
Bima masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Mall itu adalah salah satu milik perusahaan nya. Seperti biasanya, kedatangan dari Bos mereka itu adalah hal yang sangat di tunggu-tunggu oleh para karyawan Mall itu. Hanya sekali dalam satu bulan dia akan menyempatkan diri untuk mengunjungi sekedar mengecek saja. Itu saja jika ada waktu luang.
Kabar dari pernikahan Bima dan juga Syifa sempat membuat heboh perusahaan tidak kalah jauh dengan anak cabang perusahaan nya. Bagaimana tidak, Bima di kenal dengan orang yang sangat pemilih. Banyak wanita-wanita mengantri hanya untuk mendapatkan perhatian nya, namun tak ada satupun yang dapat meluluhkan hati Bima.
Kabar pernikahan nya itu tentu membuat hati mereka patah. Tapi, kabar dari kegagalan pernikahan nya seperti memberikan angin segar pada kesuraman hati mereka.
Mereka mulai berlomba-lomba mendapatkan perhatian pemuda itu. Siapa tau bisa meluluhkan karena hati nya kini tengah lemah. Dan lagi pula siapa yang tak kenal Bima?, pewaris satu-satunya yang menjadi idola di kalangan masyarakat atas maupun menengah karena dia kerap sering kali muncul di acara televisi sebagai bintang tamu untuk memberikan motivasi sebagai pengusaha muda.
Meski perusahaan nya adalah warisan keluarga, namun tak dapat di pungkiri jika perusahaan nya maju secara cepat saat di pegang kendali oleh nya.
Pemuda berprestasi namun tidak pernah membuat skandal yang fatal, hanya wanita-wanita yang mengelilingi nya saja yang sempat menjadi topik hangat, namun hal itu tak dapat menurunkan kehebatan dari sosok BIMA AIYDIN ARKANA.
"Semua sudah siap?", tanya Bima sembari tak henti melangkah dengan memainkan ponselnya. Membalas pesan singkat dari Syifa yang sekarang menjadi adik nya.
Sekertaris itu sedikit susah mengimbangi langkah kaki Bos nya itu karena dia menggunakan high heels. "Sudah Pak, semua sesuai arahan dari Bapak", Bima mengangguk apa yang di jelaskan oleh sekertaris nya.
Bima memasukkan ponselnya ke dalam saku dan fokus dengan jalan di depan nya. Kemudian, pemuda itu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba membuat sang sekertaris hampir saja menabrak nya.
Pemuda itu memicingkan mata dengan kejadian di depan matanya. Aksi kejar-kejaran antara laki-laki yang di kejar oleh seorang perempuan. Entah apa yang terjadi dia jadi penasaran, mungkin saja penjambretan.
Lelaki itu hampir melewati Bima, dengan sigap Bima mengulurkan kaki nya membuat si laki-laki tersandung dan jatuh tersungkur.
Bima tersenyum miring melihat laki-laki itu terjatuh, pandangan nya beralih pada perempuan yang mengejar nya hingga menangkap lelaki itu pun tak luput dari perhatian nya.
"Siapa suruh kamu mencuri, kamu berurusan dengan orang yang salah kawan", omel perempuan itu pada lelaki yang meminta maaf sembari memborgol nya.
"Nggak lagi Bu, ini aku balikin" sesal lelaki itu.
"Baru sekarang kamu menyesal, tadi kemana saja?!" seru si perempuan.
"Kan tadi di kejar Bupol" elak nya.
__ADS_1
Mendengar itu Bima sedikit tertawa di ikuti sekertaris nya membuat perempuan itu mendongak.
Perempuan itu memicingkan matanya. Kemudian berdiri dengan menarik tawanannya itu. "Ada yang lucu?", tanya nya pada Bima dan pemuda itu menggeleng polos.
"Lagian Bu polisi ngapa dah, orang lagi nggak tugas masih saja tangkep orang", gerutu pencuri itu.
"Diam kamu!", seru perempuan itu yang ternyata adalah polisi wanita.
"Terimakasih atas bantuan anda, saya permisi" final perempuan itu dan pergi keluar Mall.
Bima terus saja memandang punggung perempuan yang belum dia tau siapa nama nya, hingga sang sekertaris yang memanggil membuat dia kaget.
"Ada apa?", tanya Bima datar.
"Watu nya Pak, sudah telat" ucap sekertaris itu dengan menunjukkan arloji nya dan tersenyum canggung.
Bima mengangguk dan berjalan kembali, tanpa dia sadari dia sedikit tersenyum. Entah apa yang membuat Bima tersenyum, dia juga tak tau.
💢💢💢💢
"Kalau nggak siap kita pulang saja yah", ujar Malik mengusulkan.
Tidak ada jawaban dari Syifa, Malik menghembuskan nafas lelah dan hendak meng- starter mobil nya tapi tangan nya di cegat Syifa. Malik menoleh. "Aku siap", jawab Syifa kemudian.
"Yakin?", tanya Malik ragu. Asyifa mengangguk dan Malik hanya bisa mengiyakan saja.
Mereka turun dan menuju tempat dimana Amel di tahan. Iya, sekarang mereka ingin menemui Amel di rutan. Dia mendekam di penjara sejak tiga hari lalu karena sempat kabur pada saat penggerebekan waktu itu.
Lima hari setelah Asyifa pulang dari Rumah Sakit, kini dia berniat menemui Amel sekaligus meminta maaf. Meski dia tak sepenuhnya bersalah, tapi kematian dari sang Kakak membuat gadis itu menjadi benci kepada nya karena menganggap semua adalah salah nya.
Syifa duduk di bangku tunggu. Dan tak berapa lama Amel keluar dengan tangan yang terborgol. Dia dan suaminya berdiri menyambut. Amel menatap tajam tidak suka pada tamu yang ingin menemui nya itu.
__ADS_1
"Mau apa kamu kesini!", seru Amel setelah duduk dan di ikuti kedua nya.
"Kita kesini bermaksud baik, kita hanya ingin menengok kamu", ujar Malik mendahului.
"Ceh!, pembunuh", lirih Amel penuh penekanan dan sinis.
"Jaga ucapan kamu yah!", ucap Malik tak mau kalah. Asyifa memegang lengan Malik menenangkan nya. Dia menggelengkan kepalanya.
Asyifa kembali memandang Amel. "Aku kesini untuk meminta maaf, aku nggak tau jika Razi akan melakukan hal itu. Kamu mungkin benci sama aku, tapi itu pilihan dia, aku sudah selalu mengingatkan dia untuk bisa melepaskan aku" jelas Syifa sedih.
Sedih karena dia tidak menyangka Razi akan melakukan hal bodoh seperti itu. Amel menatap tajam Syifa, namun lama kelamaan mata itu memerah dan mengeluarkan air mata. Aur mata yang memilukan.
Dia menunduk tak kuat lagi menatap Syifa terlalu lama, dia menangis sesenggukan mengingat bagaimana tragis nya sang Kakak yang meninggal di depan matanya sendiri.
Tidak ada percakapan lagi hanya ada tangisan dari Amel saja yang terdengar. Rasa penyesalan mulai dia rasakan, tatapan teduh dari Syifa mampu membuat dia merasakan hal yang tidak dapat di rasakan oleh orang sekitar nya.
Setelah cukup lama hingga sipir mengingatkan bahwa waktu telah habis dan Amel di harus kan masuk kembali ke dalam sel.
Amel beranjak dari duduknya dan masuk kedalam, Asyifa mengikuti arah Amel pergi hingga punggung nya tak terlihat lagi.
"Kita pulang sekarang?", tanya Malik.
Asyifa menoleh dan mengangguk. "Tapi aku mau mampir ke kedai es krim dulu", ujar Syifa.
Malik terkekeh dan mencuit hidung Asyifa. " Baik lah Bunbun sayang", canda Malik gemas.
Mereka pun keluar dan menuju mobil mereka untuk melanjutkan perjalanan ke kedai es krim. Sedangkan di sel, Amel memandang sebuah foto yang ada di tangan nya. Dia tersenyum sembari menangis.
"Kamu benar Kak, dia orang yang baik dan pandangan mata nya meneduhkan. Pantas saja kamu begitu tergila-gila sama dia", monolog nya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍😍.
__ADS_1
VOTE LIKE SETIAP CHAPTER YAH MAN-TEMAN, YANG BELUM RET 5 SEGERA KAN. AUTHOR AKAN SEMANGAT JIKA KALIAN SEMANGAT BUAT VOTE / DUKUNG AUTHOR KECE.
TERIMAKASIH 😀.