Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 46


__ADS_3

“Hanna--” Evan mendekat pada Hanna yang tengah duduk di sisi pembaringan dalam posisi telungkup memeluk kedua lututnya.


Evan berjongkok, ia mengulurkan tangan mengusap rambut panjang yang sedikit berantakan, lalu mengusap turun ke bahu.


"Hanna," panggilnya lembut sekali lagi.


Kali ini Hanna mendongakkan kepala. Meskipun pencahayaan meredup karena hanya satu lampu yang menyala, namun Evan dapat melihat mata Hanna yang sembab dan memerah. Juga bulu matanya masih tampak basah oleh sisa air mata.


"Mau apa kau?" lirih Hanna. Tatapannya seolah ingin melum*at Evan. "Untuk apa kau kemari?"


"Tenang dulu Hanna ... Aku kemari untuk menjemputmu. Ayo kita pulang, anak-anak membutuhkanmu."


"Aku tidak mau ikut denganmu lagi! Aku sudah sangat lelah."


"Aku tahu, Hanna. Kau lelah, tapi semua tidak akan selesai dengan cara seperti ini. Ayolah, kita pulang dan bicara dengan kepala dingin."


"Pulang kemana? Aku tidak ada tempat untuk pulang." Hana menyeka air mata yang baru saja lolos di ujung matanya. "Tolong pergilah!" teriaknya ketika Evan masih berada di hadapannya.


Kesabaran Evan pun seolah diuji.

__ADS_1


"Hanna, apa sebenarnya yang kau inginkan? Beritahu aku? Apa kau pikir pergi dari rumah bisa menyelesaikan masalahmu? Kau tidak bisa memikirkan dirimu sendiri, kau egois dan sangat keras kepala."


Mendengar ucapan Evan, Hanna bangkit. Ia mendorong Evan hingga mundur beberapa langkah. Detik itu juga air matanya jatuh tak tertahan hingga menyisakan suara sesegukan.


"Kau bilang aku keras kepala dan egois? Hinaan dan cacian kalian semua lah yang menjadikanku sekeras ini. Kau menuntutku bersikap dewasa, saat kau telah menjatuhkanku ke dalam kubangan lumpur dan seluruh dunia tertawa untuk itu."


"Apa kau sadar? Kau lah yang membuatku dihina karena hamil tanpa suami, kau yang membuat semua orang menuduhku sebagai wanita penggoda yang memiliki anak anak dari hasil hubungan gelap."


Ia berapi-api meluapkan segala emosi. Amarah, kekecewaan, kesedihan dan sakit yang selama ini mengendap laksana gunung berapi yang siap memuntahkan lahar--yang seakan sanggup melahap apapun.


Evan tersadar, ia berusaha meraih tubuhnya, memeluk. Namun Hanna menepis dengan kasar.


"Aku wanita miskin dan tidak punya apa2. berbeda denganmu, kau berasal dari keluarga terhormat, kau orang terkaya di Amasya. Jika bukan karena aku merayumu, kau tidak akan melirikku sampai punya anak dari wanita murahan sepertiku! Bisakah kau hilangkan semua penilaian buruk itu dari pikiran semua orang? Bahkan sekarang pelayan di rumahmu menilai aku lah yang merayumu sampai hadir Sky dan Star!"


"Lalu bagaimana kau akan membersihkan lumpur yang sudah terlanjur mengotori ku? Bagaimana?"


Evan terdiam. Cairan bening mulai menggenang di bola matanya tatkala Hanna meluapkan segala beban berat yang ia pikul seorang diri dalam tangis.


"Kau tetap tidak akan bisa walaupun kau menghabiskan seluruh hartamu! Karena kau sendiri lah orang yang sudah menjadikanku wanita murahan malam itu! Kau yang mengawali semuanya."

__ADS_1


Evan terhenyak, sesak hingga merasa tak mampu memikul rasa bersalah.


"Aku sangat lelah. Apa aku tidak punya hak untuk lelah dengan semua hinaan itu? Kau dan mereka menuntutku bersikap dewasa kan? Katakan aku harus apa? Aku tidak memiliki kekuatan lagi untuk bertahan," lirih Hanna menahan isak tangis.


Evan meraih tubuh Hanna, membenamkan tubuh lelah itu ke dalam pelukannya. Meskipun berkali-kali Hanna berusaha mendorongnya, namun pelukan Evan begitu erat, hingga tak memberinya ruang untuk melepaskan diri.


"Sayang ... dengarkan aku. Aku minta minta maaf. Semua ini salahku, bukan salahmu. Dan mereka tidak tahu yang sebenarnya. Aku lah yang terlalu menginginkanmu, aku terlalu mencintaimu sampai menanamkan bibit kebencian saat tidak bisa memilikimu. Kau sangat berharga bagiku."


Evan mengusap-usap punggungnya dengan sentuhan lembut.


"Setelah semua ini, kita akan mulai semuanya dari awal. Di tempat yang baru, di lingkungan yang baru. Di mana tidak ada seorang pun yang akan menghinamu. Sekarang menangis lah sepuasmu."


Hanna larut dalam pelukan laki-laki itu, meluapkan tangisannya yang semakin lama semakin kencang.


Sementara Osman yang berdiri di depan pintu mengusap ujung matanya. Menoleh pada beberapa orang yang juga masih berada di sana. Mata Nyonya Ursula, Nyonya Gulsha, Nenek Laura dan beberapa tetangga lain pun tampak basah oleh air mata. Mereka tenggelam dalam rasa bersalah.


Mereka sadar ... bukan salah Hanna jika memiliki hati sekeras batu. Mereka lah yang mengeroyoknya dengan hinaan dan cacian.


***

__ADS_1


__ADS_2