Masa Itu Akan Datang

Masa Itu Akan Datang
70.


__ADS_3

HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


Nazira sedari tadi tak kunjung duduk, dia mondar-mandir di depan ruangan. Dia sesekali mengusap wajah nya gusar.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan," gumam nya bingung.


Sembari terus mondar-mandir dia berfikir keras harus melakukan apa. Terbesit pikiran nya mengarah pada Bima.


"Benar! itu dia jawabannya." Nazira mengambil ponsel nya dan mencari satu nama yang akan dia hubungi.


Panggilan pertama dan kedua belum mendapatkan jawaban. Namun panggilan ke tiga, suara dari seberang sana begitu melegakan hati nya.


"Ha,,, hallo?" sapa Nazira. Setelah mendapat sapaan balik dari Bima, dia melanjutkan ucapan nya. Sembari memejamkan mata dia berucap, "Chacha masuk Rumah Sakit," ucap Nazira langsung pada poinnya.


Setelah mengatakan hal itu dan sedikit berbincang apa penyebab nya, Nazira menutup telepon nya dan duduk di kursi tunggu. Menunggu keluarnya dokter yang menangani Chacha.


Di tempat lain, tepat nya di rumah Bima, pemuda itu baru saja bersiap untuk berangkat ke kantor untuk rapat di pagi ini. Tapi mendengar kabar bahwa Chacha masuk ke Rumah Sakit, membuat Bima membatalkan rapat itu secara sepihak.


Dia menuruni tangga dan menghampiri kedua orang tua nya yang berada di meja makan.


Dia mengambil sepotong roti dan dengan terburu-buru dia masukkan ke mulutnya.


"Pelan-pelan sayang," tegur sang Mama yang melihat sang anak begitu terburu-buru nya.


"Sudah nggak sempat Mah, aku harus ke Rumah Sakit sekarang," ujar nya setelah menghabiskan segelas air mineral.


"Siapa yang sakit?!" tanya Mama nya bernada kaget.


"Anak temen Mah, oh iya, aku nanti pulang telat yah, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan." Bima beranjak berdiri dan menyalami keduanya sebelum melangkah pergi.


"Jangan tersortir tenaga mu nak," nasihat Mama sedikit berteriak.


"Maka nya cepat nikah!" sindiran sang Papa membuat Bima mengehentikan langkah nya dan membalikkan badan.


Sang Papa begitu gemas dengan keputusan sang putra yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan nya dengan Asyifa. Di dalam hati nya, dia begitu kesal karena salah satu impian nya untuk bisa berbesan dengan Zidan, orang yang dia kagumi kini kandas. Karena kebodohan sang putra yang menyerahkan calon menantu idaman nya kepada teman nya.

__ADS_1


Tapi di balik semua itu, dia juga merasa bangga karena sang putra begitu bijak menanggapi permasalahan di antara calon menantu dan juga temannya itu.


Namun jika di pikir-pikir kembali, ada benarnya juga. Dua hati yang tak dapat di satukan lebih baik di pisahkan dan di tempat kan di tempat yang sepantasnya. Jika saja dia jadi mendapatkan menantu seperti Syifa nantinya, bukan hanya satu hati yang terluka, tapi tiga hati yang mengalami.


Tapi, mendengar jika Syifa kini menjadi anak perempuan nya meski hanya anak angkat, dia begitu lega. Paling tidak, dia masih bisa berhubungan dengan keluarga Zidan.


Sang Papa yang tenang dengan santai nya memakan nasi goreng di hadapan nya. Bima kembali menghampiri dan tersenyum miring. "Papa tenang saja, sebentar lagi Bima akan menikah!" pernyataan Bima membuat sang Papa tersedak, dengan sigap sang istri mengambil kan air.


"Sama siapa?" tanya Papa masih dengan keterkejutan nya.


"Ada deh, nanti juga tau, sabar yah?" Bima menepuk pundak sang Papa dan menaik-turunkan alis nya lalu melangkah kembali pergi.


Pemuda itu mengabaikan seruan Papa nya yang begitu ingin tau siapa yang akan menjadi menantu nya.


"Anak itu benar-benar!" kesal nya. Sang istri hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah kedua lelaki beda usia itu. Selalu seperti kucing dan tikus yang selalu tak mau kalah satu sama lain dan juga selalu ada hal yang di permasalahkan.


Namun di balik itu, mereka tetap lah kompak jika masalah kantor dan juga rumah. "Sudah lah Pah, kalian ini selalu saja," kesal Mama.


Sang Papa yang kesal tak mendapatkan jawaban dari Bima akhirnya melanjutkan acara makan nya dengan sedikit menggerutu.


Bima menghentikan mobilnya di parkiran Rumah Sakit, dia keluar dan berlari menuju ruangan yang di infokan Nazira tadi.


"Bagaimana sekarang?" tanya Bima setelah menetralkan nafas nya yang terengah-engah.


Nazira menggeleng sembari menggigit bibir dalam nya, tangan nya bergetar takut. Pasalnya, sudah semalaman Chacha demam tinggi. Dia baru saja pulang tugas dan baby sitter yang menjaga Chacha baru memberi tau saat Nazira pulang dari dinas nya.


Ponsel nya yang tertinggal di kantor saat terburu-buru untuk melaksanakan tugas nya, membuat hal ini menjadi buruk. Keteledoran nya membuat dia jadi susah sendiri.


Bima duduk di samping Nazira. Dia mencoba menenangkan nya jika semua akan baik-baik saja. "Tenang lah, Chacha anak yang kuat, dia tidak akan kenapa-napa hanya dengan demam nya." Bima mencoba membujuk,. meski di dalam hati nya, dia juga ikut merasakan takut yang sangat.


Entah mengapa dia begitu merasakan rasa yang tak seharusnya dia rasakan. Bima seperti layak nya orang tua yang menghawatirkan putri semata wayangnya.


Setelah tak lama, dokter keluar, dia mengatakan untuk tidak khawatir, karena sudah di tangani meskipun datang sedikit terlambat. Namun imun dari bocah itu lumayan bagus. Dia hanya kekurangan cairan dan juga demam saja.


Nazira akhirnya bisa bernafas lega. Dia berterima kasih dan masuk ke dalam ruangan dimana putri nya itu di tangani.

__ADS_1


Bima ikut masuk untuk memastikan keadaan Chacha. "Cepat sembuh sayang, jangan buat Ibu khawatir." Nazira bermonolog.


Bima menepuk pelan pundak gadis itu, membuat nya melirik tangan Bima yang memegang nya. Namun, mengapa detak jantung nya begitu kencang. "Dia akan segera sadar, mendingan kamu istirahat saja karena kamu baru saja pulang. Jaga kondisi mu, jika kamu sakit bagaimana mau menjaga Chacha?" nasihat Bima.


"Aku tidak bisa tidur jika belum melihat senyum Chacha." Nazira mengusap sayang kepala putri nya.


Bima menghela nafas, "ya sudah, kamu belum makan kan? aku belikan makanan sebentar. Kamu mau makan apa?"


Nazira memandang Bima sebentar dan kembali memandang wajah tenang Chacha. "Terserah kau saja."


Bima tersenyum, "ya sudah, aku tinggal sebentar yah." Nazira mengangguk mengiyakan.


Bima pun pergi meninggalkan Nazira dan juga Chacha.


Dua puluh menit kemudian, Bima kembali lagi ke kamar inap Chacha dan membawa plastik berisi makanan untuk Nazira.


Dia membuka pelan pintu itu dan menutup nya kembali. Dia tersenyum, namun detik kemudian senyum nya berganti kekehan lucu.


Gadis itu, yang tadi nya mengatakan tak bisa tidur, kini sudah terlelap dengan nyaman nya di samping ranjang pesakitan Chacha dengan posisi terduduk.


Bima meletakkan plastik nya di meja dan mengambil selimut di lemari kecil lalu dia balutkan ke punggung Nazira.


"Siapa tadi yang bilang tak bisa tidur, tapi sekarang malah dengan pulas nya," monolog Bima terkekeh lucu.


📢📢📢📢📢....


CEK...CEK...EHEM...OKE MAN-TEMAN, MINTA BANTUAN NYA YAH BUAT KALIAN UNTUK LIKE AUTHOR KECE DI LOMBA DUBBER, INI UNTUK PENGGUNA MANGATOON SAJA YAH..


CARI DI BANNER PADA WALL PALING DEPAN DI ATAS, CARI YANG JUDUL NYA" SUARA WANITA TERCANTIK" DAN KALIAN BISA CARI NAMA AUTHOR KECE DI SETIAP KOMIK YANG DI LOMBAKAN YAH....


TERIMAKASIH BANYAK YANG MAU LIKE AUTHOR DI LOMBA DUBBER.


AUTHOR KASIH BONUS VISUAL NAZIRA 🤗🤗🤗


.) NAZIRA NEELAM ASHALIN

__ADS_1



__ADS_2