
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
"Jadi pindah hari ini sayang?" tanya Annisa dengan raut yang tidak terbaca.
Ada perasaan senang dan juga perasaan sedih yang meliputi hatinya, senang karena putrinya sekarang sudah ada yang menjaganya dan sedih karena harus berpisah dengan putri tercintanya. Dia tahu masa itu akan datang, dia tahu masa dimana putrinya harus tumbuh dewasa dan mengikuti suaminya dan tinggal dengan suaminya.
"Jadi Bunda, Malik sudah menyiapkan semuanya. Kita hanya membawa barang pribadi saja" jawab gadis itu.
Annisa mendekat dan duduk di atas tempat tidur Asyifa. Dia memperhatikan setiap gerak sang putri yang sedang sibuk mengemasi barangnya ke dalam koper. Asyifa yang merasa diperhatikan pun menoleh, dia melihat Bunda nya itu dengan sedikit rasa bersalah dan juga sedih.
Meski hanya berpisah beberapa kilometer saja, tapi rasanya hal itu begitu berat karena mengingat sedari kecil yang selalu bersama Bunda nya.
Dia menghampiri sang Bunda dan duduk di sampingnya, dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang Bunda sembari menghirup dalam-dalam aroma dari sang Bunda.
Annisa mengelus sayang kepala sang putri. Dia tidak menyangka saja putri kecilnya sekarang sudah menjadi seorang istri.
"Nanti sering-sering main kesini ya sayang"
Asyifa mendongak. "Bunda jangan sedih, kita akan main terus kok, apa Bunda belum ngizinin aku pergi dari rumah ini? kalau nggak ngizinin, aku akan bilang sama Malik sekarang kalau kita pindahan nya di tunda" Asyifa menuturkan.
"Jangan dong, kamu sekarang sudah menjadi istri, dan kamu harus mengikuti suami kamu sayang, Bunda cuma sedih saja kok, bukan melarang kamu" sangkal Annisa.
"Yakin Bun?" tanya Syifa. Annisa mengangguk meyakinkan
"Tapi kayak nya aku bakalan kangen banget sama Bunda deh, aku nggak bisa tidur sama Bunda lagi" sedih Syifa.
"Kan ada Malik" Annisa berujar.
"Tapi kan beda Bunda sama Orang jelek itu" Asyifa memanyunkan bibirnya. "Kok manggil nya orang jelek, nggak boleh begitu ah, nggak baik sayang" nasehat Bunda nya.
Asyifa tak menggubris nya, dan sejurus dengan itu Malik masuk ke dalam kamar Syifa.
"Sudah siap kah?" tanya nya.
Asyifa dan Annisa menoleh, Annisa tersenyum pada menantu nya itu, tapi tidak dengan Asyifa yang memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Gangguin saja sih orang jelek" gerutu Asyifa. "Sayang" panggil Annisa.
"Jadi nggak pindah hari ini?" tanya Malik.
"Jadi... Nggak!" jawab keduanya berbeda. Malik mengernyit bingung.
"Jadi kok nak, Bunda titip Syifa ya, jewer saja jika dia nakal" titip Annisa. Malik mengangguk dan tersenyum.
"Emang dia berani?" tantang Syifa. Malik menggeleng dengan cengirannya.
Annisa terkekeh. " Ya sudah sana berangkat" perintah Annisa.
Malik mengangguk dan membawa keluar koper Asyifa, Asyifa seakan enggan untuk meninggalkan rumah itu, rumah yang penuh kenangan masa kecil nya Kini harus dia tinggal dan mengikuti sang suami pasti. ya dan rasa yang tak rela. Asyifa mengembuskan nafas panjang dan beranjak.
Annisa beserta sang Ibu ikut keluar mengantar sang anak dan menantu nya itu. "Hati-hati ya sayang" pesan Annisa mengelus sayang kepala sang putri.
Asyifa menyalimi dan di ikuti oleh Malik.
"Amier bakalan kangen banget deh sama Kakak" ucap bocah itu.
"Kak Malik harus jagain Kak Syifa, kalau Kak Malik nyakitin Kak Syifa, aku jamin Kak Malik nggak bisa jalan lagi" ancam Amier.
"Widih... Ngeri!" kata Malik dengan nada bercanda. "Kamu tenang saja, yang ada aku yang di apa-apain sama Kakak kamu" lanjut nya sembari melirik ke arah Syifa.
Asyifa menatap tajam sang suami, yang di tatap hanya menyengir polos. "Iya juga sih, kak Syifa kan jago karate, pasti Kak Malik bakalan kalah" lanjut Amier dengan polos nya.
Malik terkekeh dengan penuturan dari adik ipar nya itu. "Ya sudah sana berangkat, nanti keburu siang" perintah Annisa.
"Bunda ngusir nih ceritanya" Asyifa mengerucutkan bibirnya lucu.
Annisa tak menjawab ucapan Asyifa, dia hanya tersenyum saja. Sang Nenek yang melihat cucu nya bertingkah seperti itu jadi gemas sendiri. "Sudah sayang, kamu berangkat gih" ucap nya lembut.
Mereka pun berbalik dan masuk kedalam mobil untuk meninggalkan rumah itu. Sesaat mobil yang di tumpangi mereka melaju, Annisa tidak kuat lagi untuk menahan air mata nya. Seketika air mata itu jatuh dari pelupuk mata nya.
Nenek merangkul putri nya dan membawa nya masuk ke dalam. "Kita hanya tidak satu rumah sayang" kata Nenek menenangkan.
__ADS_1
Annisa mengangguk. Amier menghambur memeluk sang Bunda. "Nanti bakalan sepi kalau nggak ada Kakak Bun" saut Amier.
Annisa mengangguk kembali.
💢💢💢💢
Di dalam perjalanan, Asyifa masih saja melamun. Dia tidak sadar jika dia sedari tadi sudah sampai di rumah mereka.
Malik memegang pundak istri nya membuat dia terhenyak. "Sudah sampai sayang" tutur Malik memberi tahu.
Asyifa mengangguk dan keluar dari mobil nya. "Biar aku ajah, kamu masuk duluan gih" perintah Malik Asyifa menuruti apa kata suami nya.
Setelah beberes, Asyifa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur nya, dia menghela nafas lelah. Lama kelamaan dia memejamkan mata nya karena begitu lelah.
Malik masuk sembari membawa nampan berisi makanan yang baru saja dia beli dan mendapati sang istri yang sudah terlelap dia pun tersenyum. Dia belum sempat memasak karena bahan masakan belum mereka beli.
Dia perhatikan setiap jengkal dari wajah ayu sang istri dengan penuh kebahagiaan. "Selamat tidur sayang" ucap nya dan mengecup kening nya sayang. Fokus nya teralih kan pada bibir merah alami Asyifa.
Pemuda itu mendekat tanpa sadar dan hampir mengecup nya bila Asyifa tidak melenguh dan memindah posisi tidur nya. Malik terkekeh geli dengan aksi nya sendiri.
Dia menjauhkan diri nya dan beranjak dari depan Syifa. Pemuda itu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Asyifa mencium aroma yang lezat membuat tidur nya terganggu. Dia mengikuti arah aroma tersebut dan membuka mata nya. Senyuman gadis itu merekah tatkala melihat hal yang dia sukai di depan matanya.
"Siapa yang menaruhnya di sini?" monolog nya. Dia celingukan dan mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Seperti nya dia sedang mandi" lirih Syifa. Gadis itu mengedikan bahu nya tak peduli dan menatap kembali steak daging sapi yang ada di samping nya.
Syifa menelan ludah dengan kasar, dan tak menunggu waktu lama dia melahap makanan tersebut.
Saat di tengah-tengah dia mengunyah, Malik membuka pintu kamar mandi membuat Asyifa mendongak.
Makanan yang masih tersisa separuh di genggaman nya pun terlepas tatkala dia melihat Malik yang bertelanjang dada.
ROMANSA SUDAH MULAI 😂😂.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.