Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
27.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😁.


Reyyan membawa gadis yang tak di kenalnya itu menuju parkiran. Di sana sudah ada Malik yang sedang menunggu di Reyyan untuk pulang bersama.


"Malik buka pintu cepat!" seru Reyyan dengan berlari menuju Malik.


Meskipun Malik bingung tapi dia tetap segera membuka pintu mobil untuk Reyyan.


"Kamu yang mengemudi, cepat!" perintah Reyyan.


"Oke!"


Malik mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia seperti tidak memperdulikan pengendara yang lain.


"Bisa lebih cepat?!" seru Reyyan yang panik karena gadis itu semakin banyak mengeluarkan darah.


"Kamu berdoa saja supaya tidak ada polisi yang melihat mobil kita" ujar nya menyeringai dan detik selanjutnya Malik menginjak gas dan melajukan dengan lebih cepat dari sebelumnya.


Satu menit kemudian, mereka sampai di depan Rumah Sakit. Malik menengok ke belakang dan mendapati temannya itu tercengang.


"Woi bro sudah sampe!" suara Malik mengagetkan Reyyan. Dia mengerjap beberapa kali dan tersadar, dia langsung mengangkat tubuh gadis itu supaya cepat tertangani.


"Dok tolong teman saya!" seru Reyyan. Suster langsung membawa brankar dan Reyyan meletakkan gadis itu di atas nya dan ikut mendorong ke ruangan UGD.


"Dia siapa sih bro?" tanya Malik setelah duduk di kursi tunggu.


"Aku juga nggak tahu, tapi ada yang ingin aku pastikan" ujar Reyyan dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Apaan?" Malik penasaran.


"Entah lah" jawab Reyyan singkat.


"Dasar aneh!" Malik begitu kesal pada teman nya itu, tapi temannya itu hanya terkekeh geli membuat Malik bertambah kesal.


Dokter keluar dan memberi tahu bahwa pasien kehilangan banyak darah. Reyyan maju untuk ikut mendonorkan darah untuk gadis itu.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Ini sudah hari ke dua gadis itu masih nyaman dengan tidur nyenyak nya. Reyyan selalu di samping nya. Dia hanya meninggalkan gadis itu untuk mengganti baju saja.


"Kita berjumpa lagi, kenapa aku nggak sadar kita satu kampus ya" monolog Reyyan setelah duduk di kursi dekat ranjang gadis itu.


Reyyan menatap lekat wajah tenang gadis itu, Reyyan sedikit menorehkan senyuman.


Pintu terbuka menampilkan Malik yang membawa orang tua dari gadis itu.


Mereka masuk, Reyyan menyambut mereka dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


Orang tua gadis itu sedang berada di luar negeri. Mereka langsung terbang ke Indonesia setelah mendapat informasi bahwa putri nya itu terkena musibah.


"Terimakasih ya nak Reyyan, saya tidak tahu harus ngomong apa lagi untuk mengungkapkan rasa terimakasih saya" Papa gadis itu memegang tangan Reyyan dengan erat.


"Sama-sama Pak" jawab Reyyan ramah.


Reyyan kemudian pamit untuk pulang di barengi oleh Malik.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


"Bro" panggil Malik dengan fokus masih pada jalanan.


"Eehmm, apaan?" tanya nya namun tak mengalihkan perhatian pada ponsel yang ada di tangan nya.


"Dari kemaren aku nanya belum di jawab nih, gadis itu siapa, kenapa kamu care banget sama dia?" tanya Malik penasaran.


Tapi bukan nya menjawab malah Reyyan terkekeh geli.


"Dasar orang gila, di tanyain jawab nya itu mulu!" gerutu Malik


"Oke-oke aku cerita. Aku pernah cerita kalau aku ketemu gadis cantik di pesta waktu itu kan?" tanya Reyyan dan Malik mengangguk.


"Kamu tahu jawabannya pasti" ujar nya kemudian.


"Jadi dia orang nya Rey, emm cantik sih, sama kayak yang kamu bilang" Malik membenarkan membuat Reyyan bangga.


"Masih lebih cantik Asyifa tentu nya" ucap Malik menyengir. Reyyan memukul lengan temannya itu dan ikut tertawa.


"Dia memang cantik, kamu beruntung kalau kamu bisa mendapatkan dia" Reyyan menepuk pundak Malik lagi.


"Tapi Rey, aku kira-kira bisa nggak ya memenangkan hati Asyifa yang dingin itu?" tanya Malik ragu.


"Batu saja yang keras bisa terkikis bro. Jangan menyerah sebelum berperang lah, masa kamu kalah sama dia" ujar Reyyan.


"Syifa itu nggak memandang materi bro, sekaya apapun dia, kalau nggak buat dia nyaman pasti bakal kalah. Jadi tugas kamu itu harus bisa buat dia nyaman. Dan kalau sudah nyaman jangan buat dia kecewa, karena dia nggak akan mudah untuk meluluhkan hati nya kembali untuk orang yang mengecewakan nya" sambung Reyyan.


Malik mengangguk mengerti.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


"Amier...!" teriak Bian menghampiri Amier yang mau menggoes sepeda nya.


Amier membuang muka ke sembarang arah setelah Bian sudah dekat dengan nya. Dia masih saja tak mau berbicara dengan Bian.


"Mau apa kamu kesini!" ketus Amier tanpa menoleh.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Bian memelas namun tak ada jawaban dari Amier.

__ADS_1


"Oh ya, aku bawa kue cokelat buatan Mama aku" Bian menunjukkan kotak berisi kue cokelat nya.


Amier sedikit melirik, dia sebenarnya sudah tidak marah lagi. Lagipula itu bukan sepenuhnya salah Bian, dia hanya kesal saja. Dan kekesalan nya masih bertahan sampai sekarang.


"Maaf deh, nanti kalau Kak Syifa dateng terus kita balap lagi aku bakalan ngalah deh, aku janji!" ucap Bian dengan mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya.


"Eemm bisa saja sih aku maafin kamu, tapi ada syaratnya" Amier memberi penawaran.


Amier membisikkan sesuatu pada Bian. Dari ekspresi wajah yang di berikan oleh Bian sudah di pastikan bahwa yang di bisikan Amier itu tidak menguntungkan untuk nya.


"Bagaimana?" tanya Amier dengan menyeringai.


"Seriusan nih" tanya Bian dengan wajah memelas. Amier mengangguk.


"Kenapa memang nya, Kak Bian nggak ikhlas?" tanya Amier.


"Bukannya nggak ikhlas, hanya saja aku nggak bisa" melas Bian.


"Maka nya aku minta itu supaya Kakak bisa" Amier masih kekeuh dengan tantangan nya.


"Tapi kan dek, Kakak benar-benar nggak bisa naik sepeda" eluh nya.


"Ya sudah, nggak akan dapat maaf dari aku!" ketus Amier sembari membuang muka.


"Tapi benar ya, setelah ini kamu bisa maafin aku" mohon Bian Amier mengangguk mengiyakan.


"Ya sudah" Bian pun akhirnya menyerah, dia menerima tantangan dari Amier. Bian mengambil alih sepeda yang hendak di pakai oleh Amier tadi dan naik untuk mengendarai nya.


Awal nya Bian mengendarai sepeda dengan gemetar, tak jarang juga dia hampir terjatuh. Namun lama kelamaan dia sedikit demi sedikit bisa mengayuh nya. Bian begitu senang dengan apa yang bisa di capai nya itu.


"Amier aku bisa!, aku bisa!" teriak Bian kegirangan. Semakin lama, semakin dia bersemangat untuk mengayuh sepeda itu.


Ekspresi senang terlukis di wajah Bian saat ini. Dia begitu senang bisa mengayuh sepeda dan tak jatuh lagi.


Tapi karena saking semangatnya, Bian lupa bahwa dia akan melewati jalanan yang turun, karena panik Bian jadi kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan.


Brak....


"Kak Bian!!" teriak Amier. Dia berlari menghampiri Bian. Dia begitu takut bila terjadi apa-apa pada Kakak laki-laki nya itu.


Sesampainya dia dia sana. Dia begitu tercengang melihat pemandangan di depan matanya itu.


"Kakak!" seru Amier.


KITA IKUTI ALUR NYA YAH, TERIMAKASIH πŸ˜€.


JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE DAN COMMENT, VOTE NYA JANGAN KETINGGALAN UDAH HARI SENIN INIπŸ˜….

__ADS_1


__ADS_2