Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 57


__ADS_3

Tidak pernah terpikir oleh Hanna Cabrera sebelumnya, jika kebahagiaan akan menjadi miliknya suatu hari nanti.


Menikah dan memiliki sebuah keluarga yang hangat mungkin hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Hidupnya terlalu rumit dan banyak masalah. Namun kini semua terjawab, keluarga Azkara menjadikannya wanita paling bahagia saat ini.


Sedangkan bagi Evan, mungkin memiliki Hanna adalah hadiah terindah baginya. Tidak ada yang lebih baik selain hidup dengan orang-orang yang dicintai.


"Sayang, apa kau lelah?" tanya Evan menatap wajah Hanna dengan penuh cinta.


Tiga jam mereka menyalami tamu-tamu yang berdatangan memberi ucapan selamat.


"Sedikit, tapi tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Kau baru tiba dari Turki. Pasti perjalananmu sangat melelahkan."


Evan tersenyum seraya mengeratkan genggaman tangannya. "Tidak juga. Selama di pesawat aku tertidur dan baru bangun saat di hotel. Manusia menyebalkan itu membiusku dengan chloroform."


Hanna terkekeh membayangkan bagaimana Botak menculik Evan. "Pasti kejadiannya sangat merepotkan. Biasanya seorang dokter yang membius, tapi sekarang malah dokternya yang dibius."


"Dan hanya Botak yang bisa melakukannya."


Mereka tertawa.


Hanna dan Evan lalu melirik ke sisi kanan ruangan. Di sana seluruh keluarga berkumpul. Sky dan Star tampak sangat bahagia. Keluarga memperlakukan mereka dengan sangat istimewa. Star sedang makan puding kesukaannya dengan disuapi oleh Kay, anak Dokter Fahri yang kini berusia 17 tahun.


Kay menuruni karakter ayahnya. Ia penyayang, namun sangat disiplin terhadap adik-adik sepupunya. Meskipun anak tunggal, namun ia tak merasa begitu. Karena Kay memperlakukan adik sepupunya seperti adik kandung sendiri.


"Kakak Kay, apa boleh minta tambah?" tanya Star setelah suapan puding terakhir.


"Tentu saja, Sayang. Kau boleh makan sebanyak apapun. Biar saja perut kecilmu ini jadi gendut seperti badut," balas Kay dengan menggelitik perut Star. Membuat Star tertawa karena sensasi geli.


Di sisi lain, Sky sedang bermain dengan anak saudara kembar daddynya. Briel dan Bry--anak Elsa dan Dokter Willy-- yang juga terlahir kembar. Kini usia mereka menginjak sembilan tahun. Selain itu ada Alyssa dan Allan, anak dari pasangan Dimas Anita--saudara angkat keluarga Azkara.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka ada Zian, yang sedang mengobrol dengan saudara-saudara lain. Melihat tiga pasang anak kembar dalam keluarganya sangat menyenangkan, namun mengundang rasa iri. Ya, ia tidak berhasil mendapatkan anak kembar. Nayla, anak keduanya kini berusia delapan tahun.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Zian.


"Jangan tanya apapun! Kami tidak akan sanggup menjawabnya!" balas Fahri.


Meskipun usia Zian sudah menginjak kepala empat, namun kebiasaannya tak pernah berubah sedikit pun. Senang menculik dan senang merepotkan saudara-saudaranya dengan pertanyaan yang kadang tidak penting.


"Memang Kak Zian mau tanya apa?" imbuh Rafli.


Manusia satu ini paling sering menjadi korban, namun ia sama sekali tak pernah jera.


"Apa kalian tahu negara paling romantis di dunia?"


Fahri, Dimas dan Rafli terkekeh.


"Kau sedang merencanakan apa lagi? Kau pernah menculikku hanya untuk bertanya tentang cuaca di Barcelona," kenang Fahri.


"Kau juga pernah menculik Evan hanya untuk bertanya negara terdingin di dunia." ~ Fahri.


"Dan kau pernah menculik kami dan mengirim ke Swiss. Padahal kau tahu aku tidak suka cuaca dingin." ~ Anita.


"Kak Zian juga pernah menculikku hanya untuk bertanya di mana Naya membeli lingerie," Kenang Elsa, bungsu dari Azkara bersaudara itu.


"Jadi kali ini tidak usah merencanakan penculikan apapun lagi. Karena bagi pengantin baru, tempat paling romantis adalah di kamar berdua. Tanpa gangguan saudara dan anak-anak. Hanya butuh pil setan saja," tambah Dokter Willy, mengingat di awal menikah dengan Elsa, saudara iparnya itu terus mengganggunya dengan sesuatu yang kadang tidak penting.


Zian menarik napas dalam. Merasa semua dosa-dosanya terbongkar di meja makan.


"Kalian selalu menuduh sembarangan. Aku tidak pernah menculik kalian. Kalau sedang sibuk, kenapa tidak katakan pada Botak. Malah kalian ikut dengan sukarela."

__ADS_1


Willy terkekeh. "Bagaimana tidak sukarela kalau wajahnya sangat menyebalkan?"


Zian merasa tersentil.


"Apa kalian semua belum makan? Sepertinya kalian sedang lapar. Kata orang, lapar itu bisa merubah orang," ucap Zian.


"Selalu saja kalimat itu yang terucap saat sudah terpojok," balas mereka semua dengan tertawa.


_


_


_


"Keluargamu penuh dengan kejutan. Aku sangat menyukai mereka," ucap Hanna.


"Bukan keluargaku, tapi keluarga kita. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga Azkara." Evan merangkul pinggang istrinya. "Kau sudah mengenal mereka semua kan?"


Hanna mengangguk. "Sudah. Mereka semua sangat ramah dan menyenangkan. Terima kasih sudah mengizinkanku menjadi bagian dari kalian."


"Kau yang paling layak untuk itu."


Pesta berlanjut dengan meriah, dilanjutkan dengan berbagai hiburan menarik. Azkara bersaudara benar-benar membuat sebuah resepsi pernikahan yang tak hanya mewah tapi juga berkesan.


Tiba-tiba senyum di wajah Hanna meredup kala pandangannya tertuju pada seorang wanita yang mengenakan gaun hitam, berdiri dalam jarak beberapa meter dari mereka.


"Ada apa?" tanya Evan begitu menyadari wajah serius Hanna.


"Tidak apa-apa. Sepertinya aku hanya salah lihat orang."

__ADS_1


****


Yang kemarin bertanya nama anak-anak, sudah terjawab ya... 🤭🤭🤭


__ADS_2