
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Suasana di dalam mobil begitu panik. Malik yang terus saja memegang tangan sang istri dan juga mengusap punggung nya. Annisa yang juga berada di samping Asyifa mencoba menenangkan kan dan juga membacakan do'a.
"Sabar sayang yah, sebentar lagi sampai." Annisa mencoba menenangkan. Meskipun sebenarnya dia begitu panik dan juga takut, namun sebisa mungkin dia tidak mengeluarkan ekspresi nya itu.
"Sakit banget Bun," eluh Syifa menggenggam erat tangan Annisa dan juga Malik.
"Semua akan baik-baik saja sayang, berdo'a yah," nasihat Annisa.
"Bun, maafin aku yah Bun," ucap Syifa. Annisa mengernyit bingung. "Maaf untuk apa sayang?" tanya nya. "Maaf kalau Syifa suka bandel dan juga nakal. Bunda sudah berjuang melahirkan Syifa tanpa di dampingi Ayah, dan sekarang Syifa yang di dampingi oleh banyak orang masih merasa takut. Maafkan Syifa yah Bun." ucap Syifa lagi. Air mata nya kini sudah mengalir deras.
Annisa tersenyum, "semua anak perempuan akan mengatakan itu pada ibu nya jika melahirkan. Kamu tenang yah, semua akan baik-baik saja. Dan juga, Bunda tidak pernah kerepotan dengan tingkah kamu sayang," ujar nya menenangkan.
"Bisa lebih cepat lagi nggak Dan?" seru Malik. Dia begitu tak tega melihat sang istri yang begitu merasakan sakit.
Dan dalam lima menit sampai lah mereka semua di waktu yang hampir bersamaan. Mobil rombongan yang begitu banyak membuat Rumah Sakit begitu ramai. Semua keluarga tak terkecuali ikut mengantarkan Asyifa untuk bersalin.
Tak di pungkiri, mereka adalah orang-orang penting hingga hal itu membuat mereka begitu heboh melihat dua orang sukses yang tampil secara bersamaan. Kejadian yang begitu langka menurut mereka.
Dan mereka tak sedikit pula terekspos di media sosial seperti majalah orang-orang sukses dan juga televisi.
Keluarga Al-Husein dan juga Aditya termasuk di dalam nya.
Kamar untuk Asyifa sudah di persiapkan sebelum nya, jadi tidak harus menunggu antrean. Bima adalah salah satu pemegang saham Rumah Sakit ini, dan juga Rumah Sakit ini adalah milik keluarga Al-Husein. Kedatangan mereka tentu sangat menghebohkan.
"Bun, hiks! hiks!" lirih Asyifa menggenggam tangan sang Bunda. Asyifa langsung di larikan ke ruang bersalin karena sudah pembukaan sempurna.
__ADS_1
"Bun, temenin Syifa yah Bun?" mohon Syifa. Annisa sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk menangis, pertahanan nya runtuh seketika mendengar suara lirih kesakitan Asyifa.
Annisa mengusap air mata sang putri dan menciumi puncak kepala nya bertubi-tubi. "Nanti sama Malik yah sayang, Bunda tunggu di luar saja, nanti suami kamu yang akan menemani mu berjuang," ucap nya sesegukan.
Rasa nya dia tidak tega mendengar sakit nya Asyifa. Rasa sakit itu dia juga merasakan nya. "Nanti kita berjuang bersama ya sayang," bujuk Malik. Meski berat, Asyifa tetap mengangguk mengiyakan.
Annisa keluar setelah mendapat arahan dari suster untuk meninggalkan ruangan.
Annisa keluar dengan mata yang merah. Nenek Dila menghambur memeluk putri nya untuk menenangkan. Oma Risma tidak bisa berdiri karena sakit nya. Dia hanya duduk di kursi roda sembari mengusap air mata yang sesekali jatuh.
Para ipar dan Yasmin ikut memeluk Annisa. Menenangkan wanita itu bahwa semua akan baik-baik saja.
Di dalam ruangan bersalin, Asyifa begitu merasa kelelahan saat bidan mengintruksikan untuk mengejan dan juga mengatur nafas nya. Dan di saat di ambang batas, Asyifa menyerah dan tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Sayang! Syi, bangun sayang! Syifa!" seru Malik menggoyangkan pundak sang istri yang tak kunjung bangun. Hingga bidan meminta suster untuk menyiapkan ruang operasi untuk menuntaskan proses bersalin Asyifa.
"Maaf Bu, sekarang saya harus terburu-buru," ucap suster itu dan berlari meninggalkan mereka yang penuh tanya.
Tak lama kemudian, Malik keluar dengan pandangan yang kosong dan juga wajah yang lesu. Bekas air mata masih terlihat jelas di pipi nya. Annisa menghampiri menantu nya dan mengguncang tubuh nya guna menyadarkan Malik yang sedari tadi tak menjawab pertanyaan dari Annisa.
Malik kemudian tersadar dan air mata nya langsung turun deras. Dia menghambur memeluk ibu mertua nya.
"Ada apa dengan anak Bunda Malik?" tanya nya lirih. Belum juga ada dari Malik membuat Annisa geram. "Malik jawab Bunda!" bentak Annisa membuat Malik mengerjap. Semua orang kaget dengan bentakan Annisa.
Annisa yang mereka kenal tidak pernah membentak. Jangan kan membentak, marah saja sangat jarang.
Ipar dan juga Nenek Dila menuntun Annisa untuk duduk. Pandangan Annisa kosong. Malik bersimpuh di hadapan mertua nya dan memegang tangan nya erat. "Kita do'akan Asyifa Bun, kita hanya bisa berdoa sekarang." jawab Malik.
__ADS_1
Annisa tidak menjawab. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Lampu ruangan operasi menyala menandakan sedang di langsungkan nya tindakan. Mereka menunggu hasil dengan harapan yang terbaik dan keselamatan untuk ketiga nya.
Amier memeluk sang Bunda ikut menenangkan nya. Dia tau betul jika menyangkut kedua anak nya, dia tidak bisa tenang. Meskipun terdiam tanpa kata, justru hal itu sangat di takutkan oleh Amier.
Hingga suara tangis bayi yang pertama menggema di seluruh ruangan memecahkan keheningan di antara mereka. Annisa mengerjap dan tersadar. Dia mencari asal suara yang berasal dari dalam.
Hati mereka sedikit lega dan mengucap syukur. Malik memeluk Mama nya dan menangis. Annisa di peluk Amier yang juga meneteskan air mata. Suasana haru dan juga bahagia bersatu dalam satu waktu. Dan suara bayi kedua dari Asyifa dan juga Malik menambah suasana menjadi lebih haru.
"Anak Malik sudah lahir Mah?!" seru Malik menangis. Hati nya bergetar hebat menerima kenyataan bahwa dirinya kini sudah menjadi seorang ayah.
"Iya sayang, selamat yah?" haru April.
Malik melepaskan pelukannya dan menghampiri Annisa yang masih duduk anteng. "Anak Malik dan Syifa sudah lahir Bun." Malik menggenggam tangan Annisa. Annisa lagi-lagi meneteskan air mata nya.
Dia raih pipi menantunya dan menatap nya lekat. "Selamat nak! kamu sudah menjadi seorang Ayah." Annisa mengusap kepala Malik.
Lampu ruangan operasi mati menandakan berakhirnya tindakan operasi. Dokter keluar dari ruangan dan menghampiri mereka.
Malik menghampiri dokter itu menanyakan keadaan ketiga nya. "Semua nya selamat, kita tunggu bayi anda di bersihkan dan di pindahkan ke ruangan bayi. Baru bisa di adzan-i" ucap dokter.
"Bagaimana istri saya dok?" tanya Malik tak sabaran. Dokter sejenak terdiam, hal itu tentu nya membuat Malik begitu takut akan terjadi sesuatu pada ratu hati nya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.
BACA CERITA AUTHOR KECE YANG LAIN YAH DAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😊.
__ADS_1
TERIMAKASIH.