
Osman membuka pintu mobil untuk tuannya yang baru saja menyelesaikan misi balas dendam atas penghinaan yang diterima Hanna beberapa tahun lalu. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali tampak melirik ke kursi belakang melalui kaca spion. Evan masih diam dengan tatapan tertuju keluar jendela.
“Osman ...”
“Iya, Tuan!”
“Kau sudah perintahkan orang-orangmu untuk membawa laki-laki itu ke rumah sakit, kan?”
“Sudah, Tuan. Mereka pasti sudah membawanya sekarang.”
“Baiklah, jangan sampai dia mati.”
"Baik."
Evan kembali terdiam. Memijat pangkal hidungnya dengan jari. Memikirkan beberapa masalah yang akhir-akhir ini datang silih berganti. Belum lagi kasus keracunan yang menimpa putri Aysel di restoran yang mengharuskan Evan dan Hanna untuk menetap lebih lama di Amasya dan terpisah dari anak-anaknya untuk sementara.
“Lalu bagaimana perkembangan kasus restoran. Aku tidak bisa tinggal lebih lama di Amasya.”
“Kita tinggal menunggu keteragan dari Nona Aysel. Setelah itu semua akan jelas.”
.
.
.
Evan membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara. Ia melongokkan kepala ke dalam.
Lampu utama sudah dimatikan menyisakan cahaya dari lampu tidur. Dari sana Evan dapat melihat Hanna yang sudah terlelap di bawah selimut, membuat laki-laki itu mengusap dada.
Lega!
Paling tidak, ia tak perlu repot mencari sebuah alasan untuk diberikan kepada istrinya.
Pelan-pelan kakinya melangkah masuk. Layaknya seorang pencuri, Evan mengendap-endap. Melepas sepatu dan meletakkan di sudut ruangan. Ia harus segera mengganti pakaian sebelum Hanna terbangun dan melihat bercak darah pada kemejanya.
__ADS_1
"Kau dari mana saja?" Suara Hanna membuat Evan terlonjak. Ia bahkan tak berani lagi membalikkan tubuhnya.
"Em ... maaf, Sayang. Aku ada urusan yang harus diselesaikan dengan Osman. Makanya pulang agak malam."
Evan buru-buru melepas jas dan meletakkan di keranjang pakaian kotor. Sementara Hanna yang melihat suaminya mengganti pakaian dalam keadaan gelap, berinisiatif membantu sang suami dengan menyalakan lampu.
Dipikirnya sang suami tak mau menyalakan lampu karena akan mengganggu tidurnya.
"Sini, aku bantu!" Hanna berjalan ke arahnya.
Kelopak mata Evan pun melebar ketika lampu menyala terang hingga noda darah di kemejanya terlihat dengan jelas. Membuat sudut mata Hanna mengerut dan menatap curiga.
"Kenapa di kemejamu ada noda darahnya?"
Gawat! Sekarang aku harus pakai alasan apa?
Bola mata Evan berputar, memikirkan sebuah jawaban yang masuk akal untuk diberikan kepada Hanna. Padahal sudah susah payah menyembunyikan, malah ketahuan juga.
"Tadi ... Ada pasien kecelakaan dan aku membantunya."
"Pasien kecelakaan? Apa tidak ada dokter lain? Kau kan dokter kandungan."
Evan menggaruk kepalanya. Bingung harus menjawab apa.
"Dokternya sudah pulang semua. Jadi terpaksa aku membantu. Tidak apa-apa, kan sesekali membantu orang?" Evan tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
"Benar, kau habis menolong orang, bukan habis memukuli orang, kan?" Hanna hendak memastikan. Karena tadi suaminya itu keluar dalam keadaan sangat marah.
"Iya, benar. Memang siapa yang mau dipukuli?"
Meskipun masih curiga dengan penjelasan suaminya, namun Hanna tak memperpanjang. Ia membuka kemeja seraya berdecak.
"Pasiennya terluka parah ya, sampai berdarah-darah begini?"
"Lumayan. Hidungnya mimisan, bibirnya juga mengeluarkan darah. Selain itu wajahnya lebam di beberapa bagian."
__ADS_1
"Itu pasien kecelakaan atau dipukuli?" tanya Hanna. "Lihat, darahnya sampai sebanyak ini. Aku jadi mual melihatnya."
Hanna menutup mulutnya dengan tangan. Tiba-tiba merasa sangat mual. Ia berlari ke kamar mandi dan muntah. Bau amis dari darah itu seakan membuat perutnya berputar.
Sementara Evan mengikuti dan memijat tengkuk lehernya.
"Maaf, Sayang. Aku kan tidak tahu kalau darah Xavier bodoh itu menempel di kemejaku," ucap Evan tanpa sadar akibat panik.
Hanna membasuh wajahnya dengan air. Lalu menatap suaminya dengan curiga.
"Xavier? Sebenarnya kau habis dari mana?"
Evan mengatupkan bibirnya. Sepertinya sangat sulit untuk berbohong.
"Ampun, Sayang! Aku tidak dari mana-mana. Sungguh! Aku benar-benar dari rumah sakit."
"Tapi tadi kau menyebut nama Xavier."
Evan gelagapan. Tidak tahu lagi harus mencari alasan apa.
"Pasien tadi ... namanya Xavier. Kalau tidak percaya, tanya saja Osman."
"Apa Osman juga ada di rumah sakit?"
"Tentu saja. Dia kan selalu ada di mana pun aku berada." Evan mengusap wajah istrinya yang tampak memucat setelah muntah. Mengeringkan sisa-sisa air yang menempel di wajahnya dengan handuk kecil.
Tak ingin pembicaraan berkepanjangan, ia merangkul Hanna keluar dari kamar mandi. Kemudian membaringkannya di tempat tidur.
"Sepertinya kau sakit. Wajahmu sangat pucat. Aku periksa dulu ya ..."
Ia mengeluarkan alat stetoskop di dalam laci, kemudian membuka kancing piyama istrinya hingga memperlihatkan belahan buah semangka, yang malah membuat konsentrasi Evan membuyar. Benda kembar itu selalu saja menggodanya.
"Sayang ... Apa Osman juga membantu pasien bernama Xavier itu?"
"Tidak. Dia bahkan diam saja saat aku menghajarnya," jawab Evan tanpa sadar. membuat Hanna menarik napas dalam.
__ADS_1
"Kau ini sebenarnya dari mana?"
***