Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
07.


__ADS_3

LANJJJUUUUTTTT....


Asyifa, Reyyan dan juga Malik menunggu di depan ruangan dimana Oma Risma di tangani.


Syifa sudah tidak menangis lagi, tapi tangan nya masih gemetar. Reyyan merangkul bahu Asyifa memberi ketenangan.


"Semua nya akan baik-baik saja Syi, jangan takut" ujar Reyyan menenangkan. Asyifa mengangguki perkataan Reyyan.


Gadis itu menarik nafas nya dalam-dalam dan membuang nya pelan. Tak lama rombongan keluarga berdatangan.


Pertanyaan umum pun sempat di tanyakan, namun gelengan dari Reyyan membuat mereka khawatir.


Annisa melihat putri nya seperti orang ketakutan pun mendekati dan memeluk nya.


"Jangan takut sayang, ada Bunda di sini" ujar Annisa dan perlahan Asyifa mulai tenang.


Bunda nya lah yang membuat dia tenang, dia yang lebih mengerti tentang nya. Di situasi apapun itu dia akan merasa terlindungi bila di dekapan Bunda nya.


Dokter keluar dan memberi tahu semuanya baik-baik saja, hanya saja Oma Risma harus dirawat beberapa hari untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kaki nya terkilir akibat jatuh di kamar mandi. Keluarga nya merasa lega karena tidak terjadi yang tidak di inginkan.


Mereka masuk ke dalam dan menemui Oma. yang sudah terbangun dari pingsan nya.


"Mama nggak apa-apa kan?" tanya sang suami yang tidak lain adalah Opa sendiri.


"Nggak apa-apa kok Pah, cuma terkilir ajah jangan heboh begitu ah" ujar Oma menenangkannya suami nya itu.


"Oma tau, tadi kalau Asyifa tidak menemukan Oma, pasti keadaannya tidak seperti ini" ujar Reyyan sedih.


Oma Risma menengok ke samping tempat berdiri nya Asyifa. Dia memegang tangan nya dan mengusap nya lembut.


"Makasih sayang, Oma jadi selamat karena pertolongan kamu " ucap nya tulus. Asyifa mengangguki.


"Oh ya Mah, para pekerja kita pada kemana sih, kenapa Mama bisa seperti ini. Awas saja aku akan memecat mereka " geram Naura.


"Jangan salahkan mereka, Mama yang menyuruh mereka mencari kalung hadiah dari Zid, waktu Mama ke kamar mandi ternyata kalung nya terjatuh di sana dan waktu mau mengambil malah kepeleset" jelas Mama.


Mereka menghela nafas panjang hampir bersamaan. Malik yang tidak mengerti apapun hanya bisa melihat saja tanpa berkomentar apapun. Dia mengundurkan diri dan keluar menunggu di luar.


Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?, mengapa Asyifa begitu ketakutan?, dia jadi Asyifa yang lain tidak seperti Asyifa yang seperti biasa nya. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak nya, dia begitu penasaran dengan kehidupan Asyifa.

__ADS_1


Meski baru mengenal nya, tapi dia begitu tertarik dengan kehidupan nya. Tidak pernah dia se tertarik ini dengan kehidupan orang.


Tak lama Reyyan menyusul keluar, Malik yang melihat Reyyan pun ingin sekali bertanya. Namun baru dia membuka mulutnya, dia sudah di potong lebih dulu kata-kata nya.


"Jangan nanya dulu, aku lagi pusing" ujar Reyyan yang membuat temannya itu langsung membungkam mulutnya.


"Temenin aku ke kantin yuk, aku laper" pinta Reyyan dan di angguki oleh Malik.


💢💢💢💢


Malik melihat temannya itu menghabiskan makanan nya dengan lahap membuat nya heran saja.


"Laper apa doyan" ledek Malik yang menghentikan aktivitas makan Reyyan.


"Menurut kamu apa?" tanya nya balik.


"Menurut aku kalau kamu makan banyak begini tuh lagi stress" jawab nya.


"Nah itu tau" saut Reyyan dan melanjutkan makannya membuat Malik berdecak kesal.


"Aku mau nanya dong" Malik mencondongkan tubuhnya membuat Reyyan menghentikan suapannya lagi.


"Eemmm gimana ya, aku mau nya sih cerita sama kamu tapi aku takut Syifa marah" jawab nya datar.


"Mendingan kamu nanya Syifa dulu deh boleh nggak aku ngasih tau kamu" sambung nya.


"Itu mah mending nanya sama orang nya langsung, belibet banget" kesal nya membuat Reyyan terkekeh geli.


"Emang berani?" Reyyan meledek.


"Ya,,,ya enggak sih" jawab nya tertawa.


💢💢💢💢


Kamar inap Oma Risma sudah tidak ramai seperti tadi karena anak-anak nya sudah pulang dan sang suami ada rapat mendadak sore ini, Asyifa juga harus kembali ke rumah untuk bersih-bersih.


Hanya tersisa Annisa saja di dalam ruangan itu. Annisa sedang menyuapi mertua nya itu dengan telaten, air mata Oma Risma menetes menatap sang menantu yang begitu baik kepada nya. Dia sangat beruntung memiliki Annisa sebagai menantu, namun nasib nya begitu kasihan.


Putra nya yang meninggal menjadikan nya sebagai orang tua tunggal untuk kedua kali nya. Dia begitu sedih, istri mana yang tidak sedih melihat suami nya itu tidak lagi di sisinya. Namun dia begitu salut melihat Annisa yang begitu tegar.

__ADS_1


"Mama kenapa kok ngelamun?" Annisa menghapus air mata yang menetes di pipi sang mertua.


"Mama nggak apa-apa, hanya kangen Zidan saja" ucap nya dengan sendu.


Annisa jadi menunduk sedih, bukan dirinya saja ternyata yang begitu merindukan almarhum suaminya, namun mertua nya juga begitu. Dia lupa bahwa orang yang di depan nya itu adalah ibu nya, ibu yang melahirkan suami nya itu, tentu saja merasa kehilangan.


Dia mendongak dan tersenyum, seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Annisa juga. Kita doa'kan ya Mah supaya kita bisa berkumpul kembali" ucap nya menenangkan.


Oma Risma mengangguk dan memeluk menantu nya itu.


💢💢💢💢


Amier sedang memainkan ponsel di teras depan. Bian dari arah depan menyapa nya. Dia ikut duduk di samping Amier dan ikut memainkan ponselnya ntah apa yang di mainkan kedua bocah itu yang begitu membuat mereka serius hingga tidak memperdulikan orang yang baru saja datang dan menatap mereka. Suara deheman mengalihkan perhatian mereka dan mendongak secara bersamaan.


"Asyifa nya ada dek?" tanya nya pada mereka.


Amier dan Bian saling memandang satu sama lain dan memandang orang itu kembali.


"Mau apa?" tanya mereka kompak.


"Mau ketemu sama Asyifa boleh?" tanya nya lagi.


Bian membisikkan sesuatu pada Amier, dan di angguki dan seringai an nya.


"Boleh saja sih tapi ada syaratnya" Bian memberikan syarat yang sudah di sepakati oleh Amier dan juga diri nya.


Amier melambaikan tangan nya memberi tahu untuk orang itu mendekat. Dia membisikkan sesuatu membuat orang itu mengangguk-angguk saja.


"Bagaimana?" tanya Amier.


"Oke, aku setuju" jawab nya semangat.


Persetujuan dari Malik membuat kedua bocah itu tersenyum penuh arti. Mereka pun berjalan menuju halaman tempat dimana pohon yang akan jadi ujian pertama bagi Malik.


Malik menatap ngeri pada pohon itu, dia mendongak dan menelan ludah kasar.


"Berani nggak nih, kalau nggak berani nggak usah deh dari pada ntar patah tulang" sindir Amier. Malik menarik nafas. " Oke, aku berani" jawab nya kemudian.

__ADS_1


HAPPY WEEKEND MAN-TEMAN 😊


__ADS_2