
HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
LANJUUTTT...
Tak lama suster keluar. "Suami pasien?" tanya suster menghampiri mereka.
Asyifa dan Reyyan saling pandang. "Kita bukan keluarga nya sus" jawab Reyyan.
"Mas nya aja deh nemenin pasien bersalin" ujar suster.
"Nggak sus, aku takut. Dia aja nih, dia mau kok. Iya kan Syi, iya ya iya!" seru Reyyan yang sudah ketakutan.
"Kok jadi aku sih!" kesal Asyifa. Mereka sedikit berdebat membuat suster itu memijat kepala pusing.
"Stop!" seru suster menghentikan perdebatan mereka berdua. Seketika mereka menoleh pada suster.
"Mba nya aja deh, kasian mba kalo gak ada yang nemenin, kalo itu terjadi sama keluarga mba gimana?" bujuk suster.
Asyifa sejenak berfikir. "Udah gak ada waktu lagi mba nya" seru suster sembari menarik lengan Asyifa untuk masuk kedalam ruangan.
"Semangat Syi!" seru Reyyan.
Asyifa menoleh ke belakang dan menatap tajam Reyyan sebelum pintu tertutup. Reyyan kicep, dia meringis ngeri sembari menatap punggung Syifa yang semakin hilang di telan pintu.
Setelah mengganti pakaian steril, Syifa menghampiri wanita itu dan menggenggam tangan nya.
"Semangat ya mba, demi buah hati mba" ujar Syifa yang di angguki wanita itu.
Asyifa meringis sakit karena tangannya di cengkram kuat dan juga ngeri melihat si wanita yang terlihat begitu kesakitan, Asyifa jadi heboh sendiri karena terlalu semangat menyemangati wanita itu.
Setelah lebih dari lima belas menit, suara tangisan menggema di ruangan itu menghentikan teriakan dan juga perjuangan dari mereka.
Akhir dari wanita itu yang berjuang untuk melahirkan buah hatinya, dan Asyifa yang terlepas dari cengkraman wanita itu.
Oek.....oek....oek (anggap aja suara bayi😅)
"Alkhamdulillah" seru Asyifa kegirangan.
"Selamat ya mba udah jadi ibu sekarang" seru Asyifa bahagia, dia mengusap air mata nya karena terharu.
Wanita itu menangis haru. "Terimakasih mba, telah membantu saya" ucap wanita itu dengan meneteskan air mata nya. Asyifa mengangguk dan menggenggam tangan nya.
"Sama-sama mba" ucap Asyifa dengan senang.
Asyifa keluar setelah selesai menemani nya, dia keluar dengan senyum yang lebar.
"Gimana Syi?" tanya Reyyan tak sabar.
"Anak nya cantik banget Rey, ya ampun aku jadi pengen punya Rey" semangat Syifa.
"Nanti kalo udah nikah sama Malik noh, buat yang banyak biar rame" Reyyan mengucapkan dengan tertawa. Kekhawatiran nya sirna sudah mendengar Syifa mengatakan itu.
Asyifa mencebikkan bibirnya. "Apaan sih" malu Syifa.
Reyyan melihat itu bertambah tertawa.
__ADS_1
💢💢💢💢
"Ya Allah Rey, liat tuh cantik banget kan kayak aku" ujar Syifa.
Reyyan yang melihat kagum anak itu langsung mengganti ekspresi nya menjadi datar nya mendengar kenarsisan Syifa.
"Iya deh, kalo ganteng kan gak mungkin" cibir nya.
Asyifa menggerutu kesal. Dia menggendong bayi itu untuk di berikan kepada ibu nya.
"Selamat ya mba, anak nya cantik banget" Syifa meletakkannya di samping wanita itu.
"Makasih Tante, oh iya, Mama belum tau nama Tante, emang Tante sama Om nya nama nya siapa?" tanya nya dengan menirukan suara anak kecil.
"Oh iya, kita belum kenalan, nama aku Syifa mba, dan ini sepupu aku Reyyan" ucap Syifa memperkenalkan diri nya dan Reyyan.
"Terimakasih Tante, Om, karena kalian aku bisa ketemu sama kalian" ujar nya lagi.
"Sama-sama sayang, Tante juga seneng bisa ketemu sama kamu" jawab Syifa ikut menirukan suara anak kecil.
Pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka.
"Ya ampun sayang, kamu udah lahiran nak, maaf Mama baru datang" seru wanita yang masuk secara buru-buru di ikuti seorang lelaki, orang tua dari Ayesha.
Betul sekali, dia Ayesha mantan Malik, ya ampun kebetulan sekali mereka bisa bertemu.
Syifa dan Reyyan pun tak berselang lama pun pamit karena Ayesha sudah ada yang menemani.
"Mba, kita pulang dulu ya, nanti besok kita kesini lagi" pamit Asyifa.
"Jangan panggil aku mba lah, panggil nama aja"
"Oh iya, makasih Syifa, dan juga Reyyan" mereka mengangguk mengiyakan.
Mereka keluar setelah berpamitan dengan kedua orang tua Ayesha.
💢💢💢💢
Reyyan dan Asyifa masuk ke dalam rumah. Reyyan langsung masuk kedalam kamar nya dan Asyifa pergi ke dapur menghampiri Annisa dan yang lainnya.
"Dari mana sayang lama banget" tanya sang Bunda.
"Habis dari Rumah Sakit Bun" jawab nya setelah habis meneguk air.
"Kamu dari Rumah Sakit, kamu sakit apa nak?!" seru Annisa panik menghampiri putri nya dan membolak-balikkan badan nya.
"Aku baik-baik aja Bun, aku tadi menolong orang yang mau lahiran"
Annisa bernafas lega. "Bunda kira kamu terluka nak, ya Allah bikin kaget aja" lega Annisa.
"Kamu bukannya kaget Nis, tapi lebay, selalu panik dari dulu kalo udah urusan anak mah" saut Vita yang sedang memegang gelas.
Asyifa mengangguk mengiyakan ucapan Tante nya itu.
"Itu namanya sayang Vita" kesal Annisa.
__ADS_1
"Tapi berlebihan, dan itu udah berlaku dari dulu" saut nya lagi.
Annisa kesal pada Vita, mantan karyawan nya itu. Kesal nya Annisa bukannya membuat Vita diam, malah bertambah gencar menggoda.
"Syi, di cariin sama Bima" Reyyan menghampiri mereka memberi pesan.
Vita berdehem. "Kayak nya bentar lagi bakalan mantu nih, manta Bos" ledek Vita.
"Diam kamu mantan karyawan" saut Annisa.
"Mau apa dia?" tanya Syifa tak peduli.
"Entahlah, temuin aja, ntar nanya sendiri mau apa dia" Reyyan menyauti sembari menuangkan air ke dalam gelas.
Syifa memutar bola matanya jengah, percuma saja bertanya sama orang itu, pikir nya.
Asyifa pergi ke depan untuk menemui Bima.
"Ada perlu apa?" tanya Syifa datar.
"Eh, Syifa aku mau ngomong berdua aja sama kamu boleh gak?" tanya Bima setelah mendapati Syifa.
"Mau ngomong apa?"
"Boleh ikut sebentar?"
Asyifa sejenak berpikir, kemudian dia mengangguk.
Mereka pergi ke taman depan dan duduk berhadapan.
"Gini, aku mau nanya gimana jawaban kamu tentang lamaran aku waktu itu Syifa" tanya Bima setelah duduk.
Asyifa terdiam, dia menarik nafas dalam.
"Maaf Bima, sebelum nya aku berterimakasih karena kami mau menyukai bahkan kamu bilang kalo kamu mencintaku" dia berhenti sejenak. " Tapi aku gak bisa balik mencintai kamu, Bim maaf" jawab Asyifa menyesal.
Menyesal karena tidak dapat memberikan jawaban atas apa yang Bima inginkan, tapi gadis itu memang tak mencintai nya.
Bima sedikit menunduk, dia tersenyum miris.
Dia mendongak dan menatap lekat wajah Asyifa membuat canggung yang di tatap nya, tatapan yang begitu terasa tajam. Asyifa tidak berani menatap nya balik.
"Tapi, kita bisa jadi teman kan?" tanya Bima pada akhirnya.
"Aku gak mau kehilangan kamu yang aku cintai, karena pernyataan perasaan aku sama kamu" sambung nya.
Asyifa tersenyum. "Tentu" jawab nya.
HOHO ...
Yang kalian jawab Ayesha, itu benar ya😅.
SELALU DUKUNG AUTHOR KECE TERUS YAH, VOTE NYA BESOK DI PERBANYAK YA😁.
TERIMAKASIH 🤗😍.
__ADS_1