
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Malik masih menggenggam tangan Syifa. Namun karena kelelahan, dia pun ikut terlelap.
Lenguhan Syifa tidak membangun kan suami nya itu hingga Syifa benar-benar membuka mata. Dia mengerutkan keningnya menahan rasa pening dan juga silau. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat sang suami yang menggenggam erat tangan nya dengan mata yang terpejam.
Syifa tersenyum lembut. Dia usap pucuk kepala nya. Malik yang merasakan usapan pun terbangun, mata nya membulat dan kemudian tersenyum bahagia.
"Kamu sudah sadar sayang", seru Malik heboh.
Dia langsung menghambur memeluk erat tubuh sang istri membuat nya memukul punggung nya minta di lepaskan. "Ma,, Malik. Kamu mau nge-bunuh aku!", kesal Syifa dengan terbata.
Malik seketika tersadar dan melepaskan pelukannya. "Sorry Yang, aku nggak sengaja", sesal Malik.
"Dasar orang jelek", gerutu Syifa.
"Sssttt,,, nggak boleh mengumpat sayang, kasian baby nya" Malik mengucapkan dengan mengusap pelan perut wanita itu.
Asyifa terpaku. Dia tak merespon Ucapan Malik. Mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dia dengar. Air mata nya mengalir begitu saja. Senyuman Malik yang begitu bahagia pun pudar menjadi kekhawatiran. Syifa kemudian teringat dengan tes kehamilan yang dia tinggalkan di dalam kamar mandi.
Dan apakah hasil nya positif?, apa dia benar sedang mengandung sekarang?, apakah sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu?. Pikiran itu terlintas di kepala Syifa dalam keterdiaman nya, hingga suara Malik suaminya membuyarkan pikiran itu.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?", tanya Malik khawatir.
Wanita itu tidak menjawab hanya tangisan yang menjadi jawabannya. "Sayang, ngomong dong kamu kenapa?", sambung nya.
"Aku nggak apa-apa, cuma aku bahagia", jawab nya mencoba untuk tersenyum sembari mengusap air mata nya yang masih saja keluar, dia beralih mengusap sayang perut nya yang masih rata itu.
Malik tersenyum kembali. "Benarkah?", Asyifa mengangguk. Malik berhambur memeluk kembali sang istri.
"Orang jelek", sewot Syifa. Malik melepaskan pelukannya dan meminta maaf.
__ADS_1
"Oke, sekarang kamu istirahat saja yah, supaya kamu cepat pulang dari Rumah Sakit", nasihat Malik dan di angguki oleh Syifa.
Syifa membaringkan tubuhnya dan di selimuti oleh Malik. Cukup lama Asyifa berbaring dan Malik mengusap sayang puncak kepala Syifa, namun Syifa tak kunjung memejamkan mata nya.
Dia terus saja membolak-balikkan tubuh nya mencari tempat yang nyaman. "Kamu kenapa sayang?", Malik bertanya. "Aku nggak apa-apa, tapi aku nggak bisa tidur, aku laper tapi nggak mau makan nasi", ujar Syifa dengan tatapan melas.
"Kamu mau nya apa?, nanti aku beliin", tanya Malik. "Nggak mau beli, aku mau nya masakan Bunda", ucap Syifa. Bukannya menjawab, Malik malah terkekeh.
"Kenapa ketawa?", tanya Syifa terheran.
"Tidak, cuma merasa luar biasa saja", jawab nya masih dengan kekehan nya.
"Luar biasa?", wanita itu mengernyit bingung.
"Iya luar biasa, itu kamu ngidam ya", ujar Malik mencuit hidung sang istri.
"Eemm, nggak tau iya kali. Pokoknya aku mau masakan Bunda", final Syifa.
"Dasar orang jelek", saut Syifa. "Eits, di larang ngomong gitu sayang, kasian baby nya", tutur Malik lembut. Syifa hanya menyengir.
Malik menelpon mertua nya meminta tolong untuk membuatkan makanan kesukaan Syifa sang istri. Sekaligus mengabarkan jika putrinya kini telah sadar. Terdengar suara bahagia di seberang sana, Annisa begitu gembira mendengar hal itu, tiga hari menurut nya adalah hari tersuram karena tak mendengar suara putri cantik nya itu.
💢💢💢💢
Di sepanjang jalan, Annisa berjalan dengan perasaan yang begitu senang. Pasal nya sang putri yang sudah tiga hari tidak dia dengar suara nya, kini sudah terbangun dari tidur panjangnya. Dia masuk kedalam kamar rawat VIP dimana sang putri di rawat. Raut wajah bahagia nya seakan tak pudar.
"Sayang", seru Bunda Annisa senang. Dia menghambur memeluk putrinya itu dengan haru. Mengabaikan sambutan menantu nya membuat Malik mendengus lucu. Syifa tertawa pelan melihat ekspresi wajah suami nya yang terabaikan.
Tidak heran dia jika Bunda nya bersikap seperti itu. Bahkan Ayah nya saja dulu pernah di abaikan hanya karena kesalahan yang tak di sengaja. Dan lebih memilih putra putri nya, sampai sampai Zidan harus memohon di maafkan karena tiga hari Bunda yang tak mau tidur satu kamar dengan Ayah nya. Dan al hasil, Zidan meminta bantuan pada putri cantik nya untuk membujuk sang Bunda. Bukan kesalahan nya sebenarnya, hanya saja karena keterlibatan sang Ayah hingga membuat Annisa menjadi kesal.
Sedikit ada drama tangisan yang menghiasi. "Bunda kangen banget sama kamu sayang, Bunda nggak mau lagi denger kamu kayak gini lagi", lirih Annisa dengan sesegukan.
__ADS_1
"Bunda jangan khawatir lagi, Syifa sekarang aman kok", Syifa mencoba menenangkan Bunda nya itu. Dia tau jika Bunda nya itu tidak bisa mendengar kabar buruk dari putra putri nya.
Lagipula, orang tua mana yang akan senang melihat anak nya sakit. Tentunya tidak ada.
Mereka melepaskan pelukannya. Annisa masih saja memandang wajah sang putri nya hingga suara dari Syifa membuat nya tertawa.
"Bunda laper", rengek Asyifa manja.
"Maaf sayang, Bunda lupa kalau kamu sudah kelaparan, kasian nya putri Bunda, oh iya, cucu Nenek gimana kabar nya?" tanya wanita paruh baya itu mengusap lembut perut putri nya.
Asyifa terkekeh dan ikut mengusap perut nya. "Aku baik-baik saja Nenek", jawab Syifa menirukan suara anak kecil.
Annisa tersenyum, dan mengusap wajah putri nya. "Sebentar lagi kamu akan jadi ibu sayang, selamat yah, Bunda tidak bisa berkata apa-apa. Bunda sangat bersyukur bisa punya kamu dan sekarang ada malaikat kecil yang akan membuat rumah tangga kamu bertambah bahagia", ucap nya haru membuat Syifa tersenyum lembut.
"Ehem, aku nggak di akuin nih Bun", seru Malik merajuk.
Annisa menoleh dan melihat menantu nya itu. "Kamu juga dong, Bunda bersyukur putri Bunda bisa selalu mendapatkan kebahagiaan, terimakasih yah", ujar Annisa tersenyum dan di angguki Malik ikut tersenyum juga.
"Justru Malik yang berterimakasih karena Bunda sudah melahirkan putri yang sangat hebat hingga bisa membuat hati aku jatuh cinta, dan juga terimakasih telah merestui kita Bun", tutur Malik.
Asyifa berdehem. "Bunda, kapan makan nya?", ujar Asyifa. Mereka berdua tertawa dengan ucapan nya.
"Maafkan Bunda, ini sayang, makan yang banyak yah", ucap Annisa dengan membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah.
Asyifa menerima suapan dari tangan sang Bunda dengan bahagia, rasa nya sudah lama dia tidak merasakan nikmatnya makan langsung dari tangan Bundanya.
Malik tersenyum, di dalam hati nya dia berjanji. Tidak akan membuat wanita yang sekarang menjadi istri nya itu terluka.
JANGAN LUPAKAN VOTE DAN LIKE COMMENT YAH MAN-TEMAN 😁.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍😍.
__ADS_1