Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
84.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Annisa mengerjap beberapa kali menetralkan pandangan nya. Dia memegang kepala nya yang terasa nyeri. "Sudah bangun?" sapa seseorang. Dia April teman sekaligus besan nya.


"April? kok kamu ada di sini?" tanya Annisa bingung. April yang sedang mengambil minum duduk di samping ranjang Annisa. Dia menyerahkan gelas berisi air minum ke Annisa dan di terima nya dengan tersenyum.


"Aku kesini karena di panggil Malik. Dia khawatir sama kamu dan juga bingung harus bagaimana. Maka nya aku datang kesini ikut membantu menjaga kamu." April menjelaskan.


Annisa terdiam sejenak dan mata nya membulat karena teringat sesuatu. "Anak aku gimana Pril?" tanya Annisa tak sabar.


"Dia baik-baik saja, kamu nggak usah khawatir begitu Annisa, kebiasaan banget sih, kamu selalu saja mengkhawatirkan secara berlebihan." April mulai kesal.


"Nama nya juga anak Pril, gimana nggak di fikirkan coba!" Annisa merajuk.


"Boleh saja, tapi nggak sampai kamu sakit juga, kamu nggak mau kan jika anak kamu yang lain juga menghawatirkan kamu juga. Kasihan Syifa, kamu tau jika Syifa sudah seperti orang yang frustasi karena memikirkan kamu dan juga adik nya? dan dia juga punya putra yang harus dia rawat!" jelas April panjang lebar.


Annisa tertegun. Sudah berulang kali dia mengabaikan hal penting seperti ini. Dia tidak memikirkan hal yang lain jika sudah terfikirkan satu masalah. Apa lagi ini adalah masalah keluarga terutama sang anak.


"Aku tau aku salah mengabaikan hal yang lain dan terfokus pada Ameer, tapi kamu tau aku dari dulu kan?" ujar Annisa menunduk.


April memegang pundak besan nya lembut. "Ini bukan salah kamu juga, hanya saja kontrol ego kamu Nis," ucap April. Annisa mengangguk.


"Aku mau ke Ameer Pril," ujar Annisa."Boleh saja, Ameer juga sedang menunggu kamu." April tersenyum jahil. Annisa yang menunduk mendengar itu langsung mendongak dan melihat senyuman April yang menyebalkan menurut nya.


Annisa memicingkan mata nya kesal. "Kenapa nggak bilang sedari tadi?!" tanya Annisa kesal. "Memang nya kamu nanya?" saut April tidak mau kalah.


"Sudah lah, minggir!" seru Annisa. April tertawa lucu melihat tingkah Annisa.


Annisa terburu-buru pergi, tapi sebelum dia benar-benar keluar, dai berbalik kembali dan bertanya, "ruangan nya dimana Pril?" seru Annisa.


April tercengang. Meskipun demikian, dia menunjuk ke samping ruangan Annisa. Annisa menengok ke luar dan kembali melihat April lalu mengangguk. "Terimakasih." Annisa berseru kembali. April menggeleng kan kepala nya tak percaya.


Wanita sekalem Annisa berubah menjadi bar-bar seketika.


Annisa membuka kasar pintu kamar ruangan Ameer. Dia berlari menghampiri anak bujang nya itu. Dia tangkup wajah nya dan dia beri ciuman bertubi-tubi.

__ADS_1


"Kamu jangan kayak gini lagi buat Bunda khawatir sayang," ucap Annisa sesegukan.


Ameer menjauh kan diri dari Annisa dan menatap bingung. "Kamu siapa?" tanya nya.


Deg!


"A ,,, ameer, ini Bunda sayang, Bunda. Ameer nggak inget sama Bunda?" tanya Annisa lembut dan menangkup kedua pipi Ameer.


Ameer lagi-lagi melepaskan tangan Annisa dan menatap bingung. "Bunda siapa? aku nggak kenal," ujar nya.


"Ya Allah nak! kamu nggak inget sama Bunda?!" seru Annisa kaget. "Ameer nggak inget sama Bunda?" tanya Asyifa kembali. Ameer menggeleng.


Asyifa menenangkan sang Bunda dengan memeluk nya. "Semua akan baik-baik saja Bun, percaya sama aku." Asyifa menenangkan.


"Tapi Ameer nggak inget sama Bunda Syifa! Ameer ... Ameer ... " Annisa menghentikan ucapannya dan menengok ke arah pintu.


"Selamat merayakan hari kelahiran Annisa!" seru semua orang. Annisa mengernyit bingung. Dia tatap para anak muda di ruangan itu satu persatu.


Asyifa tersenyum polos. kemudian dia memandang sang putra yang juga melakukan hal yang sama. "Bunda kena di kerjain!" seru Ameer bahagia.


Annisa menjewer telinga Asyifa dan menghampiri Ameer yang meringis ngeri. Dia melakukan hal yang sama pada putra nya.


"Puas kalian buat Bunda seperti ini!" galak Annisa. "Mas! tolongin aku!" seru Asyifa meminta tolong pada sang suami yang terkekeh.


Malik menghampiri sang istri melepaskan jeweran Annisa dengan lembut. "Sudah dong Bun, kasian istri aku." Malik menengahi.


Asyifa di lepaskan dan tinggal Ameer saja yang masih pada posisi yang sama. "Nah kalau yang itu nggak apa-apa di jewer Bun," kekeh Malik.


"Ampun Bun, aduh!" pekik Ameer memegang kepala nya. Annisa melepaskan tangannya. "Apa nya yang sakit sayang?" tanya Annisa khawatir.


"Pusing Bun," adu Ameer. Annisa memeluk tubuh sang putra dengan erat dan gemas. "Bun, kasihan Ameer itu nggak bisa bernafas!" seru Asyifa panik.


Annisa segera melepaskan pelukannya. "Oh iya, Bunda lupa." Annisa terkekeh. "Oh iya! kamu kapan sadar nya?" tanya wanita itu.


"Semalam Bun, dan juga pas hari ini adalah hari jadi Bunda. Tapi Bunda nggak kunjung sadar. Dan pas juga Bunda sudah sadar makanya kita sekalian mainin drama, tapi lihat Bunda yang begitu histeris kita jadi nggak tega." Malik menjawab mewakili mereka.

__ADS_1


"Tega kalian!" kesal Annisa. "Ameer khawatir Bunda nggak sadar-sadar, sudah dua hari kata Kakak Bunda nggak sadar," ucap Ameer sedih.


Annisa tercengang. "Selama itu?" tanya heran.


"Iya, enak kan bisa istirahat dua hari?" ledek April. Annisa tertawa. "Enak banget," saut nya. Hal itu membuat mereka ikut tertawa.


💢💢💢💢


Malam hari, Annisa berbaring di ranjang Ameer sembari memeluk anak bujang nya itu.


Semua sudah pulang dan tinggal lah Annisa saja yang menemani Ameer.


"Bun?" panggil Ameer. "Hum?" saut Annisa sembari mengusap sayang punggung dan puncak kepala Ameer.


"Pas aku tidur ketemu sama Ayah," Ameer mulai bercerita. Annisa menghentikan pergerakan nya.


"Bunda tau nggak Ayah ngomong apa sama Ameer?" tanya Ameer. "Ngomong apa?" tanya Annisa balik.


"Ayah bilang, Ameer di suruh pulang sama Bunda saja, kata nya Ameer nggak boleh tinggalin Bunda, Ayah juga bilang kalau Ayah sayang sama Ameer," perkataan Ameer membuat Annisa tertegun.


"Bun?" panggil Ameer lagi. "Hum?" saut nya lagi menahan sesak di dada. "Aku kangen sama Ayah," tutur Ameer dan semakin mengeratkan pelukannya. Suara tangis dari pemuda itu membuat hati Annisa teriris.


Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menangis. "Kalau Ameer kangen, Ameer berdo'a saja, doa'kan supaya kita bisa berkumpul kembali nanti, yah?" nasihat Annisa. Ameer mengangguk mengiyakan.


"Bun, mau sholawat yang biasa Ayah senandungin boleh nggak?" pinta Ameer.


Annisa mengusap air mata nya dan mulai menyenandungkan sholawat yang selalu Zidan senandung kan di saat Ameer masih kecil.


Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi,


Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi,


Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali,


Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali.

__ADS_1


Annisa menyenandungkan hingga bait terakhir dari sholawat itu. Dan Ameer memejamkan mata nya dengan tersenyum.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


__ADS_2