
“Apa yang kau katakan Sky?” tanya Hanna.
Sky melirik mommy-nya dengan mata berkaca-kaca. Begitu pun dengan Star yang masih memeluknya seakan tak rela siapapun menyakiti.
“Mommy ayo kita pulang ke Amasya saja. Di Amasya tidak ada yang akan menghukum Mommy. Di sini daddy akan menghukum mommy,” jawab Sky dengan polosnya.
“Iya, Mommy. Tadi aku juga dengar daddy bilang mau menghukum Mommy.” Star membujuk Hanna dengan menarik lengannya. “Kita pulang ke Amasya saja, Mommy. Daddy jahat.”
Rona merah di wajah Hanna semakin terlihat jelas. Ia menunduk malu, begitu pun dengan Evan yang melirik anggota keluarganya satu-persatu. Ia dapat melihat betapa mereka semua berusaha menahan tawanya.
Evan maju dan berjongkok di hadapan Sky, membuat bocah polos itu kembali merentangkan tangannya. “Jangan hukum mommy!”
“Daddy tidak akan menghukum mommy, Sky.”
“Daddy bohong. Tadi aku dengar Daddy bilang sendiri.”
Pandangan Evan kemudian tertuju kepada Hanna, lalu melirik saudara-saudaranya lagi.
__ADS_1
Ya ampun, ini memalukan. Mereka mendengar obrolanku dengan Hanna tadi.
Evan menarik napas dalam-dalam demi mengurai rasa malu yang kian membakarnya. Tangannya menyentuh lengan Sky yang masih ia rentangkan, lalu menurunkannya. “Sky ... Bukan hukuman seperti itu, Nak. Daddy tadi hanya bercanda dengan mommy. Em .. Bagaimana kalau kita ke kamarmu saja. Ini sudah malam, waktunya untuk tidur.”
“Aku akan membawa mommy ke kamarku. Biar Daddy tidak bisa menghukum mommy-ku,” pekik Sky tak terima.
Sky berjalan menuju Hanna dan menarik lengannya. “Mommy, ayo kita ke kamarku saja. Aku akan menjaga Mommy. Daddy tidak akan bisa menghukum Mommy.”
Hanna yang wajahnya masih memerah itu hanya dapat menunduk malu. Ia tak berani menatap ipar-iparnya. “Hentikan, Sky! Jaga sikapmu. Jangan seperti ini.”
Sky terdiam, tetapi masih menggenggam erat tangan mommy-nya. Kemudian melirik Evan dengan raut wajah sedih.
“Lebih baik sekarang kita berfoto dulu. Ayo, Sky ... Star ... Kita harus membuat foto keluarga,” sambar Elma dengan cepat. Melihat kecanggungan yang tiba-tiba tercipta antara Evan dan Hanna. “Evan, ayo berdiri di samping Hanna.”
Dengan menahan malu, Evan berjalan mendekat dan berdiri di samping Hanna. Namun Sky dan Star tidak memberi celah. Ia menjadi penengah antara daddy dan mommy-nya.
****
__ADS_1
Sesi berfoto yang cukup memalukan bagi Hanna dan Evan selesai.
Beberapa kerabat sudah pulang ke rumah masih-masing. Selepas berfoto Sky dan Star membawa Hanna ke kamar mereka. Sepertinya akan ada kegagalan malam ini karena salah paham antara kedua anaknya.
Sementara Zian sudah tidak tahan lagi menahan sensasi yang terasa menggelitik perutnya. Kini ia dapat tertawa lepas setelah sebagian penghuni rumah sudah masuk, meninggalkan para lelaki yang masih berada di taman.
“Sepertinya tidak akan mudah bagimu untuk bisa menghukum Hanna. Dia punya dua perisai yang akan melindunginya dari buasnya dirimu, haha!” ujar Zian dengan tawa lepas.
Fahri dan Willy terkekeh.
“Sebaiknya kau siapkan amunisi dulu untuk menghadapi anakmu,” ujar Fahri menepuk bahu Evan.
“Kau juga perlu meningkatkan imunitas tubuhmu. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, kan?” -Zian menambahkan.
Evan mendengus kesal. Ini adalah malam paling memalukan seumur hidupnya.
“Apa kau butuh pil setan untuk menghukum Hanna? Aku punya banyak,” tanya Dokter Willy dengan senyum geli.
__ADS_1
“Hentikan!” pekik Evan semakin malu.
****