
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Hari ini adalah hari kepulangan Ameer setelah dua Minggu dirinya di rawat. Annisa, Bian, dan Malik saja yang menjemput kepulangan Ameer, yang lain menunggu di kediaman Annisa.
"Sudah semua?" tanya Malik pada mertua nya. "Sudah!" jawab nya kemudian.
"Kita pulang?" ujar Bian. "Oke!" jawab Ameer semangat.
Annisa mendorong kursi roda yang di duduki sang putra. Malik mengambil alih tas yang di bawa Annisa. Begitu pula Bian yang membawa sisa bawaan buah tangan dari pengunjung.
"Ya ampun Ameer, hadiah kamu banyak banget begini muat nggak nih di mobil?" Bian menggerutu.
"Muat lah Kak, lagipula Kak Bian kan bawa mobil," saut Ameer.
Bian mendecih, "semoga cepat sembuh yah Kak Ameer dan bisa sekolah kembali." Bian membaca satu kartu ucapan dari seseorang.
"Ehem! seperti nya ada sesuatu ini Bun?" ledek Bian. Ameer tertegun saat mengingat kartu yang pernah di bacanya.
"Balikin Kak!" seru Ameer. Bian tertawa terbahak melihat wajah Ameer yang panik.
"Bian!" panggil Malik. "Ini Rumah Sakit Bi!" lanjut nya mengingat kan. Bian terdiam seketika dan melirik ke sekitar kemudian tersenyum canggung. Malik terkekeh dan menyaut kartu yang di pegang Bian.
"Nama nya manis banget sih?" kekeh Malik. Bian memegang perut nya karena tertawa tertahan.
"Siapa Nak?" tanya Annisa setelah menghentikan kekehan nya. "Nama nya Almeera. Wah! jodoh nih kayaknya. Nama nya saja sudah hampir sama begitu." Malik meledek.
"Masih kecil nggak boleh melebihi batas teman yah sayang," Annisa menasehati.
"Aku nggak melewati batas kok Bun, dia teman sekelas Ameer." Ameer menjelaskan.
"Teman apa teman?" goda Bian dan tertawa kecil. "Sudah-sudah, nanti bertambah merah wajah Ameer." Annisa menengahi.
Bukannya senang, Ameer malah kesal. "Bunda!" seru Ameer kesal. Mereka tertawa geli. Untung saja sudah di dalam mobil dan dalam perjalanan. Jika tidak, mungkin banyak orang yang menonton kekonyolan mereka.
Bian ikut serta dalam satu mobil bersama mereka, dan mobil yang di kendarai oleh Bian di serahkan pada supir untuk membawanya.
"Bentar lagi kayak nya Bunda bakalan punya menantu lagi yah Bun," ledek Bian. "Iya, menantu dari kamu yah Bian." Annisa terkekeh di ikuti yang lain.
"Kok aku sih Bun?" saut kesal Bian. "Lah iya lah, masa aku sih. Kan aku masih imut ndan masih dalam proses pubertas. Dan yang tua setelah Kak Syifa ya kamu Kak." Ameer terpingkal. Detik kemudian dia memegang kepala nya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
"Lagian ketawa nya nggak di kontrol sih!" khawatir Annisa. "Habis nya lucu Bun, kelepasan deh." Ameer terkekeh.
Perjalanan itu di iringi canda tawa. Hingga tidak terasa mereka sudah di depan kediaman Annisa.
"Alkhamdulillah, akhir nya sampai. Wah! ramai sekali?" gumam Annisa.
"Iya dong Bun, kita kan mau menyambut pulang nya Ameer sang pangeran keluarga Al-Husein," saut Malik terkikik. "Ada-ada saja kamu tuh." Annisa terkekeh.
Mereka turun dan di sambut hangat. Meskipun selalu bertemu, namun setiap Annisa maupun yang lain nya saling bertemu, mereka selalu menyambut dengan hangat satu sama lain.
"Jagoan kita sudah sembuh ternyata," sambut Reyyan dan di ikuti mereka. "Iya dong sembuh, kan sudah di tengokin sama Almeera."Bian menyaut.
Hal itu mengundang tawa Malik dan kekehan Annisa. "Kak Bian!" seru kesal Ameer. Hal itu membuat mereka bertanya-tanya satu sama lain.
"Siapa Almeera?" tanya Adiba. "Ehem! calon, ehem!" saut Bian dan membuang muka nya sembari tersenyum jahil.
"Sudah lah, nanti cerita nya di dalam saja." Annisa menengahi. "Asyifa kemana?" tanya Malik setelah tak melihat sesosok wanita yang dia rindukan.
"Di dalam sedang menidurkan si kembar." Reyyan menyauti. Malik ber-oh ria dan mengangguk. Mereka masuk semua tak terkecuali.
Mereka berkumpul di ruang keluarga. Malik berpamitan dan masuk kedalam kamar nya.
"Baru pada tidur Yang?" tanya Malik setelah duduk di samping Asyifa dan mencium pipi nya. Asyifa mengangguk.
Malik berbaring di pangkuan sang istri dan memejamkan mata nya. Asyifa mengusap rambut tebal suami nya itu dengan lembut.
"Lelah?" tanya Asyifa. "Hum." Malik membuka mata nya dan menatap mata istri nya itu lalu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya mengusap pipi Syifa dengan sayang.
"Selelah-lelah nya aku, pasti lebih lelah kamu Yang, aku bisa melihat senyuman dan juga kamu yang sehat serta putra kita sehat itu sudah cukup dan bisa meleburkan rasa lelah aku." Malik mengerlingkan mata nya genit.
Asyifa terkekeh geli dan memukul lengan Malik. "Gombal terus!" Asyifa tersipu meski samar.
Malik bangkit dari baring nya dan duduk dengan memegang kedua tangan sang istri. "Aku nggak gombal loh Yang, ini beneran dari lubuk hati yang paling dalam aku mengucapkan itu." Malik makin gencar menggoda.
Asyifa melepaskan genggaman tangan suami genit nya itu dengan gemas dan beranjak dari duduknya. "Sudah lah, kalau begini nggak akan ada habisnya kamu tuh!" saut Syifa.
Malik tertawa tertahan. Jika kedua putra nya tidak tertidur, mungkin saja Malik sudah tergeletak kencang. Asyifa masuk kedalam kamar mandi.
"Yang ikut Yang!" seru Malik. Asyifa melototkan mata nya dan menunjuk ke arah Malik dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Awas saja jika mereka bangun. Kamu yang aku habisin Mas!" kesal Asyifa.
"Aku rela Yang!" saut nya terkekeh.
"Sudahlah!" ucap ibu dua anak itu dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi dan tak mengindahkan panggilan Malik yang sedikit berbisik.
💢💢💢💢
Hari ini adalah hari pernikahan Bima di laksanakan, Annisa sudah siap mendampingi calon pengantin wanita yang sedang dallam kegundahan hati.
"Tenang kan hati kamu sayang, semua akan baik-baik saja." Nasihat Annisa menyentuh pundak Nazira yang kini akan menjadi menantu dari anak angkat nya, Bima.
"Aku gugup banget Bun, gimana cara nya biar nggak gugup yah Bun?" tanya Nazira.
"Tidur Naz." Asyifa menyahuti pertanyaan Nazira. Nazira mencebikkan bibir nya dan mereka yang mendengar itu hanya tertawa.
"Serius Syi," kesal Nazira. "Aku nggak bohong kok, tanya Bunda kalau nggak percaya." Syifa terkekeh geli.
"Kamu ini, suka sekali jahil," omel Nisa. "Sudah, kamu tenang saja. Nanti kalau Bima salah dalam pengucapan ijab qobul dalam satu tarikan nafas, Bunda jewer nanti." Annisa menyauti. Nazira tergelak dengan penuturan Annisa yang menurut nya itu lucu.
"Bunda ada-ada saja. Tapi ini beneran lebih menegangkan dari ujian masuk perwira polisi deh Bun." Ucap Nazira lesu.
Saat sedang mengobrol dengan asik, suara yang menggema di ruangan depan tak lagi membuat Nazira gugup setengah mati. Dia lebih rileks dari sebelumnya.
Hingga kata sah! menerjunkan jantung dan hati Nazira yang sudah melambung tinggi. Kegugupan dan juga rasa takut itu kini kembali lagi menjadi satu.
Karena status nya yang sudah tak lagi single, tapi kini dia sudah menjadi seorang istri.
Iya, dia kini sudah menjadi seorang istri. Sejak setahun lalu menjadi seorang ibu, kini dia menambah status nya menjadi seorang istri dari pemuda bernama Bima.
VOTE,LIKE, COMMENT, RET5 JANGAN KETINGGALAN DAN JANGAN DI LUPAKAN, YANG BELUM MENINGGALKAN JEJAK DI SETIAP CHAPTER, AUTHOR MOHON BALIK LAGI YAH BUAT NGASIH LIKE.
KASIAN MEREKA NGGAK DI LIKE SAMA KALIAN OCEH😁.
AKU PADA KALIAN 🤣.
PETIK ALPOKAT DI MAKAN RAME-RAME
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.
__ADS_1
NGGAK NYAMBUNG? NYAMBUNGIN SAJA, OCEH 🤣.