
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊😊.
Aditya mengendarai mobil nya untuk pulang. Sebelum itu, dia mengantar Yasmin dan juga Bian ke apartemen nya.
Meski pandangan lurus ke depan, namun pikiran nya tak fokus dengan jalanan di depan nya. Untung saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk karena ketidak-fokus-an nya.
Yasmin sedari tadi memperhatikan Aditya dari belakang, karena Bian yang sudah tertidur, membuat dia menemani sang putra di kursi belakang. "Mungkin dia masih memikirkan hal tadi," gumam Yasmin dalam hati.
🕳️🕳️🕳️🕳️
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Aditya balik.
Annisa mengerjap gugup. "Memang nya ada apa dengan aku?" jawab nya setelah menetralkan ekspresi nya.
"Tidak kah kamu pikir kan apa niat aku waktu itu?" Aditya bertanya dengan ekspresi yang sendu.
Annisa sedikit gugup di tatap begitu lekat oleh mantan suami nya itu, namun detik kemudian dia menatap balik Aditya. Dengan mantap dia mengatakan, "tidak."
"Kenapa?" tanya nya lagi. "Kamu tentu nya sudah tau apa yang aku akan utarakan bukan?" kata Annisa.
"Aku tau, tapi apakah kamu tidak ada sedikit pun rasa padaku lagi? jika iya, izin kan aku untuk berjuang kembali seperti dulu." Aditya memohon.
Annisa terdiam dengan banyak pikiran di dalam kepala nya, hingga suara Yasmin yang mengagetkan mereka. Mereka seketika memutuskan pandangan mereka dan beralih pada pekerjaan masing-masing dengan gugup.
Yasmin sebenarnya tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, tapi melihat gugup nya Annisa dan juga tidak ada nya jawaban yang di berikan Annisa, membuat dia berinisiatif untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Aditya yang merasa sedikit malu pun meninggalkan mereka berdua dan bergabung dengan putra-putri nya.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Aditya menghentikan mobilnya di parkiran, dia melepaskan seatbelt sebelum membuka kan pintu untuk nya dan Yasmin.
"Biarkan aku gendong saja." Aditya berujar saat Yasmin membangun kan Bian, namun sang putra tak ingin bangun.
Aditya membuka pintu sebelah untuk menggendong Bian, "sudah besar sekali kamu nak?" gumam Aditya pada sang putra yang ada di punggung nya.
__ADS_1
Bagaimana tidak besar, remaja itu sudah memasuki sekolah menengah atas sejak setahun yang lalu. Tentu saja dia sebesar itu.
Tanpa di sadari Aditya, Bian sedikit membuka mata dan tersenyum. Bahagia sekali dia di usia nya kini masih saja di manja oleh Ayah nya.
💢💢💢💢
Annisa masih saja tidak bisa memejamkan mata sampai sekarang, kini jam menunjukkan pukul 3 pagi. Karena dia tak kunjung mengantuk, akhirnya dia turun dan ke dapur untuk mengambil minum.
Annisa berjalan ke dapur, namun langkah nya jadi pelan karena melihat lampu yang sudah terang. Wanita itu mengintip dari balik tembok saat terdengar suara dari arah dapur nya.
Dia tersenyum bahagia. Pasal nya di dalam dapur, ada sang putri yang sedang duduk di kursi meja makan yang letak nya tak jauh dari kompor. Dan di depan kompor, berdiri sang menantu yang sedang sibuk memasak dengan bercanda ria bersama putrinya.
Pemandangan ini sungguh tak asing bagi nya. Dia menghampiri mereka dan mengusap kepala Asyifa dengan sayang membuat Syifa mendongak.
"Bunda kok belum tidur?" tanya Syifa.
Annisa mendudukkan dirinya di samping Asyifa. "Bunda nggak bisa tidur," keluh nya.
Asyifa memiringkan kepalanya. "Kenapa?"
Annisa menoleh dan tersenyum, "tidak apa-apa."
Annisa menghela nafas lelah, dia memijit pelipisnya bingung, bingung harus mulai dari mana dia bercerita. Wanita paruh baya itu membenarkan posisi nya menghadap sang putri.
"Sayang, apa kamu mau Bunda kembali lagi sama Ayah kamu?" tanya nya ragu.
Asyifa jadi terdiam sejenak. "Apa Bunda masih ada rasa sama Ayah?" tanya nya balik.
"Bunda juga nggak tau, Bunda sudah terlanjur kecewa sama Ayah kamu. Tapi entah mengapa Bunda selalu kepikiran sama dia."
"Pufftt ... Bunda lagi galau ternyata." saut Malik dan ikut duduk di samping sang istri sembari meletakkan piring berisi nasi goreng seafood. Dengan bahagia Asyifa menerima nya dan mengambil sendok untuk dia gunakan.
"Bunda itu sudah mau jadi Nenek tapi masih galau saja. Puber ke dua yah?!" Malik meledek, Annisa dengan sigap mengambil tisu yang dia kepal kan dan di lemparkan kepada menantunya.
Malik menghindar dan tertawa lepas di ikuti Asyifa. "Menantu kurang ajar!" seru nya namun ikut tertawa.
__ADS_1
"Bunda lagi ngomong serius ini?!" kesal nya.
"Malik mau tanya sama Bunda. Apa Bunda masih sayang sama Ayah? atau hanya kasihan saja? kalau menurut Malik sih, semua tergantung Bunda mau nggak nya." jawab Malik.
"Amier nggak setuju kalau Bunda kembali lagi sama Ayah nya Kak Bian!" seru Amier yang berdiri di belakang mereka.
Amier akan mengambil air minum ke dapur, tapi telinga nya menangkap pembicaraan antara orang dewasa itu. Dia jadi emosi sendiri.
Annisa dan yang lainnya terhenyak mendengar seruan Amier. "Amier," panggil sang Bunda menghampiri putra nya dan hendak memegang tangan nya. Namun hal itu di tampik oleh Amier dengan kesal.
Annisa kaget dengan perlakuan Amier, baru kali ini dia begitu marah nya. "Bunda nggak boleh kembali lagi sama Om Aditya. Aku bisa jagain Bunda, aku bisa mengawal Bunda kemana pun tanpa harus Om Aditya di samping Bunda! aku nggak mau posisi Ayah tergantikan oleh siapapun!" marah nya panjang lebar.
Annisa terdiam dengan penuturan Amier yang menurut nya begitu berani. "Sudah?" tanya Annisa lembut. Dia memegang tangan sang putra dan menuntun nya duduk di samping Kakak nya.
"Yang mau balikan lagi sama Om Aditya itu siapa sayang?" tutur lembut Annisa dan mencuit hidung sang putra.
"Itu tadi, aku denger Bunda minta pendapat dari Kak Syifa!" kesal nya.
"Dasar bocil, ikut campur saja!" saut Syifa.
"Itu kan hanya pendapat, bukan keputusan, lagi pula, cinta Bunda suda mentok di Ayah kamu sayang." Annisa terkekeh.
"Oh, kirain mau balik lagi, kalau hal itu terjadi, aku akan maju untuk menghalau nya!" bocah itu masih saja mengomel.
Annisa dan Malik terkekeh. Asyifa hanya fokus pada makanan nya tak menghiraukan ocehan sang Adik.
Amier melirik ke arah Kakak nya yang sibuk dengan aktifitas nya. "Kak ipar, masih ada lagi nggak nasi goreng nya?" tanya nya sembari menelan ludah.
"Yah, sudah habis Dek," ucap Malik. Asyifa yang mendengar itu langsung mengamankan piring nya itu, takut jika Amier akan mengambil nya.
Mereka tertawa melihat lucu nya kelakuan dua Kakak beradik itu. "Oke, Kakak buat kan lagi saja yah, Bunda juga mau kah?" tanya Malik.
"Boleh, tapi jangan terlalu banyak yah" jawab Annisa.
Malik mengangguk dan berjalan ke depan kompor untuk membuat kan lagi pesanan mereka. Annisa tersenyum melihat putra putri nya itu. Amier yang diam-diam mengambil nasi goreng Asyifa, dan Asyifa yang akan mengomel.
__ADS_1
TINGGAL KAN JEJAK KALIAN MAN-TEMAN 😊.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.