
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Acara tengah selesai, dan mereka pulang ke rumah masing-masing. Asyifa kini sudah tidak tinggal di rumah Bunda nya, dia kini pulang ke rumah nya sendiri.
Sedari mereka masuk ke dalam mobil, Malik enggan melepaskan genggaman tangan nya pada Asyifa. Hanya sewaktu mengoper gigi mobil saja.
Baby twin 'S' tengah tertidur pulas di jok belakang khusus untuk bayi. Malik berulang kali mencium punggung tangan Syifa.
"Memang nya harus seperti itu yah Mas?" tanya Asyifa terkekeh geli. "Apa nya?" tanya Malik. "Cium-cium tangan aku terus seperti ini?" sambung nya.
"Nggak apa-apa dong, lagi pula hal ini bisa buat kita semakin romantis." Malik menyengir polos.
"Terserah kamu Mas," pasrah Syifa. Dia menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata nya sejenak.
"Capek?" tanya Malik tanpa menoleh. Asyifa membuka mata nya kembali dan menoleh. "Lumayan," tutur nya.
"Nanti jatah aku gimana dong?" tanya Malik melas. "Besok saja lah," jawab nya asal.
"Bener nih yah!" girang Malik. "Iya kalau nggak lupa," Syifa menyengir polos. Malik memajukan bibirnya lucu membuat Asyifa terkekeh.
💢💢💢💢
"Anak Bunda nanti kalau sudah besar mau jadi apa?" tanya Asyifa kepada kedua putra nya.
Baby twis 'S' hanya tertawa girang karena Asyifa sembari menggelitik kedua nya.
"Bagaimana kalau jadi dokter saja sama kayak Opa Raka, atau jadi pilot juga boleh, eh tapi jangan deh, nanti nggak pulang-pulang lagi. Bunda nanti kangen. Jadi pengusaha saja bagaimana?" monolog Syifa sembari mengetuk-ngetukan jari telunjuk pada dagu nya.
Baby twin 'S' hanya tertawa mendengar celotehan Syifa yang mungkin menurut mereka begitu lucu.
Malik yang baru saja keluar dari kamar mandi itu tertawa pelan dan mendekati mereka. Dia ikut duduk di samping kedua bayi nya dan mengusap lembut pipi kedua putra nya.
"Jangan menaruh harapan besar pada tunas yang baru tumbuh. Biarkan mereka tumbuh dan menjadi apa yang mereka inginkan. Tugas kita mengarahkan supaya tidak salah jalan." Malik menasehati.
Asyifa menyengir polos. "Iya kan cuma main-main saja Mas, aku nanti nggak maksain mau jadi apa kedua nya. Yang penting tidak salah jalan," ujar Asyifa.
__ADS_1
"Dan satu lagi Yang, bekali mereka dengan ilmu akhirat itu paling penting." Malik menyambung nasihat nya.
"Uluh ,,, uluh, Ayah bijak banget sih," puji Asyifa. Malik tersenyum manis.
"Dan itu tugas kamu sayang," Malik menambahkan. "Siap komandan!" ujar Syifa memberi hormat. Malik tertawa pelan. "Tapi itu tugas aku juga," sambung nya.
Mereka saling memandang satu sama lain. Ocehan dari kedua putra nya itu mengalihkan pandangan mereka. Mereka menghabiskan waktu pagi mereka dengan bercanda gurau.
💢💢💢💢
Bima hari ini sudah kembali masuk kantor seperti biasa nya. Semua memandang wajah Bima dengan sedikit heran. Pasal nya, bos mereka itu seperti kehilangan semangat tidak ada rona cerah seperti pengantin baru pada umumnya.
Bima yang biasa nya sedikit ramah pada bawahan nya itu, kini wajah nya berubah menjadi sangat dingin. Karyawan Bima jadi merinding ngeri.
Bima mendudukkan dirinya di sofa dan memijit pelipisnya pusing. "Kenapa pula aku jadi kekanakan begitu ya ampun," gumam Bima.
"Masuk!" seru Bima saat terdengar suara ketukan pintu.
"Hoho! pengantin baru sudah masuk saja nih?" seru Reyyan.
"Memang kenapa?" tanya nya. "Ya aneh lah. Di mana-mana kalau pengantin baru itu di rumah mesra-mesraan sama istri. Lah kamu sudah masuk kerja saja itu apa maksud nya apa?" Reyyan mengucapkan nya dengan nada meledek.
"Bingung kenapa?" Reyyan bertanya dengan penasaran sampai dirinya mencondongkan tubuhnya.
Bima berfikir bagaimana dia menjelaskan nya. Reyyan menaikkan alisnya menunggu.
Bima mencondongkan tubuhnya dan mengubah wajah nya menjadi serius. "Jadi gini," Bima mulai bercerita.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Malam setelah berakhirnya pesta resepsi pernikahan Bima dan Nazira, Bima membawa Nazira ke apartemen pribadi nya. Dia membawa Nazira sendiri tidak dengan Chacha.
Chacha di bawa oleh Mama dan Papa nya ikut ke rumah utama. Nazira begitu gelisah dengan keadaan Chacha.
Sebelum dia meninggalkan Chacha dan ikut sang suami, Chacha terlihat demam. Suhu tubuh Chacha yang selalu naik turun membuat nya begitu khawatir.
__ADS_1
Berulang kali dia menghela nafas berat. Bima menoleh dan mengusap pipi istrinya itu lembut.
"Chacha tidak akan kenapa-napa, dia di tangan yang aman. Kamu tenang yah?" ujar Bima mencoba menenangkan.
"Tapi aku nggak bisa tenang kalau tidak melihat nya Dad." Nazira mengeluh.
"Ya mau bagaimana sayang, kita baru saja menikah loh. Masa Chacha ikut kita sih?" ucap Bima.
Tidak ada emosi dalam nada pengucapan nya, tapi entah mengapa hal itu membuat Nazira begitu kesal.
"Kamu niat nikahin aku itu karena apa? kamu kalau nggak bisa menerima Chacha jadi anak kamu. Itu bilang dari awal! jadi kita nggak sampai kayak gini!" kesal Nazira.
Bima jadi kelabakan melihat kesal nya sang istri. Dia salah apa?. Dia menepikan mobilnya dan memiringkan tubuhnya. "Bu ,,, bukan itu maksud aku sayang, tapi, " ucapan nya terjeda melihat Nazira yang membuang wajah nya. Setetes air mata nya keluar dan dengan cepat dia mengusap nya.
Bima belum pernah melihat istrinya itu menangis. Dia wanita yang kuat. Tapi mengapa dia meneteskan air mata nya sekarang hanya karena tidak melihat putri nya.
Bima menghela nafas lelah. "Oke, aku minta maaf yah, aku salah oke aku salah," mohon Bima. "Jadi mau kamu apa sekarang Yang?" sambung nya lagi.
"Balik lagi ke rumah sekarang." Nazira menjawab. Bima ingin menjawab, tapi melihat mata yang lelah istri nya membuat nya menahan diri untuk berdebat dan juga menahan diri untuk hal yang lain.
"Oke kita balik sekarang yah," ujar nya.
Perjalanan di iringi dengan keheningan. Tidak ada lagi ada kata yang terucap dari masing-masing mereka. Hingga sesampainya mereka di halaman rumah utama, Nazira langsung melepaskan seatbelt nya dan keluar.
Bima menatap punggung Nazira yang semakin tak terlihat karena berlari. Pemuda itu ikut keluar dan masuk menyusul istri nya.
Mama dan Papa Bima sempat kaget dengan kehadiran Nazira. Tapi Bima memberi kode untuk tidak ikut berbicara atau menanyakan apapun.
Dan benar saja, Chacha yang berada di kamar tamu itu sedang dalam keadaan demam. Nazira merasa sangat bersalah akan hal itu.
"Maafin Ibu ya sayang," sendu Nazira mengusap sayang kening Chacha yang panas itu.
Bima memerhatikan dari ambang pintu bersama kedua orang tua nya. "Ada apa?" bisik Mama.
"Nggak ada apa-apa Mah, cuma dia khawatir saja. Mama nggak usah khawatir dan istirahat saja yah." Bima tersenyum. Karena sang Mama begitu percaya dengan putra semata wayangnya itu, jadi mereka menurut saja dan kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
🕳️🕳️🕳️🕳️
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😆😆.