
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
"Kalian datang?" sambut Annisa ramah.
Aditya mengangguk, Yasmin tersenyum meski kaku. "Ayo gabung, aku buat kan minum dulu." Annisa mengajak kedua nya untuk bergabung dengan yang lain.
"Ayah," sambut Asyifa tersenyum. Dia hendak berdiri, namun Aditya melarang nya.
"Kamu duduk saja," cegah Aditya. Asyifa tersenyum. Aditya berjongkok dan mengusap lembut perut putri nya. "Cucu Kakek apa kabar hari ini?" tanya Aditya gemas pada kedua cucu nya yang masih berada di dalam perut.
Mereka terkekeh mendengar sapaan Aditya yang menurut mereka begitu lucu.
Aditya mendongak menatap mereka satu persatu, "ada yang lucu kah?" tanya nya terheran.
"Lucu, lucu banget malah. Seorang Aditya memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Kakek." Yasmin menyahut.
Aditya ikut tertawa pelan. "Iya juga yah, nggak nyangka kalau aku sebentar lagi akan jadi Kakek," kekeh nya.
Annisa menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi minuman dan cemilan, mendengar apa yang mereka bicarakan membuat Annisa ikut tertawa kecil. "Ya mau gimana lagi, emang kamu itu sudah tua."
"Tua-tua begini tapi masih tampan tau, jangan salah, kalau aku banyak yang naksir." Aditya menaik-turunkan alis nya membuat mereka tertawa dan Annisa memutar bola matanya jengah.
"Ayo di minum dulu biar adem nggak narsis terus," ledek Annisa membuat Aditya berdecih.
Mereka menghabiskan waktu menjelang makan malam mereka dengan bahagia. Penuh cerita dan canda tawa.
💢💢💢💢
Annisa sedang menyiapkan makan malam di bantu oleh Yasmin, mereka terlihat seperti layaknya kakak beradik. Siapa yang sangka, dengan berjalan nya waktu kini mereka sudah semakin akrab. Hubungan yang berawal dari kebencian, iri, dan juga balas dendam, kini lenyap dan menjadi suatu hubungan baru lagi.
Tak ada kata dendam mau pun iri kembali, kini hanya ada hubungan yang di landaskan dengan rasa persaudaraan. Mungkin orang yang melihat mereka saat ini, mereka layaknya seperti sahabat yang tak pernah ada konflik.
__ADS_1
Tapi jika mereka tau, bahwa mereka adalah dua wanita yang pernah berseteru dulu, mungkin mereka akan terheran. Mengapa mereka begitu akrab nya seperti ini.
"Bun, aku mau puding coklat yah," ujar Syifa yang berjalan ke arah dua wanita itu.
"Kamu duduk saja, nanti Bunda yang akan ambilkan yah," tawar Annisa dan menggandeng tangan Asyifa untuk duduk di kursi meja makan.
"Makasih Bunda," Asyifa tersenyum. Beruntung nya dia, bahkan sangat beruntung bisa memiliki Bunda seperti nya. Meski badai selalu datang tanpa mereka duga, tapi Bunda nya adalah wanita pertama yang akan menjadi pelindung nya, dan satu-satunya wanita yang begitu kuat yang Asyifa kenal.
Pernah suatu ketika, lima bulan setelah meninggal nya sang Ayah, banyak orang yang mencibir bahkan menghina nya secara terang-terangan, namun dia diamkan saja. Tapi, saat mereka menghina anak nya, dia tak pernah tinggal diam saja. Melihat dan mendengar putri nya di cibir pembawa sial, karena ada nya diri nya membuat sang Bunda harus menjanda untuk ke dua kali nya.
Perkataan mereka sungguh membuat Asyifa drop dan merasa bersalah, namun pelukan dan dukungan sang Bunda lah yang selalu membuat dia menjadi kuat.
Annisa menghampiri Syifa setelah mengambil puding di dalam lemari es. "Nah, makan yang banyak yah, biar cucu-cucu Bunda sehat-sehat."
Asyifa mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih Bunda." Annisa mengusap kepala Asyifa sebelum kembali pada pekerjaan nya.
Malik datang dan mencium pipi sang istri yang sedang menyuapkan puding. Membuat dia terhenyak dan menjatuhkan puding yang berada di sendok nya, membuat wanita hamil itu memejamkan mata geram. Dan detik kemudian, "orang jelek!!" omel nya.
Malik tersenyum polos seperti tidak merasa bersalah. Dia mengambil sendok yang masih ada di tangan istri nya itu dan menyendok kan puding lalu dia makan dengan tenang nya.
Annisa menghampiri kedua nya sembari membawa hasil masakan dan dia letakkan di atas meja makan. "Pantes nggak heran kamu anak April, kelakuan kamu sama jail nya dengan nya." Annisa menjewer telinga menantu nya dan tak menghiraukan Malik yang mengaduh kesakitan.
Malik meringis kesakitan, "Ampun Bun, cuma main-main saja kok," mohon nya.
Suasana yang tadi nya menjengkelkan,kini jadi gaduh dengan kejadian ini. Namun, Asyifa kini tak lagi kesal tapi malah tertawa. Sembari memegang perut nya yang terasa kencang, dia tak henti nya tergelak.
Aditya bersama Bian dan Amier menghampiri mereka karena mendengar kegaduhan dan seruan Asyifa. "Ada apa ini?" tanya Aditya mendudukkan dirinya di kursi meja makan tak jauh dari mereka.
"Menantu kamu tuh," saut Annisa.
Aditya menoleh menatap tajam Malik. Malik yang merasa di tatap seperti itu pun menyengir dengan tangan yang masih mengusap telinga nya.
__ADS_1
Yasmin terkekeh melihat pemandangan yang menurut nya begitu lucu, dia jadi melamun, dia jadi merasa bersalah karena dulu memisahkan mereka.
"Bau apa ini?" seru Aditya setelah meng- endus bau yang gosong.
Mereka menoleh ke kompor, "Yasmin, kompor nya!" seru Annisa. Yasmin terhenyak dan tersadar seketika. "Ya Allah, masakan nya?!" seru nya. Mereka menggelengkan kepala mereka saja tak berkomentar.
Yasmin menoleh pada mereka canggung. "Maaf," ujar nya menyesal. "Sudah-sudah, sudah kejadian juga," ujar Annisa.
Wanita paruh baya itu mengambil ponsel nya yang berada di saku nya dan menelpon seseorang. "Saya tunggu segera yah," final Annisa sebelum menutup ponselnya.
"Aku sudah memesan makanan dari restoran, sebentar lagi sampai." Annisa menghampiri Yasmin dan menepuk bahu nya. "Maaf yah Nis," sesal nya. Annisa tersenyum.
Dua puluh menit kemudian, karyawan Annisa tiba di kediaman nya, dengan membawa makanan dari restoran nya.
"Nis, apa ini nggak berlebihan?" tanya Aditya.
"Tak apa, ayo kita makan," saut Annisa mempersilahkan.
Mereka mengiyakan dan duduk di kursi masing-masing.
Setelah mereka makan, Annisa membereskan semua peralatan makan di bantu Yasmin kembali.
Saat sedang membersihkan dan mengobrol, suara Bian membuat Yasmin undur diri sebentar, meninggalkan Annisa yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.
Aditya datang ke dapur untuk mengambil minuman dingin. "Sibuk kah?," tanya nya pada Annisa.
Annisa yang di ajak bicara pun menengok dan tersenyum. Dia sedikit berpikir sebelum dia mengucapkan sesuatu yang membuat Aditya hampir tersedak. "Mas, apa kamu tidak ingin kembali lagi pada Yasmin?" tanya Annisa sedikit ragu.
Aditya menoleh dan menaruh kembali air yang dia ambil itu di atas meja. Dia bersandar di lemari es sembari menatap Annisa. "Kenapa bertanya seperti itu?" tanya nya heran.
"Ya tidak apa-apa, cuma kasian aku melihat Bian. Memang sih, kamu selalu ada untuk nya, tapi tetap saja berbeda keadaan nya jika kamu bersatu lagi dengan Mama nya." Annisa menjelaskan.
__ADS_1
Aditya menatap lekat Annisa, "bagaimana dengan kamu?" tanya nya balik.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍😍.