
"Kau yakin?" tanya Evan menoleh pada Osman yang berdiri tak jauh darinya.
"Iya, Tuan. Meskipun rumah tempat mereka disekap belum diketahui pasti, tapi setidaknya lokasinya sudah terlacak. Kita hanya perlu menyisir daerah itu dan mencari ke setiap sudut, sebelum mereka pindah ke tempat lain."
Seketika tangis Hanna terhenti mendengar ucapan Osman, begitu pula dengan saudara-saudara iparnya. Setidaknya keberadaan Sky dan Star telah diketahui.
"Aku mau ikut. Aku harus ikut mencari anakku," ucap Hanna menarik-narik ujung pakaian suaminya dengan tatapan memelas.
"Tidak Hanna ... Kau di rumah saja. Kita tidak tahu seberbahaya apa di sana," bujuk Evan mencoba melembutkan suara. "Lagi pula kondisi tubuhmu sangat lemah."
"Aku tidak apa-apa. Aku mohon biarkan aku ikut. Aku tidak bisa diam saja seperti ini sementara anak-anakku di luar sana dalam bahaya."
Entah harus berkata apa, Evan hanya memeluknya lagi, lalu memberi Elma sebuah kode dengan lirikan mata. Elma yang juga merupakan seorang dokter pun langsung mengerti maksudnya.
Ia keluar dari kamar dan kembali dalam beberapa menit. Hanna masih tampak memohon untuk diizinkan ikut. Namun untuk berdiri saja ia tampak tak sanggup dan hanya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Bergumam-gumam memohon.
Elma kemudian menyuntikkan sesuatu ke lengan kanannya.
"Apa yang diberikan Kak Elma padaku?" tanya Hanna setelah menyadari Elma baru saja memberinya suntikan.
"Itu hanya penenang. Kau sangat gelisah sekarang," jawab Evan. "Tenanglah, Sayang." Evan masih menyandarkan wanita itu di bahunya, sambil terus mengusap punggungnya. Hingga beberapa saat kemudian, kesadarannya mulai menurun.
"Berjanjilah kau akan membawa mereka pulang! Aku mohon!" gumam Hanna dengan sisa kesadaran.
__ADS_1
"Aku berjanji. Sekarang istirahatlah. Kau pasti sangat lelah."
Setelah Hanna tertidur, Evan keluar dari kamar bersama Osman dengan tergesa.
"Kita harus berhati-hati. Aku tidak mau ambil resiko dan mempertaruhkan keselamatan anak-anakku."
"Tenang saja, Tuan. Botak sudah memerintahkan orang-orangnya bergerak dan mengepung daerah itu. Sekarang penculiknya pasti tidak akan bisa lolos. Karena semua akses keluar dari daerah itu sudah ditutup. Mereka juga sudah mulai menyisir daerah itu."
Osman melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Di depan mereka juga tampak beberapa mobil lain yang berisi orang-orang KIA.
"Kau sudah lakukan apa yang kuminta?" tanyanya.
"Iya, Tuan. Ada di kursi belakang"
Evan melirik ke kursi penumpang belakang di mana terdapat beberapa kotak makanan. Ya, ia memintanya untuk Sky dan Star.
*
*
*
*
__ADS_1
"Berhenti menangis! Apa kau tidak lelah menangis terus?" teriak Cleo kesal karena Star tak pernah berhenti menangis hingga suaranya mulai terdengar serak.
Sky memeluk adiknya yang terus menangis. Melindunginya dari kemarahan wanita jahat itu.
"Kalau aku kembali dan kau masih menangis juga, maka aku akan memukulmu seperti memukul kakakmu tadi. Mengerti!"
Ia keluar dari kamar tempatnya mengurung Sky dan Star dengan membanting pintu kuat-kuat, sehingga dua bocah itu terlonjak.
Sky mengusap kening adiknya. Ia merasakan suhu panas menjalar dari sana. Dulu mommy-nya akan mengompres kening Star jika mengalami demam. Namun kini tidak ada apapun yang dapat digunakan Sky untuk merawat adiknya.
Akhirnya, ia membaringkan Star di pahanya, lalu mengusap-usap dada Star. Gadis kecil itu juga mulai sesak napas sekarang.
"Kenapa Daddy belum menjemput kita?" lirih Star dengan terisak-isak.
"Nanti Daddy dan Paman Osman juga datang menjemput kita. Dan aku akan meminta Daddy menghukum tante jahat itu."
"Kakak ... ayo cepat beritahu Daddy kalau kita di sini?"
"Tenang saja. Daddy pasti datang. Seperti saat Daddy menemukan kita di halte bus."
Sky terus mengusap rambut adiknya, hingga gadis kecil itu mulai mengantuk karena kelelahan menangis.
Ia lalu meletakkan kepala adiknya ke atas karpet tempatnya berbaring, lalu beranjak menuju pintu. Namun, saat memutar gagang pintu, ternyata dikunci dari luar. Sky pun melirik jendela kaca di ruangan itu.
__ADS_1
"Tunggu di sini Star. Aku akan pergi mencari Daddy."
****