Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
EXTRA PART 01


__ADS_3

Halooo apa kabar sayangkuuhhhh?


Maaf ya, Extra Part nya jadi molor yang seharusnya tanggal 1 ke tanggal 3.


Mamacii sudah tetap sabar menunggu.


Lope lope sekebun untuk kalian 🤭😍


.


.


.


.


Hanna menjambak rambut Evan yang sedang bermain di dadanya, kemudian mendorong kepalanya agar menjauh. Wanita itu tak pernah dapat menahan sensasi geli jika suaminya mencumbuinya di bagian dada. 


“Kenapa kau pergi sendirian tanpa meminta izinku? Apa kau pikir aku tidak sedih?” tanya Hanna seraya mencakar bahu suaminya yang sedang menciumi lehernya. 


“Aku hanya tidak mau kalian sedih kalau ternyata dokter mengatakan aku tidak bisa berjalan lagi.” Dengan penuh cinta Evan menghujani wajah Hanna dengan ciuman. Mulai dari kening, berpindah ke wajah dan turun di bibir. 


Sesekali ia tampak melirik ke arah bawah, takut jika tubuhnya menindih perut istrinya yang terlihat sedikit membesar. 


“Jadi kalau kau ...” Hanna menjeda ucapannya dengan des*ahan napas ketika Evan mencium bahunya. “Kalau kau tidak bisa berjalan lagi apa kau akan meninggalkanku?” 


“Bukan begitu, Hanna.” Tangannya kembali menjelajahi tubuh di bawahnya, mulai dari pinggang ke leher, membuat Hanna beberapa kali memejamkan matanya. “Aku tidak sejahat itu.” 


“Kau tidak jahat? Setelah meninggalkanku selama tiga bulan, kau masih merasa tidak jahat? Kau memang sudah gila!” Ia mendesahkan napasnya lagi ketika Evan mulai melakukan penyatuan. “Aku pasti akan ....” 


Belum sempat Hanna menyelesaikan kalimat ancamannya, sudah dibungkam lebih dulu oleh Evan dengan ciuman di bibir. Seiring dengan gerakan yang sangat lembut di bagian bawah sana, yang membuat Hanna hanya dapat menggeliat karena Evan mengunci tubuhnya. 


“Akan apa?” tanya Evan setelah melepas pagutan. Tersenyum saat tatapan mereka bertemu. 

__ADS_1


Hanna melingkarkan tangannya di leher sang suami. “Menendang milikmu yang paling berharga!” 


“Kalau kau melakukannya, maka kau tidak akan bisa mendapatkan kenikmatan seperti sekarang lagi.” Sambil mempercepat gerakannya yang membuat Hanna semakin menggila. Tangan Hanna bergerak turun dan tanpa sadar mencakar punggung suaminya. 


“Auh sakit!” ringis Evan merasakan perih di punggungnya. 


“Rasakan! Itu tidak sebanding dengan sakit di hatiku karena kau tinggalkan.” 


Evan terkekeh mendengar ucapan Hanna. Wanita itu terus mengomel dengan suara yang bercampur dengan des*ahan napas.


Evan Lalu membenamkan bibirnya di leher seraya mempercepat tempo. Hingga tiba saat segalanya terasa melayang, ia menancapkan benda berharga miliknya semakin dalam. 


Untuk beberapa saat keduanya saling memeluk dengan napas terengah-engah. Evan mencium kelopak mata kanan dan kiri bergantian. 


.


.


.


.


Mereka masih dalam posisi berbaring di bawah selimut. Belum ada yang mengenakan pakaian setelah aktivitas panas beberapa menit lalu. 


“Kak Willy bilang semuanya baik-baik saja.” 


Setelah puas bermain di perut, Evan membaringkan tubuhnya sejajar dengan Hanna. Hingga mereka kini saling tatap. 


“Lalu kau sendiri bagaimana? Aku menerima laporan bahwa kau sering muntah.” Evan membelai wajah istrinya yang masih terlihat sedikit letih. Kecupan sayang ia benamkan lagi di kening. 


Hanna memeluk suaminya dengan manja dan menjadikan bahu Evan sebagai bantal. “Hanya sesekali. Kenapa begitu ya? Aku tidak mengalami hal seperti ini saat hamil pertama.” 


“Mungkin itu bentuk keadilan dari Tuhan. Dulu kau sendirian dan Tuhan membentukmu menjadi wanita yang kuat.” 

__ADS_1


“Kalau sekarang?” 


“Kau sudah punya aku sebagai tempatmu bersandar. Kau boleh meminta apapun yang kau mau. Termasuk untuk mewujudkan rencana ngidammu yang ekstrim itu.” 


Hanna tertawa kecil. Menatap suaminya dengan penuh cinta. 


“Kita akan kemana dulu?” 


“Italia. Bukankah kau berencana ngidam spaghetti yang langsung beli di Italia?” 


“Ya. Bersiaplah tuan Rich Man, karena Hanna Cabrera akan menghabiskan uangmu!” 


Hanna melingkarkan tangannya di leher suaminya dan menyatukan bibir mereka. Dalam dan sangat lembut. 


Tok Tok Tok! Terdengar suara ketukan pintu yang membuat kedua bibir itu terpisah. 


Hanna dan Evan tersentak. Keduanya langsung panik. Dengan gerakan cepat, Evan meraih pakaian yang teronggok di lantai dan memberikan kepada Hanna. “Cepat pakai bajumu atau Sky akan bertanya hukuman macam apa yang sudah kau berikan kepada daddynya!” 


Mereka pun mengenakan pakaian dengan terburu-buru. 


Tok Tok Tok! Suara ketukan pintu terdengar lagi dan kali ini sudah mendesak untuk dibukakan. 


“Mommy! Kenapa menghukum daddy-nya lama sekali?” pekik Sky terdengar khawatir. 


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2