Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
77.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


"Chacha kangen sama Om tampan!" ujar Chacha manja. Bima tersenyum, " Om juga kangen sama Chacha, Chacha sehat kan?" tanya nya kemudian.


"Sehat Om," jawab nya, dia melirik ke arah Salman yang ada di gendongan Ayah nya. "Tante cantik! itu anak Tante cantik yah?!" seru Chacha semangat.


Asyifa tersenyum dan mengangguk. "Chacha mau punya Adik kayak ini?" tanya Syifa. Chacha mengangguk polos.


"Kalau Chacha mau Adik seperti ini, Chacha minta sama Om tampan dan Ibu yah, tapi mereka harus menikah dulu," ucap Syifa menggoda Nazira dan juga Bima. Chacha memiringkan kepalanya melihat wajah Bima


"Memang nya Adik bayi beli nya di mana Om?" tanya Chacha polos. Mereka yang mendengar kepolosan Chacha semakin terpingkal. Nazira yang tadi nya bersemu merah, kini terkekeh mendengar pertanyaan polos Chacha.


Dan Bima, dia mengerjap gugup harus menjawab apa pada anak sekecil Chacha. Walaupun di jelaskan pun dia tidak akan mengerti dunia orang dewasa.


"Pokok nya, Chacha bantuin Om tampan yah, biar Ibu mau menikah sama Om tampan." Asyifa makin semangat untuk menggoda mereka berdua.


"Sudah Yang, lihat tuh, wajah mereka sudah merah begitu." Malik mengingat kan. Hal itu malah membuat Asyifa dan yang lain nya semakin menggoda mereka.


Annisa menghampiri mereka dengan membawa Salim di gendongan nya. "Sayang, anak kamu seperti nya lapar?" ujar Annisa kepada putri nya. Asyifa berdiri dan mengambil alih sang putra.


"Terimakasih Bunda," ucap Asyifa dan Annisa mengangguk. Asyifa pamit kepada yang lain untuk memberikan ASI pada buah hati nya.


"Bunda, aku ikut!" panggil Malik menirukan suara anak kecil. Malik bangkit dari duduknya dan mengejar Syifa.


"Yang jomblo jangan sirik yah!" seru Malik sebelum pergi. Bima melempar kue kering yang ada di atas meja. Namun bukannya mengenai Malik, malah Danish yang terkena lemparan Bima.


Malik semakin tertawa dan di ikuti yang lain nya. "Aku salah apa Bro?" tanya Danish sembari duduk di depan Bima.


"Saudara kamu tuh!" kesal Bima. Danish mengernyit bingung. "Sudah lah, maka nya cepat-cepat dan kamu juga Dan," saut Reyyan.


Danish menempatkan kembali gelas yang ada di tangan nya. "Aku kenapa?" tanya nya polos.

__ADS_1


"Cepat nyusul kita Dan, jangan kelamaan jomblo nya!" Reyyan ikut kesal.


"Oh! itu sih aku nyantai saja lah, aku masih ingin menikmati masa lajang ku."Danish menjawab. Reyyan menggeleng saja.


💢💢💢💢


Acara aqiqah di laksanakan dengan lancar dan juga penuh kebahagiaan. Tak sedikit pula orang yang datang ikut serta dalam kebahagiaan mereka.


"Capek yah Yang?" tanya Malik yang duduk di pinggir ranjang. Asyifa kini sedang menidurkan kedua bayi nya.


Asyifa melirik dan tersenyum. "Lumayan," jawab nya singkat. Malik menyila kan kaki nya dan mengangkat kedua kaki sang istri di atas pangkuan nya. Asyifa sempat kaget, namun hal itu tak berlangsung lama dan dia merebahkan diri nya lagi.


Karena nyaman nya di pijat oleh sang suami, akhir nya ibu dua anak itu menutup mata nya dan berkelana di dunia mimpi.


Malik menghentikan pijatan nya dan meletakkan kaki istri nya itu di atas tempat tidur kembali, kemudian dia menyelimuti tubuh nya dan mengecup kening, pipi, dan bibir sang istri. Kebiasaan ini memang sudah dia lakukan sejak hubungan nya dengan sang istri itu membaik.


Setelah mencium kening Syifa dan kedua anaknya, dia memandangi wajah lelah sang istri dan tersenyum. "Terimakasih atas segala nya sayang," ucap Malik sebelum beranjak dari kamar nya.


Mereka mengangguk mengiyakan. "Nggak bisa lama-lama yah Bro. Kasian jagoan aku nanti," ujar Reyyan dan menyalami Malik.


"Aku juga mau mengantar Nazira dan juga Chacha, kasian Chacha sudah ngantuk banget kayak nya." Bima ikut menyauti.


"Ehem! kasian sama Chacha apa modus nih?" ledek Malik. Hal itu mendapatkan pelototan dari Bima. "Sudah lah! aku lama-lama bisa stress kalau sama kamu!" kesal Bima.


Malik terkekeh, "Ya sudah hati-hati dan terimakasih semuanya?" ucap Malik tulus.


Mereka satu persatu pulang ke kediaman masing-masing.


Aditya menghampiri sang menantu dan menepuk pundak nya. "Ayah pulang dulu yah, jaga baik-baik putri Ayah dan cucu-cucu Ayah!" pamit Aditya dan sedikit memperingati.


"Ayah tenang saja, Malik akan selalu jadi suami yang siap sedia setiap waktu!" ujar Malik tersenyum.

__ADS_1


Aditya sedikit terhenyak dengan ucapan Malik. Meskipun tidak berniat untuk menyinggung hal yang terjadi di masa lampau, namun tetap hal itu menjadi sebuah pukulan bagi Aditya.


Aditya tersenyum meski sedikit canggung. "Ya sudah Ayah pulang dulu yah, salam untuk putri Ayah." Malik mengangguk mengiyakan.


Aditya menepuk pundak menantu nya sebelum pergi keluar, "aku pamit dulu yah Kak, salam juga buat Kak Syifa." Bian berpamitan juga dan mengikuti sang Ayah yang sudah lebih dulu keluar.


💢💢💢💢


Pagi hari, Malik lebih dulu terbangun dari Asyifa. Dia menghampiri istri nya dan mencium kening nya. Kemudian beralih ke kedua putra nya. Dia tersenyum dan berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


Malik sudah dengan celemek nya dan menyibukkan diri di dapur sang mertua. Annisa yang terbangun dan masuk ke dapur sedikit terkejut.


"Malik?" sapa Annisa pada menantu nya. Dia menghampiri dan duduk di kursi depan Malik memasak. Malik mendongak dan tersenyum kemudian dia menyapa kembali. "Sudah bangun saja, kamu istirahat saja, pasti kan capek kemarin." Annisa mengingat kan.


"Yang harus nya istirahat itu Bunda, aku nggak mau Bunda itu ikut kecapekan juga, inget yah Bun, Bunda itu sudah tidak muda lagi," ujar Malik mengingat kan.


Hal itu bukannya membuat Annisa tersanjung, malah itu membuat nya sedikit kesal. "Maksud kamu Bunda ini sudah tua?!" seru Annisa tak terima. Malik kelabakan harus menjawab apa.


"Bu,,, bukan Bun, maksud Malik itu Bunda jangan kecapean karena Malik takut kalau Bunda nanti sakit. Bukan berarti Bunda tua, walaupun kenyataannya iya, tapi kan itu nggak masalah. Bunda paling keren." Malik mencoba mencairkan.


Annisa membuang muka, Malik jadi semakin merasa bersalah. "Bunda, maafkan aku yah?" mohon Malik.


"Oke! Bunda akan memaafkan kamu tapi ada syaratnya!" ucap Annisa. Malik berbinar. "Apa itu Bun?" tanya Malik semangat.


"Bunda mau kalau Asyifa dan juga kedua putra nya tinggal di sini dalam waktu yang lama!" Annisa memberi syarat.


"Cuma itu doang Bun?" tanya Malik. Annisa mengangguk. "Ya Allah Bun, kalau itu sih aku nggak keberatan." Malik terkekeh.


Annisa tersenyum dan ber-ekpresi biasa. Meskipun di dalam hati nya bersorak kegirangan karena dia bisa lebih lama main dengan kedua cucu nya dan juga Asyifa putri nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍

__ADS_1


TINGGAL KAN JEJAK KALIAN DENGAN VOTE LIKE COMMENT NYA YAH MAN-TEMAN


__ADS_2