
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Bian dan Amier mendongak melihat Malik yang di atas pohon karena tidak berani untuk turun. Mereka cekikikan saja melihat ekspresi ketakutan dari wajah tampan Malik.
🕳️🕳️🕳️🕳️
"Kakak kalau mau ketemu sama kakak Syifa harus ikuti kemauan kita dulu" ucap Bian.
"Kemauan apaan?" tanya nya penasaran.
"Kakak harus naik pohon di samping itu dan ngambil mangga yang udah matang itu" ucap nya menunjuk pohon mangga yang berada di dekat rumah.
"Itu dek?" tunjuk nya dan di angguki oleh Mereka.
"Tapi tinggi banget itu loh dek" ngeri Malik.
"Ceh... Gitu doang nyerah. Gak gentle banget tau nggak" cibir Amier.
Malik menimbang apa yang di ucapkan bocah itu yang belum dia ketahui siapa nama nya.
Dia memejamkan mata nya dan mengangguk saja karena nggak mau di bilang 'nggak gentle'.
Akhirnya dia memanjat pohon yang lumayan tinggi itu.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Dan disini lah dia menggantung tidak bisa turun dan tak bisa naik pula karena takut lebih tidak bisa turun dan jatuh. Ya ampun, mana tadi yang kata nya bisa mengambil mangga di atas pohon?.
Mangga nya saja belum dapat, ini nggak bisa turun pula. Haduh....Kacau nih urusan.
"Kakak kalau nggak bisa, nggak usah di paksain dah, ntar jatuh kita juga yang repot" cibir Amier yang membuat Bian tertawa geli.
Malik menggeram kesal, siapa tadi yang meledek tidak gentle bila tidak naik!. Bodoh nya dia mau saja di kerjain dua kurcil itu.
Sudah lebih dari setengah jam dia di atas tanpa bergerak sedikit pun.
Suara motor berhenti membuat Malik bernafas lega, 'bantuan dateng' pikir nya.
Reyyan datang dengan Syifa. Dia mendengar temannya itu berteriak meminta tolong.
Reyyan bersama Syifa menghampiri dan melihat pemandangan yang begitu membuat orang yang melihat nya bisa sakit perut karena tertawa.
"Woi bro. Ngapain nangkring di situ, kencannya nanti malem saja, sekarang mba kunti nya lagi neduh dulu di makam" ledek Reyyan yang melihat teman nya itu tidak bisa turun dan dia terkekeh geli.
Malik menatap tajam ke arah temannya itu. Amier dan Bian bertambah tertawa mendengar ucapan Reyyan yang menurut mereka begitu lucu.
__ADS_1
Malik menengok ke Asyifa, menatap nya dengan mata yang memelas. Asyifa menghela nafas lelah. Dia pergi mengambil tangga untuk Malik turun.
"Makasih Syifa" ujar Malik setelah mendarat di bawah dengan tersenyum.
Asyifa tidak menggubris dan melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti Amier dan Bian.
"Cemen!" cibir Bian dan juga Amier yang belum jauh pergi dari sana.
Reyyan melihat temannya itu murung jadi terkekeh.
"Sudah lah bro, usaha nya nanti lagi mending kita masuk. Kayaknya kamu butuh cairan lebih" kata Reyyan dengan nada meledek.
Malik pasrah saja mendengar ledekan Reyyan.
💢💢💢💢
Asyifa sedang menyiapkan makanan untuk ke dua adik nya dan juga untuk kedua pemuda itu juga.
Malik mengikuti arah gerak Asyifa yang sedang sibuk menata piring di atas meja. Yang di lihatin hanya cuek tak menanggapi.
Reyyan menatap lekat temannya itu, sedikit senyuman terukir, ntah apa yang dia senyum kan hanya dia saja yang tahu.
"Makan yang banyak ya" ujar Syifa kepada kedua adik nya dan di angguki oleh mereka.
"Makasih Syifa" ucap kedua pemuda itu hampir bersamaan, Syifa mengangguk mengiyakan.
"Wa'alaikumusalam " jawab mereka kompak.
"Lagi pada makan ya" sapa Annisa melihat mereka yang sedang makan di dapur dan menghampiri mereka.
"Tante makan juga yuk" ajak Reyyan.
"Iya nanti Tante ke kamar dulu mau bersih-bersih" ucap nya.
"Oh iya, ini siapa?" tanya Annisa menunjuk pada Malik.
"Saya Malik Tante, teman Reyyan sama Asyifa" sapa Malik dengan ramah, Annisa mengangguk dan tersenyum penuh arti.
"Reyyan doang bukan aku" saut Asyifa membuat Malik cemberut.
"Pfftt....." semua menahan tawa melihat ekspresi wajah tampan Malik. Namun tidak demikian dengan Asyifa, ekspresi nya seperti biasa nya ' datar ' .
Annisa tersenyum, jadi ini yang nama nya Malik, batin nya.
💢💢💢💢
__ADS_1
"Bian cepetan, Kakak bakalan telat kalau nungguin kamu nih" Asyifa mengomel dari ambang pintu kamar yang di tempati Bian dan juga Amier.
"Sebentar Kak, sepatu aku di umpetin sama Amier" ujar nya dengan wajah yang begitu kesal.
"Amier....Kembalikan sepatu aku, kamu ngumpetin nya dimana sih?!" geram Bian.
Saat ini Amier sedang di kamar mandi, tapi sedari tadi tidak keluar keluar padahal sudah selesai mandinya. Dia seakan sengaja menyembunyikan dirinya, dasar jahil.
Asyifa menatap ke arah kamar mandi yang menjadi tempat persembunyian Amier. Dia melangkah mendekati dan membuka pintu kamar mandi.
Tok..tok..tok...
"Amier kalau kamu nggak keluar sekarang, Kakak jamin kamu nggak akan keluar sampai sore!" ancam Asyifa.
1.…2...3...
Dalam hitungan ke tiga, Amier sudah keluar dengan menunduk karena takut dengan ekspresi dingin sang Kakak, Dia memang takut dengan Kakak nya yang menatap nya dingin, tapi selalu saja dia mengulangi perbuatannya.
"Tunjukkan dimana sepatu Bian, Kakak keburu telat" ucap nya dingin.
Amier masih menunduk dan menunjukan lemari tempat dimana dia menyembunyikan sepatu Bian.
Bian dengan segera mengambil dan memakai nya. Mereka keluar meninggalkan Amier yang akan bersiap untuk sekolah. Namun sebelum Bian benar-benar hilang di balik pintu, dia menengok ke belakang dan menjulurkan lidahnya meledek.
Amier menjadi kesal. Dia seperti tidak di sayang saja sama Kakaknya sendiri.
Setelah Amier bersiap, dia turun dari kamar nya dan ikut sarapan. Bian dan juga Asyifa sudah lebih dulu berangkat. Annisa melihat putra bungsu nya menekuk wajah nya seperti itu jadi penasaran.
"Ganteng nya Bunda kenapa, hum?" Annisa memegang dagu putranya itu.
"Amier kesel sama Kakak!, Kakak selalu saja membela Kak Bian" ucap nya membuat Annisa mengerutkan alisnya.
"Kok ngomong nya begitu?, memang Amier buat masalah apa sih?" tanya Bunda nya lembut.
"Masa aku di diemin Kakak Bun, dia lebih sayang sama Kak Bian dari pada sama aku" seru nya kesal.
Annisa membuang nafas lelah. " Amier, Kakak begitu itu karena kamu salah nak, kamu jahil sekali sama Kakak kamu Bian, kalian itu saudara sayang, meski Kak Bian bukan lahir dari rahim Bunda, tapi kan dia anak dari Ayah nya Kakak Syifa" Annisa memberikan pengertian.
"Jadi kalian tetap saudara. Dan saudara itu tidak boleh saling membenci, oke" sambung nya.
Amier diam saja dengan perkataan sang Bunda. Amier memang anak yang cemburuan. Jadi Annisa harus pintar-pintar memberikan dia pengertian.
Namun Amier anak yang dapat mengerti bila di beri penjelasan seperti sekarang ini. Dia mencerna setiap perkataan Bunda nya.
Mempunyai anak yang berbeda karakter itu harus bisa pintar menghadapi nya. Karena bila salah. akan ada keributan di dalam nya.
__ADS_1
VOTE NYA DONG YANG PUNYA POIN BANYAK BAGI-BAGI 🤗 DAN JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN KOMEN DAN LIKE YAH...
TERIMA KASIH 😊.