Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
57.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊😊😊.


"Kamu mau kesana?" tanya Annisa membuat langkah kaki Malik terhenti di ambang pintu.


Malik berbalik dan tersenyum pilu. Dia menghampiri mertua nya itu dan bersimpuh di hadapan nya. Annisa menunduk dan menatap Malik yang juga menatap nya.


"Bunda istirahat saja, aku janji akan bawa Asyifa putri Bunda istri Malik. Aku janji, aku janji akan membawa nya dengan keadaan selamat dan sehat. Bunda percaya kan sama aku?" uca Malik lembut.


Tangan Annisa terulur mengusap pipi menantunya itu. "Bunda percaya sama kamu. Bawa istri kamu pulang dengan sehat dan juga cucu Bunda dengan selamat" izin nya dengan setetes air mata nya yang jatuh.


Malik tersenyum dan mencium punggung tangan Annisa sebelum pergi. "Malik pergi dulu Bun, doa'kan kami yah" pamit Malik dan beranjak pergi.


Di ruang tamu, ketiga pemuda itu sudah menunggu. Ada juga Opa, Raka, dan Zaki.


"Sudah?" tanya Reyyan saat Malik menuruni tangga.


Malik mengangguk. "Kalian hati-hati yah" pesan Opa sebelum mereka keluar dari rumah itu.


Mereka pun pergi menggunakan satu mobil. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Jalanan yang sepi karena saat ini adalah waktu menjelang subuh membuat mereka semakin lancar dalam mengendarai.


"Sudah siap semua?" tanya Bima pada orang seberang telepon.


"Oke, sebentar lagi kita sampai" final Bima.


Malik sedari tadi memandang foto Asyifa yang ada di ponsel nya. Setetes air mata terjatuh dari pelupuk mata nya. Bima yang melihat teman nya itu sedih pun menepuk pundak nya. "Semua akan baik-baik saja" ucap nya menenangkan.


Tak ada jawaban dari Malik, hanya helaan nafas panjang yang dia ekspresi kan.


Tak berapa lama mobil mereka sampai. Sudah ada banyak orang-orang nya di sana.


"Bagaimana?" tanya Bima pada anak buah nya.


"Belum ada pergerakan Bos, sejauh ini aman" ucap nya.


Sedangkan di dalam rumah kosong itu. Asyifa sudah tidak berdaya karena terus saja di siksa oleh Amel. Kondisi Adelia tidak terlalu parah, dia tidak ada satupun luka, hanya dehidrasi karena sejak pagi tak ada air maupun makanan yang masuk ke dalam tubuh nya. Begitu juga dengan Asyifa.


Keadaan Asyifa terlihat begitu memilukan. Tak hanya dehidrasi saja, bahkan kedua pipi nya kini penuh dengan lebam karena terus saja di tampar oleh Amel.

__ADS_1


"Kata nya jago karate, mana?!, begitu saja sudah tak berdaya!" seru Amel.


Asyifa memandang lelah Amel. Sebelum kesadaran nya mulai hilang. Suara pintu yang terbuka dengan kasar sempat membuat dia ikut kaget.


Suara ribut terdengar sayup-sayup. Hingga dia melihat satu sosok. Satu sosok yang dia rindukan. Dia tersenyum kecil di balik bekapan mulutnya sebelum kesadaran nya benar-benar hilang.


💢💢💢💢


Tut....Tut...Tut...


Suara alat pendeteksi detak jantung memenuhi ruangan yang serba putih itu. Satu wanita yang tertidur begitu lelap hingga kini sudah hari ketiga dia belum juga membuka matanya.


"Sayang, mau sampai kapan kamu tertidur?" tanya Malik kepada istri nya yang kini terbaring di atas tempat tidur pesakitan nya.


Malik menggenggam tangan sang istri dan terus saja menciumi nya. "Apa kamu nggak mau tau kalau di dalam diri kamu ada malaikat kita?" tanya Malik pilu sembari mengusap sayang perut rata sang istri.


"Baby, kamu bangunin Bunbun dong, Ayah sedih nih lihat Bunbun masih tidur begini" monolog Malik masih dengan usapan nya.


"Baby denger Ayah kan?, ayo dong baby, bantuin Ayah" frustasi Malik.


Dia menempelkan punggung tangan sang istri pada pipi nya dan memejamkan mata.


Reyyan masuk bersama istri dan juga kedua teman nya. "Belum sadar kah?" tanya nya.


Malik sedikit melirik kemudian kembali memandangi wajah damai istri nya. "Belum" jawab nya singkat.


Mereka semua duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Malik beranjak dari tempat duduknya dan ikut bergabung dengan mereka berempat.


"Sudah jangan sedih, yang penting dia sudah aman sekarang" hibur Bima menepuk bahu temannya.


Malik mengusap wajah nya kasar. "Aku masih nggak ngerti kenapa dia begitu tega sama Asyifa" gerutu Malik.


"Aku tau jika Asyifa memang banyak yang suka bahkan mencintai nya, tapi hal ini sangat keterlaluan. Kakak nya yang bunuh diri kenapa pula Syifa yang jadi korban. Itu kan kebodohan kakak nya bukan salah Syifa" kesalnya.


"Aku juga nggak nyangka jika dia begitu nekat bunuh diri cuma denger kenyataan kamu nikah sama Syifa" Reyyan menimpali.


"Aku tau jika Kak Razi menyukai Syifa, aku juga tau jika dia menyukai nya dari SMA. Karena Syifa nggak merespon aku kira dia nggak akan peduli lagi. Tapi kenyataannya malah berfikiran pendek seperti ini" jelas Adel.

__ADS_1


Sejenak suasana menjadi hening. Suara lirih dari Asyifa membuat mereka menoleh secara bersamaan.


"Jangan, aku mohon jangan, lepasin aku, jangan" gumam Syifa.


Mereka menghampiri wanita itu. Malik menggenggam tangan sang istri dan mengusap-usap nya. "Sayang, bangun sayang" panggil Malik lembut.


"Jangan, Ayah tolong Syifa, Malik. Aaaa......" teriak Asyifa namun masih dengan mata yang terpejam.


Mereka khawatir. Danish dengan sigap memanggil dokter karena dokter terlalu lama meski sudah memencet tombol darurat.


"Aaarrgghhh Ayah...." teriak nya lagi.


Dokter datang dan memeriksa Syifa. Dia memberi suntikan bius untuk menenangkan nya. Tak lama Syifa lemas dan tenang.


"Apa yang terjadi dengan istri saya dok?!" seru Malik.


"Istri tuan mengalami syok berat dan tekanan. Dia bereaksi saat dirinya merasa terancam" jelas dokter.


"Apa akan berbahaya untuk istri dan anak saya dok?" tanya nya.


"Saya rasa tidak untuk saat ini, saya harap jangan pernah meninggalkan dia sendiri" nasihat dokter sebelum pergi. Malik mengangguk dan berterima kasih.


Malik memandang pilu sang istri yang tertidur kembali. Baru saja dia mendengar suara yang di rindukan selama tiga hari ini. Namun tekanan yang di terima istri nya membuat dia harus terlelap kembali.


Reyyan menepuk pundak Malik memberikan kekuatan. "Kalian pulang saja, biar aku yang jaga Syifa" ujar Malik.


Danish akan berbicara namun kata-kata nya tak keluar melihat isyarat yang di berikan oleh Bima. "Ya sudah, kita pulang dulu" final Reyyan.


Sebenarnya mereka enggan untuk pergi, tapi melihat Malik yang seperti itu mereka akhirnya meninggalkan Malik sendiri untuk menjaga Syifa. Memberikan waktu untuk nya.


Mereka keluar. "Aku nggak tega lihat dia terpuruk begitu" lirih Danish.


"Tapi melihat Malik yang seperti ini, aku merasa lebih tenang. Karena aku sudah benar-benar mengikhlaskan Syifa bersama nya" ucap Bima menyauti.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE.


SUDAH HARI SENIN VOTE NYA KENCENGIN YAH TERIMAKASIH MAN-TEMAN.

__ADS_1


AKU SAYANG KALIAN 😁😁.


__ADS_2