
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊😊😊.
Malik terlihat mondar mandir. Hari sudah berganti malam namun dia tak kunjung mendapatkan kabar mengenai penculikan sang istri dan juga ipar nya.
"Kamu istirahat saja nak, kamu kelihatan lelah sayang" tegur April.
"Bagaimana aku bisa istirahat Mah, aku sekarang lagi cemas. Kita sama sekali belum mendapatkan laporan dan juga aku sudah mencari namun belum juga ketemu" ucap Malik melas.
"Mama tau sayang, tapi lihat kondisi kamu. Bagaimana kamu bisa mencari Asyifa lagi jika kamu nanti nya akan jatuh sakit" seru April. Malik terdiam, benar kata Mama nya. Kondisi sekarang sedang tidak baik, semua orang cemas.
Malik membuang nafas kasar. "Ya sudah, aku pulang dulu, aku juga belum mandi" pamit Malik.
Malik pun berpamitan kepada semuanya, April masih di kediaman Al-Husein. Dia sedari tadi menghibur Annisa yang tak kunjung mereda. Meski sudah tak ada air mata yang keluar, namun pandangan kosong nya membuat siapa saja menjadi khawatir.
Malik melajukan mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah nya, dia menghembuskan nafas lelah dan bersandar di sandaran kursi mobil. Dia memejamkan mata sejenak sebelum dia beranjak dari duduknya dan keluar.
Malik masuk kedalam. Pandangan yang rindu akan sosok sang istri mulai menghantui nya.
"Baru beberapa jam kamu tinggalkan, aku sudah mulai gila sayang, ya Allah dimana istri ku" monolog nya.
Pria itu masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk untuk mandi. Malik mengguyur tubuh nya untuk menyegarkan pikiran. Namun tetap saja itu tidak banyak membantu, paling tidak dia lebih santai.
Setelah menyelesaikan kegiatan mandi nya, Dia berjalan keluar namun ada satu benda yang membuat dia berhenti. Satu benda yang asing namun bisa membuat hati bergejolak.
"Tes kehamilan?" monolog Malik. Dia membalikkan benda itu dan terlihat dua garis. Mata nya membulat, dia tidak tau jika istri nya saat ini sedang hamil.
Dia segera berlari dan mengambil baju untuk dia kenakan. Setelah itu dia mengambil kunci motor nya dan melaju dengan kecepatan penuh.
Dia tak menghiraukan keselamatan nya. Yang dia peduli kan, memberi tau semua keluarga nya atas kabar gembira dan juga sedih ini. Air mata Malik menetes di balik helm. Dia bahkan tidak tau hal penting seperti ini. Apakah istri nya tau atau tidak, dia juga tidak tau.
Hati nya sakit, di saat kabar yang harus nya menjadi kebahagiaan mereka namun kini dia merasa telah gagal menjadi seorang suami.
"Ya Allah, selamatkan istri dan juga anakku" lirih nya dalam hati.
Malik memasuki rumah besar itu. Para penjaga sempat kaget karena Malik mengendarai dengan cepat tidak seperti biasanya. Malik masuk dengan terburu-buru membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu menoleh kepada nya.
__ADS_1
Dengan nafas yang memburu dia melangkah dan menghampiri Reyyan. "Kita harus cari mereka sekarang Rey!" seru Malik dengan mata yang memerah.
"Kita juga lagi mencari, penculiknya bukan orang yang biasa. Pasti ada orang yang membantu dia. Setiap lokasi yang kita dapatkan selalu keliru" seru Reyyan.
"Aku nggak peduli Rey, aku mau cari dia sekarang!. Bukan hanya dua nyawa yang penjahat itu tawan. Tapi tiga!" seru Malik lagi.
Mereka saling terdiam dari aktivitas mereka masing-masing dan menatap Malik menunggu penjelasan.
Malik mengeluarkan benda panjang kecil yang tak lain adalah tes kehamilan Syifa yang dia temukan. "Ini Rey, Syifa sedang hamil sekarang!, aku takut akan terjadi hal buruk sama dia!" seru Malik dengan mengangkat benda itu.
Mereka tau tentang benda itu. Dan tangisan Annisa semakin pilu mendengar putri nya kini sedang mengandung.
"Aku tau dia dimana sekarang" seru seseorang yang tak lain adalah Bima yang datang bersama Danish.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Bima sedang di luar negeri saat Reyyan ijab qobul. Dan dia akan menyusul ke tempat acara bersama Danish. Namun pergerakan mobil nya terhenti saat ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi keluar dari kediaman Adelia. Mobil Bima hampir saja tertabrak mobil tersebut jika saja dia tak membelokkan nya dengan tepat.
"Kurang ajar tuh supir!, SIM nya nembak kali ya" gerutu Danish yang geram dengan pengendara mobil itu.
Bima terkekeh. "Sudah lah, kita lanjut saja sudah telat banget ini" ujar Bima.
"Non Adel sama Non Syifa di culik den" ujar petugas itu.
Kedua pemuda itu membulatkan matanya kaget. Sejurus dengan itu, Bima langsung memundurkan mobil nya karena dia seperti menyadari sesuatu.
"Kita mau kemana bro, Syifa sedang di culik sekarang!" seru Danish.
"Kita ikuti mobil tadi. Jika tebakan aku benar, maka hal ini tidak bisa aku maafkan" Bima mengatakan hal itu dengan rahang yang mengeras.
Bima terlihat menghubungi seseorang. "Cari lokasi plat nomor mobil xxxx dan cepat hubungi aku. Aku beri waktu lima menit" tukas Bima.
Mereka terus melajukan mobilnya mengira-ngira kemana perginya mobil itu.
Tak berapa lama ponsel Bima berdering. Dia memencet tombol di bluetooth headset nya.
__ADS_1
"Oke" jawab singkat Bima.
Bima mengikuti arah yang di tunjukkan oleh orang suruhan nya itu.
Hingga saat dia pun menemukan lokasi yang di tuju, pemuda itu memelankan laju mobil nya.
"Penjaga nya banyak banget bro" lirih Danish.
"Kita harus bagaimana ini?, jika kita bertindak gegabah aku takut hal buruk terjadi pada mereka" lirih Danish lagi. Bima terlihat terdiam mengamati.
"Kita tunggu di sini dulu sembari aku memberi informasi pada pihak berwajib" kata Bima setelah mengamati keadaan.
Bima menelpon polisi dan juga orang suruhan nya. Dia akan menghubungi Malik dan Reyyan saat sudah saat nya.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Bima duduk di sebelah Reyyan dengan laptop di depan nya dan Malik mengusap kasar wajah nya. Mereka menyusun rencana yang matang supaya tidak membahayakan mereka berdua.
"Orang yang menculik mereka bukan orang sembarangan. Bahkan mereka bisa mengecoh informasi yang kita dapatkan" kata Reyyan serius.
"Aku sudah menghandle semua. Dan yang perlu kita lakukan adalah menggerebek mereka saat mereka lengah" ucap Bima.
"Kapan kita akan kesana?" tanya Malik tak sabar.
"Subuh ini" final Bima dan di iyakan mereka.
Malik beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar Annisa. Di sana juga ada April yang menemani Annisa dengan tidur di sofa.
Malik membuang nafas lelah. Dia melangkah ke sofa untuk berpamitan pada April.
"Mah, aku mau ke lokasi dimana Syifa dan Adel di culik, Mama doa'in kita yah" ucap Malik lirih takut membangun kan Annisa yang baru saja terlelap.
"Iya nak, kamu hati-hati. Apa perlu kita beritahu Annisa?" izin April lirih.
"Malik rasa nggak perlu Mah, Bunda baru saja istirahat dan aku nggak mau dia bertambah khawatir" ujar Malik yang di angguki oleh April.
__ADS_1
SELALU DUKUNG AUTHOR KECE 😍😍😍.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.