Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
86.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


"Assalamualaikum makmum ku?" sapa Bima setelah Nazira duduk di samping nya.


Dengan tersipu dia meraih tangan Bima yang kini sudah sah menjadi imamnya itu. "Wa'alaikumussalam imam ku?" jawab nya malu.


Bima terkekeh melihat rona merah di pipi istrinya. Istri? ya ampun, dia tidak percaya ini semua terjadi. Setelah kegagalan nya di pernikahan pertama, kini dia sudah mengubah status nya menjadi suami atau imam untuk seorang gadis yang dia kenal belum ada satu tahun itu.


Gadis yang awal nya begitu tegas dan ketus nya saat perjumpaan pertama. Awal pertemuan yang lucu dan hingga kini dia merubah status gadis itu menjadi istri nya.


Perjalanan yang begitu manis dia rasa. Kegundahan dan juga keresahan sebelum ijab qobul kini terbayar sudah dengan melihat Nazira, gadis nya yang sudah menjadi makmum nya.


"Manten baru lihat-lihatan saja terus!" ledek Malik membuyarkan pandangan mereka.


Dengan malu mereka memutuskan pandangan mereka. Bima berdehem menetralkan suara nya. "Sirik saja kamu!" saut Bima.


Malik dan juga yang lain nya tertawa kecil. "Sudahlah, kalian ini selalu saja. Kasihan pengantin baru di godain terus. Nanti bisa salah tingkah." Danish menyauti sembari tertawa.


"Ini acaranya mau di lanjutin nggak nih?" saut Reyyan setelah menghentikan tawanya.


"Lanjut dong!" semangat Bima. Hal itu mengundang gelak tawa para tamu undangan yang hadir.


Acara di lanjutkan dengan penuh khidmat dan haru. Nazira hampir saja tidak sadarkan diri saat dirinya sungkem kepada kedua orang tua Bima yang kini sudah menjadi orang tua nya juga. Hal itu membuat Bima sedikit khawatir dengan kondisi nya.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Bima khawatir. Kini dia sedang di dalam kamar yang di jadikan untuk tempat Nazira di rias.


"Apa kita tunda saja acara resepsi nya?" tanya sang Papa yang begitu khawatir dengan keadaan menantu nya.


"Nggak usah Pah. Aku sudah mendingan kok. Aku cuma ingat sama kedua orang tua aku saja." Nazira mengusap air mata nya yang terjatuh.


Pak Adnan menghampiri sang menantu dan merangkul nya dengan sayang. "Kamu nggak boleh sedih lagi. Ada Papa yang akan menggantikan posisi Ayah kamu. Dan Papa yakin jika Ayah dan Ibu kamu akan sedih melihat putrinya menangis di hari bahagia nya." Dia sejenak berhenti sebelum melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu tidak sendirian sekarang, ada Papa, Mama, dan juga ini nih! suami kamu yang tengil ini!" seru Papa. Nazira tersenyum di sela-sela tangis nya.


"Si Papa sama anak sendiri di gituin!" kesal Bima. " Memang benar kok! kamu memang tengil!" seru Papa tak mau kalah.


"Haisst! kalian sehari tidak beradu argumen bisa nggak sih! banyak orang yang melihat itu, kalian nggak malu apa?!" Mama ikut kesal.


Semua terkekeh geli melihat adegan dimana keluarga yang terpandang itu beradu argumen. "Ibu nggak boleh sedih, ada Chacha yang akan menemani Ibu sampai kapan pun!" seru Chacha dan memeluk erat Nazira.


"Nah, bener kata Chacha. Masa kalah sama Chacha sih?" ujar Bima. Dia mengelus rambut tebal Chacha yang sekarang sudah menjadi putri nya juga.


"Yang, kayak nya kita keluar dari sini saja deh Yang?" bisik Malik kepada Asyifa. Syifa mengangguk mengiyakan dan berlalu keluar.


Tapi sebelum nya, dia mencolek Bunda nya memberikan kode. Mereka keluar di ikuti Danish Reyyan dan juga Adel.


Dalam perjalanan, Reyyan begitu kasihan melihat sang istri yang terlihat begitu susah dalam berjalan. "Mau aku gendong nggak nih?" goda Reyyan pada sang istri yang seperti nya begitu susah dalam berjalan.


Usia kandungan yang menginjak usia delapan bulan membuat Adel sedikit susah untuk bergerak. Apalagi dengan kaki yang agak bengkak itu. Membuat dia terkadang sedikit meringis merasakan sakit.


"Kamu jangan meremehkan aku yah Dek! jangan kan gendong kamu dari sini sampai depan. Gendong kamu dari kebun teh sampai ke villa juga masih kuat aku! bahkan sampai ada baby kesayangan juga." Reyyan menyengir.


Dia mengingatkan kembali kejadian dimana saat bulan madu kedua nya di villa yang sama .


Adelia menganga dan melototi sang suami kesal. Dengan gemas dia pukul lengan suaminya itu membuat Reyyan meringis. "Ingat Mas, ini ada di mana!" bisik Adel kesal.


Reyyan terkekeh. "Habis nya kamu meremehkan aku banget kayak nya." Reyyan melipat kedua tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke arah depan membuat sang istri mundur selangkah.


"Inget yah Dek, pulang nanti akan aku tagih janji kamu." Reyyan tersenyum miring.


Adelia menelan ludah dengan susah. Salahkan dia karena menjanjikan hal yang di sukai bahkan sangat di sukai para suami.


"Ingat itu!" Reyyan merangkul pundak Adelia dan mengajak nya kembali berkumpul dengan yang lain nya. "Nggak bisa di undur kah?" tanya Adelia. Ada nada memohon di dalam nya.

__ADS_1


"Tidak bisa!" ketus Reyyan. "Siapa yang menyuruh mu menjanjikan itu?" Reyyan mencuit hidung mancung Adel gemas.


"Meskipun tidak di janjikan pun tetap akan minta kan?!" kesal Adel. Reyyan tertawa. "Itu beda Dek," jawab nya.


"Apa bedanya?!" tanya kesal Adel. "Ya pokoknya bedalah. Sudahlah, jangan di bahas lagi, nanti aku tidak bisa menahan nya bagaimana?" ujar Reyyan.


Adel langsung membungkam mulut nya sendiri dan tidak mengucapkan apapun lagi. Reyyan terkekeh dan mencium bibir Adelia sekilas. "Gemesin banget sih istri ku," ucap Reyyan gemas.


💢💢💢💢


"Sudah siap?" tanya Aditya pada Yasmin. Kini dia sudah di depan apartemen nya yang di tinggali oleh Yasmin.


Bian tidak bisa menjemput Mama nya karena dia sudah lebih dulu di gedung tempat di adakan nya acara resepsi pernikahan Bima dan Adelia.


Kebetulan Aditya baru saja pulang dari luar negeri menengok orang tua nya yang berada di Australia. Dan dia juga akan menghadiri resepsi pernikahan mereka karena dia juga salah satu rekan bisnis dari Pak Adnan.


Mereka masuk kedalam mobil dan memulai perjalanan mereka menuju gedung. "Apa kamu sehat?" tanya Aditya.


Yasmin mengangguk. "Aku baik Mas. Apa kabar Mama sama Papa di sana?" tanya Yasmin balik.


"Mereka cukup baik. Meskipun harus di opname untuk beberapa hari karena sakit Mama. Tapi semua sudah lebih baik." Aditya menjawab.


"Mereka kangen dengan Asyifa dan juga Bian. Tapi karena tidak memungkinkan untuk Asyifa dan Bian yang terbang ke sana, ya mereka maklumi itu," lanjut nya.


"Iya, pasti mereka kangen dengan cucu-cucu mereka." Yasmin menyauti.


"Apa tidak sebaiknya mereka tinggal di sini agar bisa bertemu mereka lebih sering Mas?" usul Yasmin.


Aditya berfikir sejenak. "Aku pernah mengatakan itu, tapi ntah lah?" pasrah Aditya.


Dan perjalanan mereka telah sampai di depan gedung tempat resepsi pernikahan di gelar.

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.


__ADS_2