
💢💢💢💢
Pagi hari ini, Asyifa sudah siap dengan gamis yang di kenakan nya. Meskipun tengah mengandung, tapi kecantikan dan juga tubuh nya tak menjadi gemuk. Hanya sedikit ada perubahan di pipi yang semakin berisi.
Asyifa membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Malik membantu nya menguncikan seatbelt nya. "Kita berangkat." ujar Malik sebelum menancap kan gas.
"Nanti aku mau ke Rumah Sakit jenguk Adel." Asyifa mengatakan sambil makan sandwich yang dia bawa dari rumah.
Malik tersenyum bahagia, karena akhir-akhir ini, Asyifa sangat suka tersenyum tertawa dan juga bawel tidak seperti biasanya. Kehamilan nya membuat dia jadi lebih ekspresif.
Dia selalu berharap, istri nya itu selalu seperti itu, hanya ada kebahagiaan bukan kesedihan atau pun keterpurukan. Seperti dahulu awal dia bertemu. Pada akhirnya, masa itu datang.
Masa dimana hanya ada kebahagiaan dan senyuman.
Malik memarkirkan mobilnya di parkiran, dan turun untuk membuka kan pintu untuk Asyifa.
Asyifa terkekeh melihat suami nya itu berperan layak nya pelayan.
"Manis nya." Malik memuji sembari mengulurkan tangannya untuk Asyifa.
Asyifa menerima uluran tangan Malik dengan senang hati. "Terimakasih pelayan ku yang tampan," goda Asyifa dengan mengerlingkan mata nya. Malik tertawa renyah. "Sudah mulai nakal yah," ujar Malik mencuit hidung mancung Syifa.
Asyifa memanyunkan bibirnya lucu, membuat Malik menjadi semakin gemas. "Untung nya di kampus Yang, kalau nggak, sudah aku makan kamu" Malik terkekeh.
"Mesum!" seru Syifa dan berlalu meninggalkan suaminya yang terus saja berseru memanggil nya.
__ADS_1
💢💢💢💢
Di lain tempat, tepat nya di Rumah Sakit. Adelia menatap kosong ke depan dan mengusap perut nya. Setetes air mata nya jatuh, namun segera dia hapus takut Reyyan melihat nya.
Dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak terlalu meratapi nya. Karena dia yakin itu yang terbaik. Namun, hati seorang ibu yang kehilangan bayi bahkan sebelum dia lahir dan juga berjumpa dengan nya tentu saja membuat hati nya sakit dan merasa gagal sebagai ibu.
Meskipun dia tak tau jika dirinya mengandung, tapi mendengar kenyataan pahit ini membuat separuh hati terhempas begitu saja.
Reyyan keluar dari kamar mandi, Adelia menoleh dan tersenyum. Reyyan menghampiri dan duduk di sisi ranjang.
"Aku tau kamu habis nangis." Reyyan menghapus jejak air mata di pipi wanita nya.
"Aku masih kepikiran mas. Aku merasa gagal menjadi ibu," tutur Adelia menunduk dalam.
Reyyan membuang nafas panjang, "semua sudah berlalu sayang, semua akan baik-baik saja. Oke," Reyyan meyakinkan Adelia meski hati nya juga merasa kekosongan. Mimpi nya menjadi seorang ayah kini lenyap seketika.
Tapi, disini yang paling menderita adalah istri nya yang mengandung. Dia tidak boleh lemah, jika dia lemah, siapa yang akan menguatkan sang istri.
Reyyan mengusap pipi Adel lembut, dia tersenyum teduh, "Kita berdoa bersama-sama yah," tutur nya lembut.
Adelia memegang tangan suami nya dan memejamkan mata nya. Dia mengangguk mengiyakan.
ceklek ,,,,
"Assalamualaikum." Sapa Syifa. Tak hanya Syifa saja yang datang, ada juga suami tentu nya, Bima dan Danish.
Mereka masuk dan menghampiri ranjang Adelia. "Bagaimana kabar kamu sekarang Kakak ipar?" sapa Syifa tersenyum.
"Jauh lebih baik," balas nya ikut tersenyum. "Oh ya, aku boleh pegang perut kamu nggak?" izin Adel. Asyifa sedikit terdiam dan tersenyum lembut kemudian.
"Boleh," jawab nya. Adelia mengulurkan tangannya dan mengusap perut Asyifa.
Adelia tersenyum mendapat respon dari sang bayi. "Mereka suka sama Tante nya." Asyifa memberitahu. Adelia mengernyit bingung, detik kemudian dia membulatkan matanya.
Asyifa terkekeh dan mengangguk. Mereka pun mengobrol seperti biasa nya. Saat sedang asik nya mereka mengobrol, seseorang membuka pintu.
Seseorang itu membuat Bima terpaku begitu pula dengan orang itu.
BERI AUTHOR BINTANG 5 YAH MAN-TEMAN 😁.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.