Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 100


__ADS_3

Sementara itu ....


Evan membawa Hanna menuju sebuah ruangan khusus yang menyerupai kamar tidur, yang berada di lantai teratas gedung restoran dan kafenya. Setelah kejadian tadi Hanna tampak sangat tertekan. Pertemuan tak terduga dengan mantan bos yang tak pernah diharapkannya.


Evan mendudukkan Hanna di tepi tempat tidur. Membantu melepas jaket bulu yang melekat pada tubuhnya dan menggantung pada sebuah tiang berbahan stainless yang berada di sisi tempat tidur. Kemudian menuang segelas air putih dan memberikan kepada Hanna. Evan dapat melihat tangan Hanna yang masih gemetar memegang gelas, sehingga ia membantu memegangi.


Hanna menarik napas dalam setelah meneguk air putih. Evan mengambil kembali gelas dan meletakkan di meja.


"Kau merasa lebih baik?"


Hanna menjawab dengan anggukan kepala, lalu menatap Evan yang kini berjongkok di hadapannya.


"Apa kau akan mempercayai apa yang dikatakan wanita itu tentangku?" tanyanya dengan tatapan nanar.


"Kenapa aku harus percaya?" Evan menggenggam jemari istrinya, tersenyum dengan hangat dan penuh cinta. "Walaupun seluruh dunia mengatakannya, aku hanya akan percaya padamu saja."


"Kau lihat sendiri, kan. Seperti itulah sikap orang-orang kepadaku selama ini. Mereka merasa memiliki hak untuk menghinaku. Bahkan menganggapku sebagai wanita yang tidak benar dan kemana pun aku pergi, mereka menatapku seperti sebuah penyakit yang berbahaya."


Kali ini tangis Hanna tak terbendung lagi. Membuat Evan kembali mendekapnya dengan erat. Menguatkan istrinya melalui pelukan dan ciuman.


"Maafkan aku." Hanya kalimat itu yang terus dibisikkan Evan di telinga Hanna sebagai bentuk rasa bersalahnya. Walaupun tak sengaja, tetapi dirinyalah yang merasa bertanggungjawab untuk penghinaan yang diterima Hanna selama tujuh tahun ini.


"Aku benci mereka."


Evan semakin mengeratkan pelukannya. Setiap isak tangis Hanna membuat dadanya semakin sesak. Jika saja bisa, akan ia hukum siapapun yang dulu pernah menghina istrinya itu.


Ia melepas pelukan, menciumi punggung tangan Hanna. "Sayang ... Maukah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara kau, Aysel dan pria bernama Xavier itu?"


Bola mata Hanna kembali tergenang oleh cairan bening. Ia tampak ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kau tidak akan percaya padaku walaupun aku mengatakan yang sebenarnya."


"Aku tidak punya alasan untuk meragukanmu." Tangan Evan mengulur membelai kedua sisi wajah istrinya. "Aku hanya perlu mengetahui kenapa wanita itu menuduhmu yang bukan-bukan."


Tiba-tiba dada Hanna terasa sesak. Kejadian masa lalu yang menyakitkan kembali terbayang dalam ingatannya, memaksa matanya untuk menganak sungai.


"Jangan takut, katakan semuanya padaku."


Hanna mengangguk, lalu menarik napas dalam-dalam.


"Hari itu Star kecelakaan, aku berlari membawanya ke rumah sakit. Dia dalam keadaan tidak sadarkan diri lagi. Aku sangat takut kehilangannya."


"Dokter bilang kakinya harus dioperasi. Aku tidak punya uang untuk membayar biayanya. Tidak ada seorang pun yang mau membantuku. Hari itu aku mau meminjam uang kepada nona Aysel tapi dia menolak memberi. Suaminya, Tuan Xavier menghubungiku dan mengatakan akan meminjamkan uang. Malam itu aku mendatanginya ... tapi ternyata Tuan Xavier memiliki maksud lain. Dia malah mau melecehkanku. Dia bilang akan memberikan uang yang kubutuhkan untuk membiayai Star asal aku mau melayaninya."


"Aku memberontak dan berusaha melarikan diri. Saat itu Nona Aysel datang dan mengira aku mau merayu suaminya. Dia juga menuduhku menerima sejumlah uang dari suaminya. Karena kejadian malam itu, mereka bercerai. Nona Aysel menganggapku berhutang dan memaksaku untuk tetap bekerja padanya. Dia akan memotong gajiku 50 persen setiap bulannya untuk membayar hutang. Kalau tidak, dia mengancam akan melaporkanku pada polisi dan memenjarakanku."


"Lalu bagaimana dengan laki-laki bernama Xavier itu?"


"Dia mengelak. Dia menuduhku yang merayunya duluan. Padahal dialah yang memintaku datang dan menawarkan pinjaman."


"Kau tidak katakan pada Aysel? Kenapa kau tidak membela diri?"


"Aku sudah mengatakannya, bahkan aku bersumpah demi anak-anakku tapi dia tidak percaya. Dia malah menyebutku sebagai pelac*ur."


Evan memejamkan mata. Rasanya kemarahan itu semakin membakarnya. Ia tidak tahan lagi.


"Akhirnya aku memilih diam karena apapun yang kukatakan, tidak akan ada yang percaya. Aku akan tetap menjadi pihak yang bersalah. Selain itu, kalau aku ditahan siapa yang akan menjaga Sky dan Star. Mereka tidak punya siapapun selain aku."


Evan menjatuhkan air mata. Membayangkan kehidupan berat yang dijalani Hanna bersama kedua anaknya. Ia menarik Hanna ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Kau menjalani hidup yang sangat berat selama ini dan semua itu karena kesalahanku."


Evan menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya. Menciumi keningnya berulang-ulang.


"Bersabarlah. Aku akan selesaikan masalah ini secepat mungkin."


*


*


*


"Anda memanggil saya?" tanya Osman sesaat setelah memasuki ruangan itu.


Evan tampak sedang duduk di sebuah kursi. Sedangkan Hanna tertidur di balik sebuah sekat yang menjadi pembatas ruangan.


"Iya Osman. Aku ada tugas penting untukmu."


"Tugas apa, Tuan?" tanya Osman yang tampak selalu siap melakukan apapun perintah tuannya.


"Aku ingin kau mencari seorang pria bernama Xavier dan bawa ke hadapanku! Temukan dia meskipun kau harus ke ujung dunia untuk mencarinya!"


Melihat kemarahan yang tertahan di wajah tuannya, Osman sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan Evan terhadap mantan suami Aysel itu.


"Baik, Tuan."


***


Kalau ada typo dan kesalahan, kasih tauk yaaa.... oH ya maafin berantakan. akan segera direvisi.

__ADS_1


__ADS_2