
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Bima sedang berjalan di salah satu mall, dia mendapatkan telepon dari sang adik yang menginginkan sesuatu yang harus di beli oleh nya. Dia sedikit kesusahan saat memilih apa yang di sukai dan dapat di konsumsi oleh ibu hamil.
"Dia boleh makan ini nggak yah?" gumam Bima dengan memegang produk makanan yang di inginkan Syifa.
Saat sedang sibuk memilih, ada seseorang yang menarik-narik ujung jas yang dia kenakan. Dia menunduk dan mendapati seorang anak kecil.
"Om tampan, ambilkan itu." pinta anak itu menunjuk kotak cokelat yang ada atas.
Bima berjongkok mensejajarkan diri nya dengan anak itu, "nama kamu siapa sayang?" tanya Bima lembut sembari membelai sayang pucuk kepala anak itu.
"Nama aku Chacha Om, Om ambilkan itu cepat. Nanti keburu Ibu dateng." perintah nya.
Bima terkekeh, dia membayangkan apa kah anak Asyifa akan lucu seperti dia. Sebelum dia habis membayangkan, anak kecil itu kembali menarik baju nya.
"Cepat Om!" kesal nya.
"O,,, oke Om ambil kan yah, tunggu sebentar." ujar Bima dan berdiri guna mengambil kan apa yang anak kecil itu mau.
"Nah, sekarang kamu cari Ibu kamu yah, takut nya Ibu kamu mencari kamu." perintah Bima, namun anak kecil itu menggeleng tak mau.
"Aku mau makan di sini saja, nanti kalau ketahuan Ibu pasti tidak boleh makan lagi." adu nya.
"Kalau nggak boleh makan, kenapa kamu makan, seharusnya kamu ikuti apa kata Ibu kamu." tutur Bima lembut.
Anak kecil berusia lima tahun-an itu menunduk. Dia terlihat sedih dan hendak menangis. Bima terlihat kelabakan, apa yang akan dia lakukan jika anak itu nangis, jika di kira penculikan bagaimana, pikir nya.
"Oke, stop!, jangan nangis. Kamu mau apa Om belikan yah." bujuk Bima.
Anak itu yang mengaku bernama Chacha itu langsung tersenyum ceria. "Telimakasih Om." sumringah nya.
Bima mengerjap tak percaya, ya ampun, dia di bohongi sama anak kecil, gumam nya dalam hati.
"Oke, sekarang Ibu kamu dimana?, nanti Om anterin biar nggak di marahi." tawar Bima. Chacha menunjuk keberadaan sang ibu yang ada tak jauh dari tempat mereka sembari celingukan mencari anak nya.
__ADS_1
Bima terpaku, tiba-tiba jantung nya berdetak tak beraturan. Dia bingung dengan keadaan nya, dan sebelum dia mendapatkan jawaban dari kegelisahan nya, tangan mungil menggenggam tangan besar nya dan menarik ke arah wanita itu berdiri.
Bima dengan nurut nya mengikuti anak itu, setelah sampai di depan wanita itu, Bima semakin berdegup kencang, keadaan ini tak sama dengan terakhir dia bertemu dengan wanita itu saat di mall nya saat menangkap pencopet waktu itu. Kenapa pula dia begitu merasakan kegugupan.
Iya, dia adalah wanita itu, wanita yang berprofesi sebagai polisi wanita. Yang tempo hari dia temui secara tak sengaja.
Saat sedang berkutat dengan pikiran nya, dia di kagetkan dengan panggilan dari sang wanita.
"Anda tidak apa-apa?" tanya nya khawatir, khawatir karena sedari tadi Bima hanya terdiam saja saat di tanya.
"Ibu, maafin aku, aku janji nggak ulangi lagi." sesal Chacha.
Perhatian wanita itu teralih kan pada sang putri yang hampir saja menangis karena takut.
Wanita itu berjongkok dan memeluk putri nya, dia menyakinkan nya jika dia tidak marah. "Sudah yah, Ibu nggak marah kok." ujar nya.
Bima melihat pemandangan itu, hati nya menjadi menghangat entah karena apa, hanya melihat itu saja dia merasa seperti sedang melihat seorang istri yang sedang menenangkan anak nya. Dia tersenyum, pemuda itu ikut berjongkok dan mengelus sayang kepala Chacha.
"Chacha jangan sedih, Ibu Chacha sudah tidak marah lagi kok, sekarang Chacha diam yah?" bujuk nya.
Seketika itu, Chacha terdiam dari tangis lirih nya. Ibu anak itu sempat kaget, karena baru kali ini dia melihat putri nya itu begitu menurut. Pasal nya, putri nya itu begitu tak mau mendengarkan kata-kata orang, jangan kan orang lain, diri nya saja hampir kewalahan menghadapi nya.
"Mau!!" seru nya bersemangat. Bima terkekeh begitu juga dengan sang ibu.
Mereka menuju kedai es krim yang ada di mall itu, Chacha menggandeng telapak tangan sang ibu dan juga Bima dengan posisi dirinya di tengah.
Terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tak jarang juga mereka mendapatkan pandangan bahagia dan juga iri dari para pengunjung.
💢💢💢💢
Sore telah tiba, dan sudah tiga puluh menit Bima menemani Chacha untuk makan es krim kesukaan nya.
Ponsel Bima berdering nyaring membuat dia mengalihkan perhatian nya yang sedari tadi melihat interaksi dari ibu dan anak itu.
Dia memejamkan mata melihat nama dari si penelepon. Dengan menarik nafas dalam, dia mengangkat dan menerima panggilan nya. Dia seketika menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara keras dari Syifa yang kesal.
__ADS_1
"Iya, aku sebentar lagi kesana yah." jawab nya setelah menempel kan lagi benda pipih itu ke telinga nya.
Bima menutup ponselnya, dia membuang nafas lelah. Salah nya dia menawari sang adik yang ingin di bawakan apa?, dan jawaban dari Syifa itu membuat nya terdampar di tempat ini.
Dia mengalihkan pandangannya ke Chacha yang menatap nya polos. Bima tersenyum.
"Om pulang dulu yah, Om ada urusan penting soal nya." ujar Bima memberi pengertian.
Chacha mengangguki nya. Bima yang mendapat izin dari Chacha itu begitu bahagia, karena apa?, karena sedari awal dia masuk ke dalam kedai, Chacha tidak mau lepas dari Bima barang sedikit pun.
Wanita yang di ketahui nama nya adalah Nazira itu pun ikut tersenyum, akhir nya putri kecilnya itu bisa di ajak pulang juga.
"Oh iya Pak, terimakasih yah sudah mau di repot kan putri saya, dan sekali lagi saya minta maaf." ucap Nazira tulus.
Bima mengangguk, dia kini lebih mengenal nya, dia sedari tadi ingin menanyakan dimana ayah Chacha, tapi sepertinya hal itu bukan urusan nya, dan tak mungkin juga dia menyatakan hal itu.
"Ya sudah, saya pulang dulu yah Naz, Chacha, salam buat ayah Chacha yah." pamit Bima, Nazira sedikit gugup dengan kata di akhir kalimat yang di ucap kan oleh Bima, namun detik kemudian dia terlihat biasa saja.
💢💢💢💢
Asyifa terlihat menunggu Bima di teras sembari bolak-balik tak mau duduk, membuat Malik sang suami jadi sedikit pusing melihat nya.
"Sayang, kamu duduk saja di sini, nanti juga Kakak kamu itu datang." bujuk Malik.
Asyifa cemberut dan ikut duduk di samping sang suami. Dan tak lama dia duduk, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mereka, mobil yang tidak asing untuk mereka.
"Itu dia," ujar Malik.
Asyifa menoleh dan melihat mobil Bima yang masuk. "Awas yah, sudah buat aku menunggu, jika alasannya tak masuk akal, habis dia." gerutu Syifa sembari berdiri.
Malik mengernyit merasa horor dengan apa yang di ucapkan istri nya itu. "Semoga selamat ya Brother." batin Malik berucap.
HOHO.... AUTHOR KECE DATANG LAGI...
TETAP DUKUNG AUTHOR KECE YAH MAN-TEMAN 😁....
__ADS_1
DAN SEMANGAT PUASANYA SEMBARI MULUNG BUAT VOTE (MIAD).
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.