Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
54.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


Malik dan Asyifa sudah pulang. Sekarang mereka akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Annisa.


"Yang, sudah siap belum?" seru Malik.


"Bentar" Asyifa balik berseru dari dalam kamar mandi. Tak lama Syifa keluar dan mendapati Malik sedang memainkan ponselnya di sofa.


Malik mendongak saat pintu kamar mandi terbuka. "Ayo" ajak Syifa.


Mereka pun berangkat untuk ke tujuan mereka.


Dan di tempat lain, Annisa sedang di dapur. Dia sedang menyiapkan makan malam. Namun fikiran nya sedari pulang dari Restoran menjadi tidak fokus karena perkataan Aditya beberapa jam yang lalu.


🕳️🕳️🕳️🕳️


"kamu ngomong seperti ini, apa sudah di fikirkan matang-matang?" tanya Annisa kemudian.


Aditya mengangguk. "Ada yang salah dengan omongan ku?" tanya nya.


"Ada" jawab wanita itu kemudian menghela nafas berat, rasa nya dada nya sesak mendengar pernyataan yang baru saja dia dengar.


Aditya menunggu ucapan Annisa selanjutnya. "Kamu tau mas, hati aku sudah terkunci pada satu orang. Dan kamu tentu nya sudah tau siapa orang itu, lagipula kenapa kamu tidak kembali ke Yasmin saja. Dia sama-sama mantan istri kamu kan" ucapan dari Annisa cukup membuat Aditya tersindir. Dia sudah tau mungkin akan jadi seperti ini, hanya saja dia begitu penasaran jawaban dari mantan istri nya itu.


"Aku tau, bahkan aku yang sudah mengenal kamu lebih dulu tak bisa membuat ruang di hati kamu. Maaf, aku tidak mau menyakitimu lagi, jika itu keputusan kamu. Aku terima" kata Aditya tersenyum lesu.


Tidak ada jawaban lagi Annisa membuat suasana menjadi canggung seketika. "Ya sudah, mungkin pembicaraan kita hanya sampai sini, tapi Nis, kota masih tetap berteman kan" sambung Aditya sembari berdiri.


Annisa mendongak. Seulas senyum menghiasi. Dia terima jika hanya berteman, namun tidak untuk memulai hubungan yang lebih intim seperti dulu lagi.


Aditya ikut tersenyum dan kemudian dia pamit untuk pulang. Saat di balik pintu dia berhenti. Aditya menghela nafas panjang sebelum dia memulai kembali langkah nya.


Menguatkan hati bahwa dia kini tak ada harapan lagi untuk bisa kembali bersama Annisa. Namun hati nya sudah sedikit merasa lega dengan jawaban Annisa tadi, paling tidak dia sudah membekali diri nya untuk tidak berharap lagi.


🕳️🕳️🕳️🕳️


"Bunda!" seru Syifa mengagetkan sang Bunda dengan memeluk nya dari belakang, membuat dia tersadar dari lamunannya.


"Sayang, kamu ngagetin!" kesal Annisa.

__ADS_1


"Lagian Bunda di panggil dari depan tapi nggak menyahuti makanya aku kesini, pas manggil lagi nggak nyaut--nyaut juga" jelas Asyifa.


"Lagi mikirin apa sih Bun?" tanya Syifa kemudian.


"Nggak mikirin apapun kok" Annisa menjawab dengan tersenyum.


Asyifa memicingkan mata curiga. "Bunda nggak lagi bohong kan?" tuduh Syifa.


Annisa tersenyum. "Nggak sayang, Bunda cuma lagi banyak pikiran saja" jawab nya mengelus pipi putri nya dengan sayang.


"Ada apa sih Bun, kalau ada apa-apa cerita sama aku jangan di simpan sendiri. Memang Bunda nggak percaya sama aku?" tanya Syifa dengan sendu.


"Bukannya Bunda nggak mau cerita, tapi Bunda beneran nggak ada apa-apa kok, ca capek saja" ujar nya.


"Ya sudah kalau Bunda capek, mending Bunda istirahat nanti Syifa yang masak" ujar Syifa mengajukan diri.


"Nggak deh makasih, ntar yang ada dapur Bunda kamu hancurin lagi" ledek Annisa sembari terkekeh karena mengingat saat putri nya itu mengacaukan dapur di saat mendapatkan tugas membuat kue dari sekolah nya saat SMA.


"Iihh, Bunda" rengek Asyifa membuat wanita itu tertawa.


Nenek Syifa menghampiri dua orang beda usia itu. "Lagi pada ngapain sih, seru banget kayak nya?" tanya nya penasaran.


"Itu loh Bu, kita lagi bahas Syifa waktu di suruh bikin kue malah dapur yang jadi korban" jawab Annisa masih dengan kekehan nya.


Pernyataan Annisa sontak membuat sang Nenek tertawa. Betapa lucu nya saat cucu nya itu memasak.


"Itu sih, kejadian langka banget, sampai dia nggak mau masuk sekolah sehari karena takut gara-gara nggak jadi kue nya kan" Nenek tertawa hingga hampir menangis. " Iya bener" tambah Annisa.


"Ih, kalian mah gitu!" kesal Syifa dengan memanyunkan bibirnya. Dari arah pintu Malik yang mendengar tawa mereka pun menghampiri.


"Ada apaan nih, rame banget?" tanya nya tersenyum.


Mereka menoleh. "Oh ini, Syifa, em,,,em," ucapan Annisa terpotong karena mulutnya di bekap oleh putri nya.


"Syifa, lepaskan" perintah Malik lembut dan Asyifa melepaskan bekapan nya pada sang Bunda.


Annisa bukannya marah tapi malah terkekeh. Lucu sekali putri nya ini. Nampaknya dia sudah tidak khawatir lagi, dia sudah merasa lega karena putri nya sekarang sudah menurut dengan suami nya. Itu berarti dia sudah mulai menerima Malik sebagai suami nya.


Akhirnya masa itu telah datang. Masa dimana putrinya melepaskan rasa sakit di dalam hati nya, masa yang kembali di cintai, rasa terlindungi dan juga dia telah membuka hati nya itu untuk menerima hadir nya Malik yang kini menjadi suami nya.

__ADS_1


Malik merangkul pundak sang istri. Syifa melipat kedua tangannya di atas perut dengan masih memanyunkan bibirnya lucu.


"Sudah-sudah, ayo kita ke meja makan. Keburu dingin" lerai Annisa.


Mereka pun menghampiri meja makan yang sudah ada Amier di sana untuk makan malam bersama.


💢💢💢💢


Hari demi hari,minggu demi minggu, dan bulan demi bulan, kini usia pernikahan Asyifa dan Malik sudah memasuki usia lima bulan. Dan hari ini juga adalah hari dimana pernikahan Reyyan dan Adelia akan di langsungkan.


Malik sedari tadi berada di depan pintu kamar mandi menunggu sang istri yang tak kunjung keluar. "Yang, masih lama Yang?" seru nya namun tidak ada jawaban dari Syifa.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Syifa sedari tadi mondar-mandir dan bolak-balik melihat benda yang ada di tangan nya yang tak kunjung menampakkan hasil.


Syifa geram dengan teriakan suami nya itu. Karena kegeramannya, dia meletakkan begitu saja di atas meja porselen benda yang ada di tangan nya itu.


Dia keluar, dan Malik yang sudah di depan nya. "Nggak bisa sabar sih" kesal nya.


"Sudah telat banget ini sayang, nanti di sana saja lanjutin yah" usul Malik. Entah mengapa perkataan Malik membuat wanita itu tertawa.


"Kamu kenapa tertawa?" tanya Malik heran. "Kamu lagian ada-ada saja, apa yang mau di lanjutin di sana coba" Asyifa terkekeh.


Malik tersenyum manis. "Manis banget sih kamu sayang" ujar Malik. Dia merangkul sang istri. "Ayo" ajak nya dan di angguki Asyifa.


Mereka pun berangkat menuju ke kediaman keluarga Al-Husein.


Sesampainya di sana, orang-orang di rumah besar itu sudah bersiap dan hanya menunggu kedua pasangan itu.


"Akhirnya kalian dateng" sambut Vita. "Kalian tau, orang yang sedang di pojok sana?" tanya wanita itu dengan menunjuk ke arah Reyyan yang berdiri bersandar di salah satu tiang dengan ekspresi yang gugup.


"Dia sedari tadi cemas nya minta ampun karena kalian belum dateng juga" ucap Vita bernada meledek.


Malik dan juga Asyifa tertawa pelan, Malik menghampiri teman sekaligus ipar nya itu. "Nervous nggak bro?" tanya Malik sang ipar yang melihat Reyyan begitu gusar.


Reyyan menoleh, pemuda yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu meringis. " Gugup banget aku bro" aku nya.


SELALU TINGGALKAN JEJAK YAH MAN-TEMAN.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.

__ADS_1


__ADS_2