
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Aku tau Kamu belum bisa menerima Aku sebagai suami Kamu." Aditya memulai kembali ucapan nya.
"Aku tidak berharap Kamu akan mencintai Aku lagi seperti dulu lagi, mungkin. Aku bersanding bersama Kamu saja sudah bahagia."
"Jangan memaksakan diri untuk menyukai ataupun mencintai Aku. Aku tau cinta Kamu sekarang sudah milik dia. Aku tau tidak ada lagi harapan untuk Aku."
"Kamu boleh kok menyimpan nama dan juga cinta nya di hati Kamu untuk selamanya. Aku hanya ingin membahagiakan Kamu saja Nis, Aku ingin menebus semua kesalahanku dan juga memberikan apa yang tidak Aku berikan sebelum nya." Aditya mengutarakan isi hatinya panjang lebar.
"Dan juga, Aku ingin memenuhi keinginan terakhir dari yasmin. Hanya itu, karena sebelumnya yasmin sudah mengatakan hal ini kepada Aku. Dan Aku tau penyakit yasmin."
Mendengar ucapan Aditya, Annisa menoleh.
Aditya merasa di tatap pun ikut menatap nya dan tersenyum.
"Aku tidak akan memaksa Kamu. Jadi Kamu tidak usah merasa bersalah. Kita bisa menjadi teman seperti biasanya, hanya status Kita saja yang berbeda." Aditya kembali tersenyum.
"Kau yakin tidak akan menuntut lebih dari sekedar teman?" tanya Annisa. Aditya mengangguk pasti.
Annisa tersenyum. Pada akhirnya dia bisa menyimpan cinta nya hanya untuk Zidan seorang. Tak ada lagi rasa khawatir di hati Annisa, karena dia tau Aditya sangat memegang kata-kata nya.
Malam itu di habiskan mereka untuk mengobrol layaknya seperti teman. Tak ada lagi kecanggungan seperti seminggu terakhir ini.
💢💢💢💢
"Bunda Aku mau roti nya," pinta Salman.
"Aku juga mau." Salim menimpali.
"Aku duluan!"
"Aku duluan!"
"Kan lebih dulu Aku yang minta!"
"Kan sama saja!"
Itu adalah salah satu perdebatan kecil yang terjadi hampir setiap hari jika di meja makan. Dari keinginan sampai dengan adu argument.
Asyifa menggelengkan kepala-nya. Kemudian Asyifa menghampiri mereka dengan membawa empat potong roti sandwich, yang di bagi rata.
"Sudah ribut nya?" tanya Syifa dan mendudukkan dirinya di kursi depan mereka setelah memberikan sandwich dan susu.
Mereka terdiam, mereka suka sekali lupa jika sang bunda tidak suka dengan keributan.
__ADS_1
"Maafin Kita Bun?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Makan sekarang," ucap lembut Syifa.
Meskipun Asyifa tak bnyak berbicara atau bisa di bilang mengomel, tapi kedua putra nya begitu mengerti apa yang tidak di sukai oleh sang bunda.
Tentu nya, peran sang ayah sangat berpengaruh di sini. Dia selalu menasehati dan memberikan pengertian apa yang tidak di sukai bunda mereka.
Meskipun mereka suka lupa dengan apa yang di-nasehat-kan oleh sang ayah, dan kerap-kali bertengkar meskipun oleh hal-hal yang kecil seperti saat ini misalnya.
Namun jika di luar rumah, mereka selalu kompak apalagi dengan kenakalan dan mengerjai orang. Terkadang juga Asyifa menggelengkan kepala tidak percaya dengan putranya itu.
Kenakalan nya mirip sekali dengan dirinya dan juga sama adik Amier.
Dia terkadang juga tertawa sendiri, seperti inikah orang-orang jika terkena dampak dari kejahilannya dulu. Sungguh hal yang begitu membuat orang marah, mungkin?.
Namun dibalik itu semua, Asyifa begitu bersyukur mempunyai dua putra yang begitu pengertian. Tidak susah untuk mengajari mereka.
Mereka yang mempunyai bakat yang berbeda membuat Asyifa dan juga Malik berbagai tugas. Salim yang sangat gemar di dunia otomotif, dan juga Salman yang sangat gemar di dunia per-bola-an.
Malik turun keluar dari kamar. dia menghampiri mereka dan mencium kening sang istri dan kedua putranya secara bergantian. Kemudian dia duduk di samping sang istri.
"Jadi Kalian mau berangkat naik apa?" tanya Malik.
"Aku mau pakai motor aja yah!" jawab Salim
Malik melirik Asyifa yang sedang sibuk mengunyah rotinya, Asyifa yang merasa ditatap pun menengok dan Malik memberi kode dengan mengangkat dagunya menunjuk kedua putranya.
Asyifa mengalihkan pandangan nya kepada kedua putranya yang dengan tatapan begitu menggemaskan, Asyifa menghela nafas pelan.
"Baiklah! Kali ini pakai motor," ucap Asyifa.
Pernyataan bunda mereka itu membuat kedua si kembar girangnya bukan main, karena baru kali ini mereka disetujui menggunakan motor.
"Yee! Terima kasih Bunda!" keduanya turun dari kursi nya dan menghampiri sang bunda memeluk kedua tangan Asyifa kanan dan kiri.
Malik terkekeh melihat kelucuan mereka.
"Iya! Iya! Sekarang duduk kembali dan makan sarapan Kalian," ujar Asyifa.
Salman dan Salim pun kembali duduk di tempat nya semula dan mulai menghabiskan makanan mereka dengan semangat.
...........................
Mereka menggunakan kedua motor mereka dengan masing-masing membawa putra mereka dengan posisi Malik bersama Salim dan Asyifa bersama Salman
__ADS_1
"Sudah siap semua?" tanya Malik dan dijawab dengan gembira kedua putra nya.
Mereka pun melajukan motor mereka menuju tempat sekolah putra kembar mereka.
Si kembar begitu sangat senang karena baru kali ini menaiki motor untuk berangkat ke sekolah, karena Asyifa tidak mengizinkan mereka menggunakan motor seperti hari ini.
Hanya menggunakan mobil dan di antar oleh Bunda mereka.
Setelah sampai, mereka turun dan menyalimi orang tua mereka.
"Jadi, Kita mau kencan kemana?" tanya Malik mengerlingkan mata nya.
Asyifa terkekeh. "Benar Kita akan kencan hari ini?" tanya Asyifa memastikan.
"Tentu saja. Aku akan menuruti apa yang ingin Kamu datangi." Malik berseru yakin.
"Baik lah, Aku mau Kita ke suatu tempat yang pernah Kamu janjikan." Asyifa mengucapkan setelah memikirkan nya.
Malik mengernyitkan dahi nya. "Iya kah?" tanya Malik.
"Mas inget waktu Mas nge-janjiin Aku mau bawa Aku ke tempat yang sangat indah? Dan saat itu kebetulan Aku lagi hamil, dan Kamu melarang Aku kesana." tanya Asyifa mengingatkan.
Malik sedikit berfikir, "Oh! Aku inget. Baiklah kalau Sayang mau kesana, Aku dengan senang hati mengantar." Ucap Malik setelah ingat.
Asyifa tersenyum senang. Dan mereka pun melanjutkan motor mereka dengan sedikit pelan. Karena tempat itu tidak terlalu jauh dari sekolah putra mereka, maka tidak lama untuk menempuh perjalanan nya.
Dan di sini lah mereka, di tempat yang begitu asri dan di sini juga Malik dapat berfikir jernih saat ada masalah yang terjadi.
"Ini sih, Aku pernah kesini sewaktu sama Reyyan. Dan memang sangat indah." Asyifa memberi tau.
"Iya kah? Yah! Nggak jadi surprise dong kalau begini." Malik sedikit cemberut.
Asyifa yang melihat Malik sedikit kecewa pun tersenyum. "Tapi tak apa, Aku punya hal yang bisa buat ini jadi lebih indah." Kata Asyifa.
"Lebih indah?" tanya Malik bingung.
Asyifa mengangguk dan mengeluarkan ponsel nya dan mulai menyalakan musik. Tangan nya kemudian terulur setelah meletakkan ponsel nya. "Mumpung sepi," ucap Asyifa.
Malik tersenyum. "Oh tidak begitu aturan nya." Malik mematikan ponsel sang istri dan menyalakan musik dari ponsel nya.
"Kok begitu?" bingung Asyifa. Malik mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Asyifa yang tersenyum. Dia tau apa maksud nya, sang suami memang sangat mengerti.
Jadi lah mereka menari bersama layak nya sepasang penari profesional meski tidak terlalu profesional di atas bukit yang sangat jarang banyak orang lewati itu.
Tak henti-henti nya Asyifa tertawa mendengar kekonyolan sang suami.
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGAN KALIAN YAH🤭🤭🤭❣️❣️❣️❣️❣️