
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗🤗.
Semenjak mendengar apa yang di katakan oleh Tante nya, Asyifa segara bersiap.
Kedua jagoannya masih terlelap di jok belakang, dengan tangis yang tak kunjung reda itu Asyifa merapalkan do'a.
"Tenang sayang, tenang." Malik mencoba menenangkan sang istri yang begitu kalut dengan pikiran nya sendiri.
"Bisa lebih cepat kan Mas?" pinta Syifa sembari tersedu.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah utama. Asyifa langsung membuka pintu nya dan berlari masuk ke dalam rumah besar itu. Malik yang melihat itu hanya menghembuskan nafas kasar.
Dia meminta salah satu pelayan rumah itu untuk mengangkat salah satu dari putra nya dan ikut masuk untuk meletakkan putra kembar nya di kamar.
Asyifa masuk ke dalam kamar Oma nya dengan terburu-buru hingga membuat pintu kamar itu terbuka dengan keras.
Semua mata tertuju pada Asyifa, semua keluarga sudah berkumpul tak terkecuali Annisa yang dengan sesegukan sembari membaca surah Yasin.
Satu orang yang Asyifa pandang dalam diam, tidak memperdulikan semua orang yang ada di sana. Seorang wanita tua yang begitu lapang menerima kehadiran nya, dengan ikhlas memberikan cinta dan perhatian nya, wanita itu adalah ibu dari ayah sambung nya, yang tidak pernah membuat nya merasa asing di dalam rumah itu.
Semakin mendekat Asyifa berjalan, dengan gemetar dia menggenggam tangan rapuh nya membuat mata lelah itu terbuka dan menatap dengan sayu.
Oma Risma tersenyum melihat cucu perempuan pertama nya, cucu yang dia tunggu-tunggu kini ada di depan nya. Dia tidak pernah membedakan antara cucu kandung dan juga cucu tiri, semua di perlakukan nya sama.
Tangan rentan itu mengulur ingin memeluk, Asyifa memeluk nya dengan segera dan begitu eratnya.
Oma Risma terseyum bahagia, sedikit ada obrolan di antara mereka, dan pada akhirnya Oma meminta Asyifa untuk menuntun nya menghadap sang khalik. Asyifa berbisik di telinga Oma Risma.
__ADS_1
Dengan suara gemetar Asyifa menuntun sang Oma. Dan dalam hembusan nafasnya yang terakhir dia tersenyum teduh. Tangis mereka langsung pecah dan menangis sejadi-jadinya.
Opa mengambil alih tubuh istrinya itu dan di dekap erat, sangat erat. Naura menangis sesenggukan begitu pula dengan yang lain nya. Hingga Naura tak kuat untuk menahan bobot tubuh nya hingga dia terjatuh di pelukan suami yang mendekapnya.
Naura di bawa ke kamar oleh suami nya, Asyifa menatap kosong tubuh Oma Risma dengan uraian air mata. Malik yang ada di ambang pintu pun masuk dan mendekapnya.
Di pelukan sang suami, dia menumpahkan air mata nya lebih banyak, menumpahkan rasa sedih dan rasa kehilangan nya.
Asyifa adalah tipe orang yang tak suka di tinggalkan, dan pulang nya sang Oma kepada sang pencipta membuat dia merasakan hal yang sama saat sang ayah meninggalkan nya juga.
Sakit, sakit yang dia rasakan. Begitu berat perpisahan itu, meski dia tau jika di dunia tidak ada yang abadi, namun kesedihan itu tidak bisa dia pungkiri.
💢💢💢💢
Setelah pemakaman di lakukan, semua pen-takziah pulang. Para perempuan tidak ikut mengantar sampai pemakaman, hanya para laki-laki saja yang mengantarkan Oma Risma ke peristirahatan terakhir nya.
Tinggal lah hanya keluarga inti saja, Opa begitu terpukul dengan kepergian belahan jiwa nya. Meski tak lagi meneteskan air mata, namun raut wajah nya begitu terpuruk.
Ini kali kedua dia menangis seperti itu. Beberapa tahun yang lalu dia merasa kehilangan seperti ini. Putra semata wayangnya yang berpulang, dan sekarang sang istri yang juga berpulang. Itu sungguh menyakiti hati seorang ayah dan juga auami.
"Zaki tau kalau Papa itu sedih, Zaki juga, yang lain juga. Tapi Papa nggak kasihan sama Mama? Mama pasti akan sedih melihat Papa seperti ini." Zaki terus saja membujuk Papa mertua nya namun lelaki tua itu sama sekali tidak beranjak dari duduknya.
Zaki menoleh pada keluarga yang lain nya. Reyyan maju dan memegang bahu Opa. "Opa nggak mau Oma sedih kan? Opa selalu ingin Oma bahagia, percaya lah Opa, Oma sudah bahagia di sana. Dia sudah tidak lagi merasakan sakit yang selama ini dia derita." Reyyan mencoba sekuat tenaga untuk mengatakan hal itu.
Jujur Reyyan tidak sanggup menerima kenyataan ini. Namun di sini bukan waktu nya untuk memikirkan ego. Di sini Opa nya lah yang lebih terpukul.
"Ayo Opa, kasihan Oma." Reyyan lagi-lagi meminta dengan suara lembut nya hingga Opa beranjak dari duduknya dan berbalik meninggalkan makam sang istri.
__ADS_1
Sesekali dia menoleh, seakan tak rela meninggalkan nya. Mereka paham apa yang di rasakan oleh orang tua itu. Mereka sama terpukul, sama terpuruk nya dengan nya. Tapi disini mereka harus saling menguatkan saling memberikan semangat. Karena hari esok akan kembali cerah setelah mendung hari ini.
💢💢💢💢
Di sebuah kamar, tanpa satu pun lampu menyala. Seorang laki-laki yang baru saja di tinggalkan oleh istri nya beberapa jam yang lalu, duduk menatap kosong jendela kaca sembari memegangi fotonya bersama sang istri sewaktu masih muda.
Lintasan memory tentang di mana masa-masa sulit dan masa dimana dirinya memulai usaha dari nol.
"Kamu ingat sayang, saat kamu mengatakan bahwa kamu hamil Salsa dulu, aku begitu bahagia mendengar nya hingga aku bersorak di tengah jalan?" monolog nya.
Dia tersenyum miris mengingat kenangan manis itu.
"Andaikan saja, andaikan saja jika Aku lebih banyak waktu menemani kamu ketimbang harus bekerja dari pagi sampai sore jika Aku tau akan seperti ini. Tau kah kamu adalah hartaku yang berharga, aku tidak butuh semua ini, Aku hanya butuh kamu sayang, hanya kamu," tangis nya pecah mengingat manis pahit memory itu.
Di luar kamar Annisa masih berdiri bersandar di dinding. Dia tahu rasa sakit itu, dia jauh lebih dulu merasakan nya. Setetes air mata keluar jika mengingat saat menyakitkan itu.
-------------
Asyifa termenung sembari menyusui Salman, pandangan nya lurus ke depan namun begitu kosong. Air mata nya menetes sesekali. Salim sudah lebih dulu tertidur karena kelelahan.
Malik masuk kedalam kamar setelah tahlil pertama almarhumah selesai. Dia menghampiri sang istri dan mengusap lembut rambut panjang nya.
"Semua akan baik-baik saja." kata itu yang terucap. Tak ada lagi kata yang bisa Malik ucap kan karena dia tahu, bukan omongan yang di butuhkan Asyifa. Hanya di samping nya dan memberikan kenyamanan itu lebih baik.
Malik mengambil alih Salman setelah selesai menyusu. Dia membaringkan tubuh kecil putranya di samping Salim dan menyelimuti mereka.
Malik berbalik menatap Asyifa yang masih tertunduk. Dia angkat dagu istri nya dan menggelengkan kepalanya. "Hiks ,,, hiks ,,, " tangis nya pecah seketika dengan lirih dan menghambur memeluk Malik.
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍🤗.
LIKE COMMENT VOTE NYA JANGAN KETINGGALAN OCEH 😁.