
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Ancaman Asyifa membuahkan hasil. Suara pintu terbuka membuat wanita itu membalikkan badannya dan melirik. Bian dengan wajah lesu membuka pintu kamar nya.
Asyifa menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kamu itu siapa? Dimana Adik Aku!" seru Asyifa.
Bukan nya menjawab, Bian malah menekuk wajah nya kesal. "Awas minggir! Aku mau mencari Adik Aku!" kata Asyifa.
"Ini lah! Memang nya siapa lagi kalau bukan Aku!" kesal Bian.
"Kamu itu bukan Bian! Adik Aku itu begitu tampan, kalau yang ini mah orang-orangan sawah!" seru Asyifa.
"Kakak!" seru Bian tak terima. Asyifa tersenyum tengil. "Ngaku-ngaku. Kalau Kamu itu Bian, pasti nya tampan. Nah ini," Asyifa menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma nggak mandi beberapa hari doang!" kesal Bian. "Pantas bau!" dengus Syifa. Bian memajukan bibirnya lucu.
Di dalam hati Asyifa ingin tertawa terbahak melihat ekspresi wajah sang adik yang seperti itu. Seperti dirinya kembali sewaktu kecil mereka.
"Mandi sana!" perintah Asyifa. "Mandi-kan," lirih Bian. Asyifa menggelengkan kepalanya lagi.
Saat mereka hendak masuk Malik datang. "Hoho! Siapa yang mengizinkan Istri Aku untuk memandikan orang-orangan sawah!" seru Malik.
Asyifa terkekeh. Sedangkan Bian, dia menatap Malik datar dengan wajah menyebalkan.
"Mandi sendiri sana!" kata Malik nyolot.
"Nyesel Aku ngizinin Kakak menikah dengan Kakak Aku!" kesal Bian.
Malik menatap datar Bian. "Tanpa di restui pun, Asyifa pasti mau menikah dengan Aku. Secara kan, Aku itu begitu mempesona."
Asyifa terkekeh. "Cih! Kepedean!" sungut Bian.
"Sudah cepat lah, sudah sangat busuk Kamu!" ucap Asyifa. Bian memberengut lucu kesal dan masuk ke dalam untuk mandi. Rasa sedih nya kini berubah menjadi kekesalan.
"Ayo Yang! Biarlah dia mandi sendiri, sudah tua ini." Malik mengajak istri nya untuk turun ke ruang tamu.
"Bagaimana?" tanya Annisa khawatir.
__ADS_1
Malik tersenyum. "Semua baik-baik saja Bun, kan ada Istri Malik yang bisa menangani."Malik menjelaskan sembari melirik sang istri di rangkulan nya.
"Alhamdulillah! Syukur kalau begitu, Bunda sudah sangat khawatir sama keadaan nya." Annisa menghela nafas lega.
Bagaimana tidak khawatir, Bian bahkan tidak mau menemui siapapun. Tak biasanya juga Bian tak menurut dengan Annisa, baru kali ini pemuda itu melakukan nya. Rasa sakit yang dia rasakan begitu dalam hingga membuat dirinya terpuruk begitu lama.
Lama pemuda itu mandi, karena lama nya diri nya tidak mandi, hingga membuat nya sangat lama di dalam ruangan itu.
Hampir satu jam Bian di dalam kamar mandi dan baru saja keluar. Bau wangi menyeruak masuk ke dalam hidung siapa saja yang ada di dekat nya.
Bian ikut bergabung meski masih ada kesedihan di mata nya. Dan juga mata yang sembab karena terus saja menangis.
"Nah gini kan enak! Wangi nggak kelihatan seperti orang-orangn sawah seperti tadi." Malik terkekeh.
Bian mendengus kesal dan mengabaikan ucapan Malik. Dia beralih menatap wajah Annisa yang kini sudah ada guratan keriput yang menghiasi wajah nya. Namun tetap tidak menghilangkan kecantikan dan keindahan dari wajah nya.
"Bun? Lapar." Bian menggoyangkan lengan Annisa manja membuat Annisa terkekeh.
"Ya Allah, Kamu lapar Nak? Sebentar yah, Bunda buat kan masakan spesial kesukaan Kamu." Annisa begitu bahagia melihat salah satu putra nya ini kembali manja kepada nya.
Asyifa mengerjap bingung, adik nya ini kesambet apa kok bisa seperti itu, pikir nya.
Annisa sibuk menyiapkan makanan kesukaan Bian. Dan Bian sendiri duduk di kursi meja makan sembari menatap Annisa dan mengikuti arah gerak Annisa, namun mata nya tidak fokus dengan apa yang di lakukan Annisa.
Sebuah tepukan di bahu nya menyadarkan Bian dari dunia nya. "Jangan sering bengong, nanti demit nya suka nyamperin." Malik menegur.
Percakapan Malik mengalihkan perhatian Annisa dari kesibukan nya. "Kamu masih memikirkan mama Kamu yah?" tidak Annisa.
Bian terdiam, dan diam nya Bian menunjukkan bahwa tebakan dari Annisa itu benar adanya.
Annisa menghembuskan nafas lelah nya dan melepaskan celemek nya, dia membawakan makanan yang telah siap itu dan membawakan-nya pada Bian.
Bian menerima dengan tersenyum dan mengucapkan terimakasih. "Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan Sayang, hal itu akan membuat Kamu lebih tersiksa lagi." Annisa mencoba menasehati.
Bian menyuapkan sesendok makanan itu ke mulut nya. "Kita pernah merasakan hal yang sama dan hal itu memang sakit rasa-nya." Annisa mulai bercerita.
"Bunda bener." Malik menimpali setelah menelan makanan ringan nya. "Bahkan aku sudah pernah melakukan hal yang bodoh saking frustasi nya. Tapi Allah masih sayang sama Aku."
__ADS_1
"Kita tidak bisa terus meratapi. Ada orang-orang yang sayang sama Kita Nak, dan jika Kamu ada sesuatu hal yang ingin Kamu bagi, Kita bisa saling bercerita."
"Apa guna nya Kita di sini jika Kamu merasa kesepian? Kita adalah keluarga, dan tugas Kita salah satu nya berbagi cerita. Jangan Kamu merasa sendiri lagi, oke?" nasihat Annisa.
"Dan bukan cuma Kita para keluarga, bahkan calon Kamu itu juga bisa di ajak berbagi." Seru seseorang yang tidak lain adalah Aditya.
Dia mendudukkan tubuhnya di samping sang putra dan mengusap kepalanya. Setetes air mata Bian mengalir.
"Laki-laki nggak boleh cengeng!" seru Amier yang datang bersama dua keponakan nya dan juga Asyifa sang kakak.
"Kita ada untuk Kamu Kak!" ujar Amier.
Bian merasa tenang dan juga merasa hangat berada di tengah-tengah keluarga nya ini. Bian sedikit tersenyum, "terimakasih," ucap nya.
Aditya menepuk bahu nya. "Itu kegunaan keluarga." Saut Syifa.
"Oh iya Kak! calon yang di maksud tadi siapa? kasih tau dong?" desak Amier ingin tau dan yang lain nya ikut penasaran.
Tiba-tiba Bian menyengir polos. "Itu yah? Itu sebenarnya Aku cuma bercanda." Ucap nya.
"Yah!" seru semua orang. Salim dan Salman hanya menatap sekilas mereka dan melanjutkan memakan es krim mereka yang tadi di berikan oleh sang bunda.
💢💢💢💢
Malam tiba, Annisa duduk di kursi panjang yang ada di taman. merenung dan berkali-kali dirinya menghembuskan nafas lelah.
Wanita itu tersentak kaget saat seseorang mengalungkan sebuah selimut di punggung nya.
Dia Aditya, suami nya itu duduk di samping Annisa dan tentunya dia refleks meminggirkan duduk nya untuk bisa Aditya duduk di samping nya.
"Lelah?" tanya Aditya. Tak ada jawaban dari Annisa, wanita itu hanya terdiam dan sedikit melirik ke samping kemudian menatap ke depan kembali.
"Boleh Aku mengatakan sesuatu?" tanya Aditya, dan lagi-lagi tak ada jawaban.
Aditya tersenyum miris. Dia tau istri nya ini masih belum menerima kehadiran nya sebagai seorang suami untuk nya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.
__ADS_1