Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
109.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Chacha tetap diam dan tak berani menatap Bima. Dia merasa takut padahal Bima tidak akan pernah membentak ataupun memarahinya.


Dia hanya ingin minta penjelasan dari Chacha, hanya itu. Namun Chacha merasa seperti melakukan kesalahan yang membuat dirinya tak berani untuk mengeluarkan kata-katanya.


Hanya air mata saja yang keluar mengekspresikan apa yang dia rasakan.


"Nak, jawab Ayah. Kenapa Kamu memanggil Ayah dengan sebutan Om kembali? Apa Ayah punya salah dengan Kamu?" tanya Bima. Rasa nya seperti tersengat listrik dan itu sangat menyakitkan mendengar Chacha -nya memanggil dengan sebutan om.


"Katakan Nak, Ayah tidak akan marah jika Chacha mengatakannya, tapi Ayah akan marah jika Chacha diam saja dan tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Mendengar kata-kata Bima, Chacha sedikit melirik dan dengan takut-takut dia akhirnya menatap kedua mata Bima yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Maafin aku," hanya kata itu yang keluar dari mulut Chacha.


"Mengapa Chacha minta maaf, Chacha salah apa? Kenapa Caca harus meminta maaf jika Chacha tidak salah?" ucap lembut Bima.


"Sekarang katakan sama Ayah. Apa Ayah ada salah sama Kamu atau ada yang mem-bully Mu? Katakan sama Ayah apapun itu tolong Nak."


Setelah terdiam beberapa saat, Chacha memberanikan diri untuk menceritakan apa yang dia rasakan saat ini. Dia menceritakan saat Bima bercerita pada teman nya kemarin.


"Maafin Chacha jika Ayah mungkin malu mengakui Chacha sebagai Anak Ayah," Bima terkesiap mendengar penuturan Chacha.


Mengapa putri cantiknya itu mengatakan hal itu, apa ada yang salah dengan ucapan dirinya.


"Sebenar nya, apakah Ayah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?" tanya Bima


Chacha menggeleng, "Tidak, hanya saja mungkin Ayah akan malu jika mengakui Aku sebagai Anak Ayah pada teman-teman Ayah, maafkan Chacha ya Yah."


Bima diam, hatinya merasa sakit. Ada rasa yang begitu tak terima di dalam hatinya.


"Siapa yang bilang seperti itu Nak? Ayah tidak pernah malu atau apapun mengakuimu sebagai putri Ayah. Kamu jangan berpikiran macam-macam Nak," kata Bima lembut.


"Kamu bukan orang lain, Kamu adalah putri Ayah. Putri pertama Ayah. Meskipun nantinya akan ada adik-adik Kamu di masa depan, Kau tidak akan pernah tergantikan, tidak akan pernah. Ingat itu sayang." Bima menekan semua kata-kata nya.


"Jadi Kamu jangan merasa minder ataupun apapun itu. Kamu adalah Anak Ayah. Itu yang harus Kamu tanamkan di dalam hati Kamu." Jelas Bima yang mengisyaratkan tangannya pada dada Chacha.

__ADS_1


Chacha menangis. Apa yang dia lakukan, hingga membuat laki-laki di depannya yang begitu sangat menyayanginya merasakan ke-asingan. Chacha merasa bodoh.


"Maafin Chacha Yah," kata itu lagi yang terucap dari Chacha. Bima tersenyum dan mengusap lembut kepala putrinya itu.


"Ayah dan Ibu sangat menyayangi Chacha, jangan pernah merasa sendiri lagi Sayang. Kau Putri Kita dan hal itu tidak bisa diubah oleh siapapun," ungkap Bima.


Chacha menghambur memeluk Bima dan menangis kembali, rasanya begitu tenang mendengar penuturan dari laki-laki yang dia dekap ini.


Setelah menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka, mereka pun melanjutkan sarapan mereka seperti biasanya.


Candaan yang biasa mereka lontarkan kini kembali lagi dan menambah lagi kehangatan mereka.


💢💢💢💢


Hari demi hari, bulan demi bulan mereka lewati seperti biasanya. Penuh kebahagiaan dan selalu menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan.


Sore ini, di taman halaman rumah Asyifa. Kini sudah sangat ramai. Dari pagi mereka sudah sibuk untuk persiapan pesta malam barbeque.


Asyifa duduk sembari mengawasi anak-anak nya yang begitu aktif bermain dengan para saudara nya. Ini juga sebagai sambutan untuk Vita yang kembali lagi ke negara nya bersama dengan suami dan juga anak keduanya.


Malik menghampiri sang istri dan duduk di samping nya. "Aaaa ,,, "Malik menyuapi potongan daging yang sudah dia panggang.


Kandungan Asyifa hanya menunggu hari saja untuk persalinan. "Sehat-sehat ya Sayang," ucap Malik mencium perut sang istri.


"Geli Mas!" Asyifa terkekeh karena ke-gelian dengan gerak bayi yang aktif karena merespon usapan sayang dari ayah nya.


"Pinter berarti, bisa tau Ayah nya." Ucap Malik. Asyifa mengangguk.


"Oh, ayo lah! Bukan hanya Kalian saja di sini!" kesal Danish yang ada di samping kursi yang di duduki Asyifa dan Malik.


"Kamu juga punya istri Dan! Kenapa usil sekali sih?!" seru kesal Malik.


"Ya ampun Kalian! Nggak bisa kah damai sehari saja?" tanya April yang heran melihat putra dan keponakan nya selalu beradu argumen.


"Sudah biarkan saja Mereka, sekarang biar Kita yang mengukir kembali kisah cinta Kita, memang nya Mama nggak ngiri sama Mereka apa? Mereka saja bermesraan. Masa iya Kita kalah," lerai Papa Malik.


Hal itu sukses membuat April bersemu merah dan tawa dari mereka meledak. "Kamu ini! Sudah tua jangan genit." Saut April.

__ADS_1


"Kita nggak ngelihat kok Ma! Tenang saja, dan Kalian bebas melakukan apapun di pojok sana." Malik tertawa terbahak-bahak.


Mata April melotot dan Asyifa memukul lengan suami nya dengan gemas.


"Anak kurang ajar!" dengus kesal April. Papa Malik merangkul pundak istri nya dan membawa nya duduk berjauhan dengan mereka. Jika tidak, istri nya itu mungkin akan hilang kendali dan mengomel tak henti-henti.


Acara di lanjutkan dengan sangat meriah. Di tambah tingkah lucu dan juga keisengan dari anak-anak mereka. Menambah kehangatan dan keharmonisan seluruh keluarga.


💢💢💢💢


Menjelang pagi, Asyifa tidak bisa tidur. Rasa nya sangat susah untuk memejamkan mata walaupun sedetik. Rasa tak nyaman mulai menyerang nya.


Perut nya semakin kesini semakin merasa tak nyaman dan mulai merasakan mulas.


Malik yang merasakan tempat tidur bergerak pun akhirnya membuka mata karena terganggu.


Malik menyipitkan matanya dan menengok ke sang istri. Dia langsung terperanjat dan duduk. "Kamu kenapa Yang?" tanya Malik khawatir.


"Nggak tau Mas, rasa nya nggak nyaman. Sudah mulai mulas." Ucap Asyifa dengan keringat yang mulai keluar di dahi nya.


"Bukan nya dua seminggu lagi yah?" tanya Malik.


"Mungkin maju Mas, Kamu kayak baru pertama jadi Ayah saja sih Mas?!" ucap kesal Asyifa.


Malik tersenyum polos. "Kita ke Rumah Sakit sekarang yah!" kata Malik dan di angguki oleh Asyifa.


Malik menyiapkan tas yang berisi perlengkapan bersalin dan juga baju Asyifa yang sudah di siapkan jauh-jauh hari.


Malik membangun-kan kedua putra nya dan meminta mereka untuk menunggu di mobil yang sebelumnya sudah di siapkan.


Malik kembali lagi ke kamar nya dan membantu menuntun Asyifa untuk ke mobil.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


YANG MAU FOLLOW IG AUTHOR KECE SILAHKAN, NANTI INSYA ALLAH AUTHOR KECE MAU UP CUPLIKAN VIDEO SETIAP VISUAL DARI CERITA NOVEL INI YANG BELUM AUTHOR KASIH VISUAL NYA. LENGKAP. KARENA KALAU DI SINI AKAN LAMA RIVIEW NYA WKWKWKWK.


YANG PENASARAN FOLLOW SAJA.

__ADS_1


@Meirisqia16


DAN NANTIKAN VIDEO NYA YAH🤭🤭🤭.


__ADS_2