
HAPPY READING 😍.
"Enggak usah di ajakin kita sudah sampai sini kok Tante" saut Danish yang mendorong Malik mendekati mereka yang ada di meja makan.
"Pagi semua" sapa Malik canggung.
"Pagi" jawab mereka serempak.
"Ayo duduk nggak usah malu-malu" ujar Oma ramah.
"Terimakasih"
Mereka menikmati sarapan bersama dengan tenang, sesekali Malik mencuri pandang pada Asyifa, tapi yang di pandang cuek saja tidak balik memandang.
Alia menatap Malik begitu mengagumi, yang di tatap malah menatap Kakak sepupu nya.
Dia sedikit kesal pada Syifa, tapi mau bagaimana lagi, dia memang menyukai Malik. Tapi melihat yang di sukai nya menyukai orang lain, dia jadi mundur. Apalagi melihat cerita tentang Syifa yang tidak seperti dulu, dia jadi kasihan. Dia juga rindu dengan Syifa yang dulu, dia begitu rindu dengan Kakak yang begitu usil.
Sekarang memang masih ada sisa ke usilan nya, tapi tidak seperti dulu yang penuh ekspresi, usil tanpa ekspresi serasa hambar saja, pikir Alia.
Mungkin saja Malik bisa mengembalikan apa yang hilang di hati saudara nya itu.
Setelah mereka sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasa nya, pada saat libur akhir pekan mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama.
"Amier nggak kesini Tan?" tanya Reyyan setelah duduk di samping Syifa.
"Nanti kesini di antar sama supir bareng Nenek nya?" Annisa menjawab.
"Tumben Nenek kesini, biasa nya kalau ada acara saja kesini nya" tanya Syifa dengan bingung.
"Memang ada acara, jadi akhir pekan ini kita isi dengan pesta barbeque bagaimana?" usul Naura.
"Setuju!!!" jawab mereka kompak.
"Nah sekarang, bagian belanja kebutuhan untuk pesta nanti malam, kalian para anak muda yang harus pergi" Salsa memerintah.
Asyifa akan protes tapi melihat senyuman dari Bunda nya itu, mana berani dia, senyuman yang artinya harus. Asyifa mencebikkan bibir nya dan bersandar di sandaran sofa.
💢💢💢💢
Reyyan, Syifa, Malik, dan Danish pun pergi untuk membeli apa saja keperluan untuk pesta nanti.
Anak muda yang lainnya seperti Alia, Adiba, Amier dan juga Bian, iya Bian mereka ajak karena akan serasa kurang bila dia tidak ada, lagi pula akan lebih seru bila mereka berkumpul semua. Mereka di tugaskan untuk menyiapkan segala perlengkapan untuk pesta kecil-kecilan itu.
__ADS_1
Pekerjaan yang seharusnya orang tua yang mengerjakan sekarang anak-anak mereka lah yang mengambil alih. Mereka hanya duduk manis dan menunggu hasil nya saja.
Danish dan Reyyan berjalan mendahului Asyifa dan juga Malik.
"Kita pake motor atau pake mobil saja?" tanya Danish.
"Mobil saja, nanti bakalan banyak yang kita beli" jawab Reyyan.
"Oke" Danish mengangguk.
Mereka berempat pun masuk ke dalam mobil Reyyan dan Malik yang menjadi pengemudi nya.
"Jadi kita mau ke supermarket atau pasar tradisional nih?" tanya Malik, dia melihat spion yang mengarah ke belakang.
"Menurut kamu gimana Syi?" tanya Reyyan pada Syifa yang duduk di sebelah nya.
"Terserah, aku oke saja"
"Kita cobain di pasar tradisional mau?" tanya Malik. Asyifa terlihat berfikir dan dia menganggukan kepala nya meski kecil.
"Oke kita ke pasar tradisional ya" ujar Malik dan membelokan stir nya ke arah pasar tradisional terdekat.
Mereka turun secara bersamaan membuat kebanyakan orang yang melihat jadi terheran.
Mungkin karena tidak biasa nya anak-anak muda yang akan sudi menginjakkan kaki nya di pasar tradisional, pikir mereka.
"Iya juga ya" saut Reyyan membenarkan yang melihat orang-orang di sekitarnya melihat dengan aneh kedatangan mereka.
"Cepat lah nanti keburu siang" saut Syifa mendahului mereka.
Mereka saling pandang dan kemudian mereka tersenyum bahagia.
"Baik tuan putri!!" seru mereka bersamaan dan mengejar Asyifa.
Mereka memasuki pasar itu dengan candaan yang tak pernah luntur, Asyifa sungguh kesal tapi juga lucu. Bagaimana tidak, ketiga pemuda itu sangat konyol dengan tingkah mereka yang membuat dia tidak bisa marah juga.
Seperti contoh nya nih, mereka para pemuda yang sedang memilih daging, kemudian para ibu-ibu yang mengerumuni mereka hanya ingin berfoto bersama, ada juga yang ingin di elus perutnya karena ingin punya anak yang cakep kayak mereka ini.
Memang sih, mereka itu tampan nya lumayan, tapi yang kayak gini ini yang membuat lambat kita belanja.
"Kayak nya sudah semua deh, apa ada lagi yang mau di beli?" tanya Reyyan.
"Ada" jawab Asyifa.
__ADS_1
"Apa?!" tanya mereka kompak. "Itu" tunjuk Asyifa mengarah pada penjual kembang api.
"Oke!" seru mereka.
Ya ampun, Asyifa begitu bingung dengan jawaban mereka yang selalu berbarengan.
Ketiga nya mengikuti Asyifa yang berjalan dengan senang kepada penjual itu.
"Aku mau yang ini, ini dan ini" tunjuk nya pada kembang api yang cukup besar.
"Nggak kebanyakan Syi?" Reyyan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Itu banyak banget loh" heran Danish.
"Ya sudah kalau kamu suka" setuju Malik.
"Terima kasih" sumringah Syifa.
Mereka terpaku melihat Syifa tersenyum lebar, Reyyan saja sampai tak percaya dengan apa yang dia lihat ini, hanya karena kembang api dia bisa tersenyum manis seperti itu. Atau mungkin saja karena yang lain.
"Yang banyak sekalian juga nggak apa-apa kok" saut Reyyan yang begitu senang melihat senyuman Asyifa yang kembali.
Asyifa terlihat begitu berbinar membuat ketiga pemuda itu semakin terpaku. Ya ampun, sudah berapa lama Reyyan tidak melihat Asyifa yang seperti ini.
Mereka membeli kembang api yang di minta oleh Syifa. Dan setelah itu mereka pun bergegas pulang karena sudah sangat terlambat.
"Aduh aku ada yang kelupaan nih, aku balik ke dalam dulu ya sebentaaarrr saja" ujar Malik yang mendapat dengusan dari yang lain nya.
"Jangan lama-lama!" seru Danish saat Malik berlari ke dalam pasar.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Malik kembali.
"Huh,,,oke kita pulang" ucap nya dengan memakai seatbelt setelah mengatur nafas nya yang ngos-ngosan.
Malik melajukan mobilnya untuk pulang.
💢💢💢💢
Di dalam rumah, Bian dan juga Amier berebut keluar untuk menyambut Kakak perempuan nya. Kejadian yang tidak pernah lepas jika mereka berkumpul. Mereka saling ingin mendapatkan perhatian dari sang Kakak.
Orang-orang yang melihat itu hanya menggeleng dan terkekeh saja. Ya ampun, kapan kebiasaan berebut seperti ini akan berkurang. Sekarang memang sudah tidak ada yang menangis bila ada yang kalah. Saat dulu, mereka selalu menangis saat salah satu dari mereka kalah berlari untuk cepat sampai pada Asyifa.
Karena Asyifa akan menggandeng siapa yang lebih sampai dulu. Dan seperti dugaan mereka, Amier lah yang kesal karena kalah lari dari Bian. Dia melipat kedua tangannya kesal karena tidak di gandeng oleh Kakak nya itu. Asyifa memang sengaja membuat mereka seperti itu.
__ADS_1
"Sudah, anak laki-laki pantang menangis dengan hal kecil kayak gini" ujar Reyyan.
MASIH NUNGGUIN KAH?😁 SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN CERITA DARI AUTHOR KECE YAH😅.