Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 110


__ADS_3

"Daddyku akan membelinya untukku!"


Mata Sky mulai tergenang cairan bening. Melirik kotak mainan yang sekarang yang dipegang oleh Ozkan. Sudah sangat lama ia menginginkan mainan itu, tetapi baru menemukannya.


"Apa daddymu punya cukup uang?" Ozkan enggan melepas kotak mainan itu. Malah sekarang menyelip di antara lengan dan ketiaknya. "Daddymu tidak akan sanggup membelinya karena mainan ini sangat mahal."


"Daddyku punya uang untuk membelinya!"


Ozkan melayangkan tatapan seolah meremehkan.


"Memangnya daddymu siapa? Daddymu tidak akan punya uang yang cukup untuk membeli mainan ini. Apa kau tidak tahu berapa harga mainan ini?"


"Ayahku baru pulang dari Istanbul. Setiap dia kembali, ayahku akan membelikan mainan untukku. Apa daddymu bisa seperti itu?"


Sky menunduk. Sesekali tatapannya mengarah pada mainan itu. Melihat kakaknya berdebat dengan Ozkan, Star pun mendekat dan memeluknya. Kemudian melirik sebuah kursi di mana tadi pengasuh mereka duduk, tetapi wanita itu tak terlihat di sana.


Kemana Bibi Celia?


Akhirnya, Star pun memilih berlari keluar. Menuju toko pakaian tempat mommy-nya tadi berbelanja.


"Ada apa Ozkan?" Suara berat seorang pria mengalihkan perhatian Ozkan. Ia menatap ayahnya yang tengah berdiri di sisinya.


"Aku mau mainan ini, Ayah! Tapi Sky mau mengambilnya dariku."

__ADS_1


Bola mata pria itu pun membulat penuh. Betapa tidak, ia baru menyadari siapa yang tengah berebut mainan dengan putranya.


"Tuan Muda, Nona kecil?"


Membuat Ozkan menatapnya penuh tanya.


"Kenapa ayah memanggilnya Tuan Muda? Dia kan Sky, tetangga kita dulu, Ayah!" ucap Ozkan. "Sky itu anak yang sering kedapatan mencuri di tokonya Nyonya Ursula."


"Jaga bicaramu, Ozkan!" pekik pria itu. "Sopan lah sedikit."


Sky terdiam dengan kepala menunduk. Bola matanya tergenang oleh cairan bening, serta bibir saling mengatup. Ia tak memiliki keberanian lagi untuk mengangkat kepala.


"Tapi itu memang benar, Ayah! Sky dulu sering mencuri roti di toko Nyonya Ursula. Aku sering melihat Nyonya Ursula memarahinya. Iya kan, Sky? Kau suka mencuri."


"Maaf, ada apa ini?"


"Daddy ..."


Evan tersenyum lembut, membenamkan Sky ke dalam pelukannya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Tidak apa-apa, Nak."


Kelopak mata Ozkan membulat, menatap seorang pria yang sedang memeluk Sky. Ada banyak tanda tanya yang tiba-tiba muncul di benaknya. Sedangkan ayah Ozkan sudah menunduk dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Tuan ... maafkan anak saya. Dia tidak tahu siapa Tuan Muda."


Evan tersenyum. "Tidak apa-apa, mereka hanya anak-anak. Tidak perlu dipermasalahkan."


"Tapi saya jadi tidak enak, Tuan. Anda adalah bos saya dan anak saya baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pantas terhadap Tuan Muda."


Kening Evan berkerut bingung. Mencoba mengingat-ingat siapa pria yang berdiri di hadapannya. Tapi sama sekali tak dapat mengingat apapun. Ia merasa belum pernah bertemu pria itu sebelumnya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa mengingatmu."


"Saya bekerja di bagian penyediaan bahan di Istanbul, Tuan. Saya kembali ke Amasya setiap dua Minggu sekali dan Ozkan adalah anak saya. Kami lama bertetangga dengan Nona Hanna dan Tuan Muda."


"Oh ... Kebetulan sekali." Evan tampak cukup santai.


"Daddy ... Kakak mau mainan itu, tapi Ozkan merebutnya dari kakak," ucap Star sambil menarik-narik ujung pakaian daddynya.


Membuat Ozkan menyembunyikan kotak mainan itu ke belakang punggungnya.


Sementara wajah ayah Ozkan terlihat merah padam.


"Ozkan ... Minta maaflah kepada Tuan Muda Sky, karena dia adalah anak bos ayah," ucap pria itu.


Membuat Ozkan terkejut.

__ADS_1


"Anak bos Ayah?"


****


__ADS_2