Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 125


__ADS_3

Dengan menahan air mata, Hanna menatap keramaian jalan malam itu. Mobil melaju perlahan, membuat Hanna menjadi tak sabar untuk segera tiba di rumah sakit.


Melihat kegelisahan adik iparnya, Elma berusaha menenangkan dengan menggenggam tangannya. 


“Tenanglah. Kita akan segera tiba. Jangan panik.” 


Hanna pun menyandarkan kepala di bahu kakak iparnya itu.


Melewati sebuah jalan yang cukup padat, perhatian Hanna dan Elma tertuju pada satu titik. Lokasi kecelakaan tunggal yang dialami Evan menimbulkan kemacetan parah.


Beberapa polisi masih terlihat memeriksa di sisi jalan, berikut sebuah mobil derek yang telah siap untuk membawa sebuah mobil, yang diyakini mereka adalah mobil milik Evan setelah melihat jenis dan plat kendaraan. Hanna menjerit histeris ketika melihat kondisi mobil suaminya yang mengalami kerusakan cukup parah. 


 


Ketakutan dan kepanikan yang sejak tadi membelenggu membuat Hanna seakan kehilangan akal sehatnya. Hanya tatapannya yang terus mengarah ke puncak gedung rumah sakit tempat Evan dilarikan—yang dapat terlihat dari tempat mereka berada sekarang. 

__ADS_1


Hanna mengusap air matanya. Saat ini yang ia inginkan hanyalah berada di sisi suaminya dan menemaninya. 


“Kau mau ke mana, Hanna?” Gerakan cepat Hanna yang tiba-tiba turun dari mobil membuat Elma tak ada memiliki waktu untuk mencegah. Wanita itu pun segera turun dari mobil dan berlari menyusul di belakang Hanna. 


Sementara Hanna mempercepat langkahnya berlari melewati barisan kendaraan yang terhenti oleh kemacetan. Tak peduli lagi dengan tubuh lemahnya, ia terus berlari hingga tiba di gedung rumah sakit. 


Pandangannya berkeliling setelah sebuah pintu kaca otomatis terbuka lebar. Dengan panik ia berlari menuju ruang informasi dan bertanya kepada seorang petugas dengan menggunakan bahasa Indonesia seadanya.


Hanna belum sepenuhnya menguasai bahasa dari negara asal suaminya itu, sehingga membuat beberapa petugas ikut kebingungan. Sebagian dari mereka hanya menatap heran seorang wanita cantik berdarah Timur Tengah dengan piyama dan rambut tergerai acak-acakan yang sedang menangis itu. 


“Maaf, kami keluarga dari pasien atas nama Ervan Maliq Azkara yang baru saja mengalami kecelakaan tidak jauh dari rumah sakit ini. Sekarang di mana dia?” Dengan napas memburu, Elma yang baru tiba bertanya kepada seorang petugas.


"Iya, benar."


“Pasien kecelakaan tadi masih ditangani di ruang Instalasi Gawat Darurat, Dokter.” Wanita berpakaian serba putih itu menunjuk ke satu arah, yang membuat Hanna langsung berlari. 

__ADS_1


“Baik, terima kasih,” ucap Elma dengan senyum seadanya. Langsung menyusul mengikuti adik iparnya. 


Langkah Hanna terhenti di ujung lorong. Dari jarak kurang dari sepuluh meter, terlihat Fahri dan Zian duduk di sebuah kursi panjang berbahan stainless dengan kepala tertunduk. Perlahan Hanna melangkah meskipun dengan irama jantung yang semakin tak menentu. Ketakutan itu semakin nyata merasuki hatinya. 


Fahri dan Zian spontan menoleh dan langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya. 


 


Katakan suamiku baik-baik saja, meskipun kalian harus berbohong! Begitu tatapan Hanna berbicara. 


“Hanna ...” Meskipun suara Fahri terdengar berat, namun sulung di keluarga Azkara itu selalu berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi apapun. 


“Katakan suamiku baik-baik saja, Kak!” lirih Hanna dengan derasnya air mata yang mengalir di kedua sisi pipinya. 


Fahri dan Zian saling melirik satu sama lain. Tidak ada kata yang dapat terucap dari bibir keduanya. Yang mereka lakukan hanya memeluk Hanna. 

__ADS_1


Seketika, ruangan sunyi itu dipenuhi isak tangis. 


***


__ADS_2