Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
89.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Reyyan terpingkal mendengar cerita dari Bima yang menurut nya begitu lucu.


Bagaimana tidak, di malam pertama mereka dengan kejadian yang di landaskan seorang anak. Membatalkan segala sesuatu nya. Hal itu begitu lucu menurut nya.


"Tertawa saja terus. Memang teman nggak ada akhlak kamu mah!" kesal Bima lucu.


Reyyan memegang perut nya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia tak habis-habisnya tertawa.


"Sudahlah! kamu mau kesini pagi-pagi mau apa aku tanya?" tanya Bima kembali.


Reyyan menghentikan tawanya karena mengingat sesuatu. "Oh iya aku lupa kan jadi nya. Pasti istri aku tersayang menunggu lama nih." Reyyan berujar.


"Begini, aku mau minta bantuan kamu boleh nggak?" tanya Reyyan canggung.


Bima mengerutkan keningnya. "Minta tolong apa?" Reyyan menyengir canggung.


💢💢💢💢


"Tolong lah please?" mohon Reyyan dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.


Bima begitu kesal dengan teman nya yang satu ini, kalau bukan karena Adelia yang sedang mengidam, dia seumur-umur nggak akan mau mengenakan kostum yang satu ini.


Dengan pipi yang merah, bedak yang tebal, dan juga, apa ini? hidung merah yang menonjol. Ya ampun, mimpi apa Bima bisa se-sial ini. Semalam di tinggal tidur oleh istri nya saat malam pertama nya, dan juga pagi nya dia harus memakai kostum badut.


Tenggelam kan saja dia di rawa-rawa. Seorang Bima pengusaha muda berbakat harus memakai pakaian konyol yang berbanding terbalik dengan kehidupan nya yang begitu elegan.


Oke! lupakan hal itu, sekarang tugas nya menolong teman yang istrinya sedang mengalami ngidam. Mungkin saja nanti jika istri nya mengidam juga bisa memanfaatkan teman nya itu.


Bima menghela nafas panjang. "Ya sudah, aku bantu kamu kali ini." Bima akhirnya pasrah.


"Terimakasih bro! kau memang teman aku yang keren!" seru Reyyan bahagia.

__ADS_1


Bagaimana tidak bahagia, karena jika Bima tidak mau mengikuti kemauan sang istri, itu akan berimbas pada pintu kamar yang terkunci rapat dan tak ada guling bernafas yang menemani nya tidur.


Sewaktu Adelia ngambek dan tak mau tidur dengan Reyyan di awal kehamilan nya, dia tak mempermasalahkan berlanjut, tapi sekarang, jika sejam saja tidak bersama sang istri. Dia merasakan frustasi.


Maka dari itu Reyyan tidak pernah meninggalkan Adelia kecuali bekerja. Dan sewaktu bekerja pun setiap jam nya akan menelpon istri nya untuk sekedar mendengar suara nya saja.


Mereka masuk ke dalam apartemen, sebelum nya tentu Bima sudah siap dengan kostum dan juga segala aksesoris nya.


"Sayang?" seru Reyyan memanggil Adelia.


Namun berulang kali dia berteriak pun tidak ada jawaban. "Kamu tunggu di sini ya bro." Reyyan meminta Bima untuk duduk dan meninggalkan nya untuk mencari sang istri.


Reyyan membuka pintu kamar nya dan mengedarkan pandangannya mencari sang istri. "Sayang, kamu di kamar mandi kah?!" seru Reyyan lagi.


Dia mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban dari dalam. "Ya sudah kalau kamu masih di dalam, aku tunggu. Bima sudah datang nih." Reyyan memutar tubuhnya hendak pergi.


Namun suara pecahan kaca dari dalam menghentikan langkahnya dan dengan cepat dia membalikkan badannya dan mendobrak pintu kamar mandi. Setelah terbuka dengan kasar, mata nya membulat sempurna melihat Adelia terduduk di lantai kamar mandi dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya.


"Ya Allah sayang!" seru Reyyan dan mengangkat tubuh lemah istri nya itu.


"Bima! cepat antar ke Rumah Sakit sekarang!" seru Reyyan dengan berlari tergopoh-gopoh.


Bima meskipun syok, dia tetap mengikuti Reyyan dari belakang dan menuju parkiran. Bima membuka pintu mobil dan Reyyan langsung saja masuk. "Bertahan lah sayang." Reyyan mengusap wajah nya dan menggenggam erat tangan Adel.


"Sakit Mas," hanya itu kata yang dapat di ucapkan Adelia. "Mas mohon bertahan yah, demi Mas, demi anak kita." Reyyan meneteskan air mata nya.


Adelia melepaskan genggaman tangan Reyyan dan mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi suaminya itu dan tersenyum. "Maafin aku ya Mas," ucap nya sebelum memejamkan mata nya.


"Nggak! nggak Adel! kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu Mas nggak akan maafin kamu dan diri Mas sendiri!" Reyyan berseru.


"Adel bangun sayang, jangan menakuti Mas seperti ini," lirih nya dan memeluk semakin erat.


"Bim, lebih cepat!" seru Reyyan. Dia begitu frustasi melihat mata wanita yang dia cintai itu terpejam.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, dia turun dan berteriak layak nya orang panik lainnya.


Adelia di larikan ke UGD dan mendapatkan pertolongan pertama. "Kita harus melakukan operasi segera Pak!" ujar dokter.


"Lakukan apapun yang penting istri dan anak saya selamat dok!" seru Reyyan dengan mengguncangkan tubuh dokter itu.


Dokter itu mengangguk dan masuk ke dalam untuk menindak lanjuti Adelia.


Reyyan terpundur dan duduk di kursi tunggu dengan lemas. Mengapa dia selalu mengalami hal seperti ini, kenapa orang-orang yang dia sayangi selalu mengalami kejadian yang harus dia saksikan dan membawa nya ke Rumah Sakit seperti orang gila.


Berjam-jam dia tunggu. Dan kini bukan cuma Reyyan dan juga Bima yang menanti kabar dari dalam ruangan putih itu. Kedua orang tua nya dan juga kedua mertuanya kini ikut menunggu setelah di kabari sebelum nya.


Pandangan Reyyan kosong, dia seakan kehilangan separuh nafas nya. Membuat dia begitu sesak.


Mommy Reyyan mengelus sayang pundak putranya. Seakan memberikan kekuatan untuk Reyyan. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Reyyan dari dunia nya ke dunia nyata.


Reyyan segera bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter untuk menanyakan keadaan mereka. Dokter menggeleng kan kepala nya. Sudah histeris dari Mommy dan juga Mama Adel pecah bersamaan.


Suami-suami mereka saling menenangkan istri mereka masing-masing.


"Jelaskan apa maksud nya dok!" teriak Reyyan kepada dokter itu karena dia begitu geram dengan penjelasan yang bertele-tele.


"Maaf Pak, anak anda tidak bisa tertolong," kata-kata dokter sukses membuat Reyyan melemas dan melepaskan cengkraman tangan nya pada lengan dokter itu.


Dia meneteskan air mata nya dan terpundur kembali. Dia mengusap wajah nya kasar dan air mata nya mengalir.


"Bagaimana aku menjelaskan nya pada Adel. Dia begitu menginginkan anak ini, tapi lagi-lagi engkau ambil ya Allah, apa salah aku dan Adel hingga engkau belum mempercayakan kita untuk engkau titipkan malaikat di tengah-tengah keluarga kecil kami?" lirih Reyyan pilu.


Dia begitu tak sanggup lagi menahan berat badan nya dan terkulai lemas. Mommy Reyyan menghampiri putranya dan menenangkan nya. "Semua akan baik-baik saja sayang, semua akan baik-baik saja." Salsa mencoba menenangkan.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.


VOTE, LIKE, DAN RET5 JANGAN LUPA DAN KETINGGALAN YAH 😉.

__ADS_1


BISA TIDAK YAH, NOVEL (MIAD) MASUK KE 10 BESAR WKWKKWK.


BERHARAP NGGAK APA-APA LAH YAH, ✌️.


__ADS_2