Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 133


__ADS_3

Seketika bola mata Hanna tergenang oleh cairan bening yang sayangnya semakin lama semakin tak dapat ia kendalikan. Untuk menyembunyikan dan menggantinya dengan senyum seperti biasanya pun tak mungkin. Evan menatapnya lekat, sehingga Hanna terpaku di sana.


"Jangan bicara begitu. Kita akan melakukan apapun untuk menyembuhkanmu. Kak Elma bilang, mereka sudah menghubungi seorang ahli bedah ortopedi di Jerman. Kita akan segera berangkat ke sana."


Evan menatap ke dalam mata Hanna. Melihat harapan besar yang tersirat dalam tatapan istrinya membuat Evan merasa tak tega untuk mematahkan. Meskipun ia tahu kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi.


Sebagai seorang dokter, ia pun sudah dapat meraba apa terjadi kepada dirinya, meskipun keluarga besar Azkara berusaha menyembunyikan.


"Maafkan aku." Senyuman tipis terbit di sudut bibirnya seraya mengelus rambut sang istri dengan lembut. "Kau benar, Sayang."


"Bukankah Star juga pernah mengalami patah tulang kaki? Tapi lihat, sekarang dia sudah sembuh dan bisa berjalan normal seperti anak-anak lain."


Evan menggenggam jemari istrinya, menciumi punggung tangannya. "Iya, semoga saja." Hanya kalimat singkat itu yang dapat ia ucapkan.


Mereka saling memeluk satu sama lain dan saling menguatkan.


"Kalau begitu jangan menyembunyikan air matamu lagi. Setidaknya biarkan aku yang menghapusnya."


"Baiklah, aku berjanji."


Evan menghapus air mata yang membasahi wajah Hanna, diikuti dengan kecupan sayang di kening.


.


.

__ADS_1


.


Pagi harinya ....


Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai yang tersibak. Evan menggeliat pelan ketika merasakan sinar yang menyilaukan mata. Terbaring gelisah dengan sisa-sisa kantuk.


Pria itu membalikkan wajahnya ke sisi kanan demi menemukan kenyamanan tidur, namun yang ia dapati malah benda kenyal dan lembut yang terus bermain di wajahnya. Juga aroma parfum lembut yang menguar memanjakan Indra penciumannya.


"Selamat pagi, Sayang," bisik Hanna dengan mesra sembari terus menghujani wajah suaminya dengan ciuman lembut.


"Emh, selamat pagi," jawab Evan seadanya, dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.


Ia lantas membuka mata dan melirik Hanna yang pagi ini terlihat begitu cantik. Sambutan pagi yang menghangatkan hatinya.


Hanna melanjutkan kegiatannya dengan menghujani wajah itu dengan ciuman. Tak puas di sana, ia pun turun ke bagian leher. Dan seperti biasa, hal yang paling disukai wanita itu adalah menyesap aroma tubuh suaminya. Menciumi leher dan membuka dua kancing piyama hingga menampakkan dada bidang itu.


"Tidak mau apa-apa. Hanya mau melakukan apa yang sering kau lakukan padaku di pagi hari," bisik Hanna menggoda dengan sedikit mendesahkan napasnya ke telinga sang suami. Evan sampai merinding dibuatnya.


Evan terkekeh. "Tapi aku tidak bisa, Hanna. Satu kakiku tidak bisa bergerak."


"Aku tahu. Makanya biar aku saja, kau hanya perlu diam, diam dan diam!"


"Tidak, jangan! Itu rawan untuk wanita hamil."


"Sttt! Jangan ribut!" Meletakkan jari telunjuk di depan hidung Evan.

__ADS_1


Ciuman itu semakin dalam. Hanna menjelajahi tubuh suaminya dengan kelembutan. Hingga mereka tak tahu lagi sejak kapan piyama yang membalut tubuh Evan teronggok di sisi pembaringan.


Hanna pun berhasil menggambar pulau kecil berwarna merah di sekitar dada suaminya.


Ceklek! Suara decitan pintu terdengar, membuat kelopak mata Hanna melebar saat itu juga.


Secepat cahaya kilat, ia turun dari atas tubuh suaminya dan langsung berdiri di sisi ranjang, membenarkan pakaiannya yang sudah sudah setengah terbuka.


Astaga! Kenapa aku bisa lupa mengunci pintu? Untung mereka belum sempat melihat apapun. Aduh aduh, kenapa harus selalu ada gangguan seperti ini? Ia melirik Evan dengan senyum malu-malu.


"Sky, Star!" Hanna berusaha menyamarkan rona merah di wajahnya.


Sedangkan Evan mengatupkan bibir, kepanikan Hanna terasa sangat menggelitik perutnya. Terlebih, dengan paniknya wanita itu berusaha menyembunyikan benda berbentuk kacamata miliknya yang teronggok di lantai, yang kemudian ia geser ke bawah tempat tidur dengan kaki.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2