
HAPPY READING MAN-TEMAN π.
"Sudah, anak laki-laki pantang menangis dengan hal kecil kayak gini" ujar Reyyan.
Reyyan jadi terdiam dengan ucapan nya yang baru saja dia lontarkan. Dia tersenyum miris, dulu dia yang di nasehati oleh Ayah bocah ini, tapi sekarang malah omongan itu dia kembalikan pada anak nya.
Mereka masuk kedalam rumah dan segera menyiapkan keperluan untuk nanti malam.
"Gimana hari pertama nya Rey?" tanya Annisa pelan pada Reyyan yang menghampiri untuk mengambil air di dapur.
"Lancar Tan, sudah mulai, mudah-mudahan hal ini bisa sampai seterusnya" ujar Reyyan setelah meminum air nya.
Dia duduk di samping Tante nya itu dan berbisik, ntah apa yang di bisikin oleh Reyyan yang membuat Annisa tersenyum penuh arti.
"Lagi ngomongin apa sih bisik-bisik segala?" tanya Naura yang menghampiri mereka.
Ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Naura sama dengan Annisa setelah di bisikan sesuatu oleh Reyyan.
Di tempat lain, Amier masih ngambek dengan Asyifa. Dia bahkan nggak mau di bujuk dengan eskrim seperti biasa nya. Asyifa sampai menyerah.
Malik menghampiri mereka dan membisikkan sesuatu pada Amier. Amier terlihat senang dengan hal itu.
"Sudah lah aku mau main sama Kakak cupu dulu, Kak Bian kita rival sekarang" seru nya kemudian pergi meninggalkan dua orang yang masih terbengong dengan menarik tangan Malik menjauhi mereka.
"Mereka kenapa ya Kak?" tanya Bian bingung . Dia tidak tau apa yang terjadi karena baru saja duduk di samping Amier, tapi Syifa hanya mengangkat bahu nya dan menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Sudah lah Kakak mau sholat dulu, kamu sudah sholat?" ucap Syifa sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Sudah tadi berjamaah sama yang lain" jawab Bian dan di angguki oleh Syifa dan berlalu pergi.
π’π’π’π’
Sore tiba, persiapan untuk memanggang sudah lengkap semua dan begini lah suasana di kediaman keluarga besar ini, sangat riuh dengan pertengkaran para cucu keluarga itu.
"Impian Mama buat riuh rumah ini benar-benar tercapai kan Mah?" ujar Naura memeluk sang Mama dari belakang membuat dia sedikit terkejut.
Oma Risma mengangguk tanpa menoleh dengan pandangan yang tak lepas dari cucu-cucu nya itu, dia tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Iya, Mama sangat bahagia hari ini, mereka begitu menggemaskan meski kadang menyebalkan" Mama menanggapi.
"Indah banget ya jeng, kita di hari tua bisa menikmati hal seperti ini?" tutur Oma Risma pada Nenek Dila.
"Iya jeng, semoga hubungan kita selalu seperti ini sampai kapanpun" saut Nenek tersenyum.
"Aamiin" saut mereka yang mendengar.
Terlihat Syifa sedang sibuk dan Malik menghampiri nya, dia duduk di samping nya dan Syifa bergeser memberi jarak.
"Lagi ngapain?" tanya Malik basa-basi.
"Lihat nya gimana?!" ketus Syifa, Malik terkekeh, gemas sekali dia.
"Aku punya sesuatu untuk kamu" ucapan Malik membuat Syifa menoleh.
Malik mengeluarkan sesuatu dari dalam saku nya, dan dia memberikan itu pada Asyifa, sebuah kotak kecil yang dia terima membuat dia bingung dengan maksud dari Malik.
"Apa ini?" tanya nya
"Buka saja" ujar nya tersenyum.
"Untuk apa?" tanya nya.
"Menurut kamu untuk apa?" bukannya menjawab malah pemuda itu balik bertanya.
"Entah, kamu bukan mau ngelamar aku kan?" tanya nya curiga.
"Kalau kamu mau, bisa kamu anggap begitu"
ujar Malik. Gampang sekali dia berucap, Asyifa jadi bertambah kesal.
"Nggak usah main-main sama aku" kesal Syifa.
"Aku nggak main-main Syi, aku serius. Dan kalau kamu mau aku bisa saat ini ngelamar kamu" ucapnya lagi dengan menyengir.
"Tahu ah" kesal Syifa meninggalkan Malik sendiri yang terkekeh dengan tingkah nya, dia kesal tapi dia sedikit malu.
__ADS_1
Reyyan yang melihat Syifa pun menegur saudara nya itu, tapi yang di tegur tidak merespon dan berlalu tanpa balik menyapanya. Dia jadi curiga, Reyyan menghampiri temannya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Enggak apa-apa kok bro, saudara kamu cuma malu saja" jawab nya masih dengan kekehan nya.
"Malu?, malu kenapa?" tanya Reyyan bingung, tapi Malik hanya mengedikan bahu nya membuat Reyyan mencebikkan bibir nya.
Sedangkan Asyifa yang kesal, dia masuk ke dalam kamar nya dan mengabaikan panggilan dari Bunda nya, Annisa jadi khawatir dan ikut menyusul sang putri. Asyifa merebahkan tubuhnya dan membuang nafas nya lelah.
Dia mengambil kotak yang di berikan Malik pada nya. Dia membalikkan badan dan menyembunyikan wajah nya di atas bantal. Dia masih terbayang-bayang dengan ucapan Malik tadi.
Syifa mendudukkan dirinya dan bersila. Dia tatap lekat benda itu lama. Annisa yang khawatir dengan putri nya itu langsung masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Syifa.
Asyifa terlonjak kaget mendengar panggilan sang Bunda. Dia cepat-cepat menutup dan menyembunyikan kotak yang dia pegang.
"Kenapa Bun?" tanya Syifa.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Annisa khawatir sembari duduk di samping putri nya itu.
Asyifa menggeleng. "Emang Syifa kenapa?" tanya balik Syifa. Annisa mengernyit bingung.
"Loh kok balik nanya, Bunda nanya kamu kenapa?, kenapa tadi di panggil malah ngeloyor pergi sama sekali nggak menyahut" ujar sang Bunda.
"Syifa nggak apa-apa kok Bun, Asyifa cuma pengen rebahan saja" Syifa memegang lengan Bundanya.
"Bener?" tanya nya masih tak percaya, Syifa mengangguk meyakinkan.
"Terus itu apa yang di balik selimut" Annisa menunjuk tempat dimana kotak itu di sembunyikan oleh Syifa membuat dia jadi gugup.
"Eng,,,enggak kok Bun" Syifa begitu gugup dengan pertanyaan tiba-tiba Bunda nya.
"Sayang?" ucap Annisa dengan penekanan, Syifa memejamkan mata nya, dia mengambil kotak itu dan di perlihatkan pada sang Bunda.
Lama tak ada suara, Syifa pun membuka pelan mata nya. Annisa masih menatap kotak itu lekat-lekat kemudian dia beralih memandang ke putrinya itu.
Asyifa menunduk takut. Annisa tersenyum dan memegang lengan Asyifa, dia mendongakkan dagu putrinya untuk menatap dirinya itu.
"Asyifa sekarang sudah dewasa, Asyifa sudah tahu apa yang baik dan mana yang buruk Pesan Bunda, jangan pernah memainkan perasaan orang lain sayang, apapun yang membuat hati Syifa bahagia kejar, kalau Syifa tak bahagia jangan teruskan, paham?" pesan Annisa. Asyifa mengangguk paham.
__ADS_1
Asyifa menatap wajah sang Bunda dan memeluk nya. Dia menghirup aroma dari Bunda nya itu dalam-dalam membuat dirinya tenang, setidaknya dia lebih tenang setelah ada rasa yang aneh di dalam hati nya itu.
VOTE NYA BOLEH LAHπ π π