
HAPPY READING MAN-TEMAN π.
"Kenapa kamu tersenyum" ketus Syifa.
"Aku bahagia Syifa, baru kali ini kamu ngobrol dengan kata-kata yang panjang seperti itu" ujar nya masih dengan senyuman nya.
Asyifa memutar bola matanya jengah. Dia beranjak dari duduknya masuk kedalam. Bima masih saja tersenyum.
"Orang gila, senyam-senyum gak jelas" saut Amier dan kembali memainkan game nya.
"Dek kalau Kakak jadi Kakak ipar kamu gimana?" tanya Bima kemudian.
Amier mendongak menatap tajam Bima. "Aku gak pro sama Kakak, aku lebih suka Kak Malik" ujar nya menyeringai.
"Apa bagus nya Malik di banding Kakak?" tanya nya lagi.
"Bagus dari segala nya" jawab Amier enteng dan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia kembali memainkan game nya lagi.
Bima terdiam, "apa nya yang bagus dari dia, bahkan aku lebih kaya dan juga lebih tampan dari dia" gerutu nya dalam hati.
π’π’π’π’
Di Rumah Sakit, Reyyan berjalan dengan bahagia. Dia membawa sebuket bunga yang akan di berikan untuk gadis itu, tak jarang juga dia mengulas senyum. Karena yang dia dengar, gadis itu sudah sadar dari semalam.
Jadi pagi-pagi dia datang bertujuan ingin menemui gadis nya, gadis nya? Reyyan jadi ingin tertawa. Andai saja bila memang benar gadis itu menjadi gadis nya mungkin dia akan sangat bahagia.
Reyyan sedikit bersenandung, namun selisih dari satu kamar gadis itu, dia menghentikan langkah dan juga nyanyian nya karena mendengar suara gadis itu tertawa keras.
Reyyan mengetuk pintu dan masuk setelah di beri izin. Di dalam ruangan itu, si gadis dan juga seorang pemuda yang sedang bercanda menghentikan tawa mereka.
Gadis itu yang di ketahui bernama Adel itu terbelalak melihat Reyyan yang berdiri di ambang pintu. Detik selanjutnya dia mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Reyyan.
"Ya ampun, kenapa dia ada di sini sih" gumam Adel pelan.
Reyyan masuk lebih dalam dan menyapa kedua nya dengan canggung.
"Hallo Del, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Reyyan sedikit gugup.
Reyyan menghampiri Adel dan berdiri di samping pemuda itu.
Gadis itu menoleh. "Kok kamu tau nama aku?" tanya nya heran.
Reyyan tersenyum. "Iya lah, siapa yang akan lupa sama perempuan cantik yang menyiram wajahku dengan air mineral karena salah sasaran" jawab Reyyan terkekeh.
Adel malu, dia menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Bagaimana tidak malu, pertemuan pertama nya dengan Reyyan yang sedikit drama. Ya ampun, dia ingin menggali lubang saat ini untuk sembunyi.
"Gak usah malu kali Del, aku malah seneng bisa ketemu kamu lagi, dan juga kamu gak usah menyamar lagi dengan kacamata tebalmu itu" ujar Reyyan yang gemas dengan sikap Adel.
Adel menurunkan selimut nya mengintip, dia tertawa canggung.
__ADS_1
"Ehem,,, di sini masih ada orang ya kalian" kesal pemuda yang tadi.
Dia mengulurkan tangannya dan Reyyan menerima uluran tangan nya.
"Hilal, sepupu Adel" ucap nya memperkenalkan diri.
"Reyyan, teman satu kampus Adel" balas nya.
"Ya udah Del, aku keluar dulu ya bentar lagi jam praktek aku soalnya" pamit Hilal.
Adel mengangguk. Hilal menepuk pundak Reyyan sebelum pergi. "Nitip saudara aku ya" pesan nya dan berlalu pergi. Reyyan mengangguk menyetujui.
Reyyan duduk di kursi dekat ranjang dan tersenyum melihat Adel masih saja menutupi diri nya dengan selimut.
"Mau sampai kapan ngumpet begitu Del?" Reyyan bertanya di akhiri dengan kekehan.
Adel menurunkan selimut nya lagi.
"Sejak kapan kamu tau ini aku?" tanya Adel penasaran.
"Sejak aku menggendong kamu ke sini" jawab nya. "Oh iya ini untuk kamu" ujar ya lagi dan memberikan buket yang sedari tadi di pegang nya.
"Terimakasih" jawab nya singkat.
Sejenak ada kecanggungan di antara mereka, mereka saling curi pandang tapi tak mau berbicara terlebih dahulu.
"Kamu duluan aja" ucap Reyyan.
"Eemm, itu aku mau nanya, apa kamu yang bawa aku ke sini?" tanya nya dan Reyyan mengangguk.
"Terimakasih" ucap gadis itu.
""Gak masalah, bahkan aku seneng karena aku bisa ketemu lagi sama kamu" tutur nya dan tersenyum.
"Oh iya, aku mau nanya, kenapa kamu sembunyikan identitas kamu yang seperti ini, kenapa kamu memakai kacamata tebal dan juga dandanan kamu yang bisa di bilang kayak kutu buku begitu" tanya Reyyan penasaran.
Adelia sedikit berpikir. "Gak apa-apa kok, cuma pengin aja" jawab Adel, tapi Reyyan tidak percaya dengan hal itu, seperti ada yang di sembunyikan.
"Benarkah?" tanya Reyyan lagi dan Adel mengangguk meski dia tak menatap mata Reyyan. Dia takut kalau Reyyan tanya lebih dari itu, karena dia tak pandai menyembunyikan sesuatu. Dia juga tak tau kalau Reyyan sebenarnya sudah curiga dengan nya.
Adel tersenyum dan mengangguk. "Apa masih sakit?" Reyyan menyentuh perban yang melilit di kepala gadis itu.
"Udah lumayan kok" jawab nya singkat.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan seru, sudah tidak ada kecanggungan lagi seperti hal nya mereka sudah kenal lama.
Masih dalam satu Rumah Sakit, Malik berada di sebuah ruang inap. Dia duduk di sofa sembari menunggu seseorang, seseorang yang dulu pernah mengisi hati nya.
Alasan dia menunggu dia hanya karena kasihan. Sebenarnya, dia tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan dia, namun karena alasan dia adalah salah satu teman dan juga cinta pertama nya.
__ADS_1
π³οΈπ³οΈπ³οΈπ³οΈπ³οΈ
Malik sedang meracik menu baru di ruangan pribadi nya untuk kedai kopi yang sudah berjalan dua bulan belakangan ini. Suara ponsel di sebelah nya berdering membuat dia menghentikan aktivitas meracik nya.
Dia melihat nomer yang tidak di kenal nya dan tak memperdulikan itu, beberapa panggilan dia abaikan namun benda itu berdering terus menerus.
Dengan berat hati dia mengangkat dan menerima panggilan itu. Suara dari seberang membuat dia mematung, dengan segera dia mengambil kunci dan berlalu meninggalkan pekerjaan nya.
Dia mengendarai motor nya menuju tempat yang sudah di beritahu si penelepon tadi.
Dan disinilah dia, berada di sebuah rumah yang besar tempat dimana sang mantan tinggal.
Dia langsung saja masuk dan di sambut oleh Mama dari mantan nya itu. Dia di tuntun menghampiri sebuah kamar yang di tempati oleh Ayesha sang mantan.
Di dalam kamar itu, Ayesha sedang mengancam akan bunuh diri. Hamil yang tak di inginkan di pernikahannya membuat dia ingin mengakhiri hidupnya.
"Tolong Tante, Malik, Tante udah tak tau lagi harus berbuat apa lagi, tidak ada yang bisa mencegah nya" ucap Mama Ayesha.
Malik jadi bingung harus apa, sejurus dengan itu Ayesha menggores pergelangan tangan kiri nya membuat orang yang berada di situ menjerit.
HAYOO PADA NUNGGUIN NGGAK NIHπ€.
AUTHOR KECE KASIH VISUAL MEREKA YAH, INI CUMA PANDANGAN AKU AJA, KALIAN BISA CARI KARAKTER YANG LAIN SESUAI IMAJINASI KALIAN OKE.
INI YANG MENURUT AUTHOR COCOK HEHHEπ€π€.
LIKE, COMMENT, VOTE NYA JUGA JANGAN KETINGGALAN OCEH ππ.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE.
1) Asyifa Putri Annisa
2).Reyyan Farzan Al-Husein
3).Malik Azam
4) Bima Aydin Arkana
5) Adelia Farida Firdaus
__ADS_1