Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 38


__ADS_3

Suasana semakin ramai sore itu. Sky masih bermain dengan Hanna di tepi danau. Sementara Evan menatap Hanna dari kejauhan. Melihat senyum cerah di wajah wanita itu saja sudah mampu membuat jantungnya bergetar hebat. Ia sampai mengusap dadanya berulang-ulang demi menetralkan getaran itu.


“Sepertinya aku sedang sakit, Osman. Bisakah kau hubungi dokter ahli jantung?” 


Osman menatap Evan dengan dahi mengerut. “Anda sakit? Kalau begitu kenapa tidak istirahat di rumah? Malah keluar jalan-jalan.” 


“Kau benar. Seharusnya aku istirahat di rumah dan memikirkan cara untuk mencairkan gunung salju itu.” 


“Gunung salju? Memang gunung salju mana yang mau dicairkan, Tuan?”


Osman mengedarkan pandangannya ke sekitar. Yang terlihat hanyalah gunung berbatu dengan lembah hijau. Mana ada gunung salju? Ia mulai merasa Tuannya sudah hilang akal sehat sejak menemukan Hanna dan anak-anaknya.


“Kau tidak akan mengerti. Kau ini kan jomblo nelangsa sejak lahir,” ketus Evan tanpa memperdulikan tatapan bingung Osman. 


Apa hubungannya gunung salju dengan jomblo sejak lahir. Dasar aneh. gerutu Osman dalam batin. 


Tak lama berselang, Sky berlari dengan penuh semangat ke arah mereka. Membawa dua buah permen lolypop di tangannya. 


“Star, lihat aku bawa lolypop ini untukmu.” Ia menyerahkan satu lolypop warna-warni ke tangan adiknya dan Star menerima dengan penuh semangat. 


"Wow, ini kan lolypop yang enak."

__ADS_1


Evan menatap kedua anaknya dengan alis berkerut. “Siapa yang memberikan lolypop ini padamu? Makanan manis itu bisa membuat gigi kalian rusak.” 


“Paman itu yang membelikannya, Daddy!”


Sky menunjuk ke satu arah. Di kejauhan sana, tampak Hanna sedang mengobrol dengan seorang pria di tepi danau. Terlihat cukup akrab walaupun mereka berdiri berjarak. Mata Evan pun mendelik, rasa panas mulai membakar tubuhnya. 


“Siapa dia, Sky?” tanya Evan tanpa mengalihkan pandangannya dari Hanna. 


“Itu Paman Agha, Daddy. Dulu paman Agha sering datang ke rumah dan membawa makanan, tapi karena mommy selalu mengusirnya, Paman Agha tidak pernah datang lagi,” jawab Sky polos sambil memainkan lidah pada lolypopnya. “Tadi Mommy juga menolak permen yang dibelikan Paman Agha, tapi Paman Agha memaksa, jadi aku menerimanya.” 


Rasanya Evan ingin sekali membuang lolypop pemberian laki-laki itu. Ia menatapnya dengan kecurigaan.


“Mana saya tahu, Tuan. Saya kan jomblo nelangsa sejak lahir.” 


Evan mendengus kesal saat menyadari Osman sedang mengembalikan perkataannya tadi. “Kau sedang mencoba mengejekku ya?"


"Tidak. Saya mana berani."


"Lalu apa yang kau lakukan di sini, cepat kau panggil Hanna Cabrera dan kita pergi sebelum aku benar-benar sakit jantung!” 


“Maaf, Tuan. Bukankah akan lebih baik kalau Anda sendiri yang memanggil Nona Hanna? Kalau saya yang memanggil, dia tidak akan peduli.” 

__ADS_1


“Kau sangat tidak berguna!” Evan menggerutu sambil menunjuk-nunjuk dada Osman. "Pegang ini saja." Evan menggeser kursi roda Star dan meminta Osman memeganginya.


“Baik.” 


Sambil melangkah, Evan tak henti-hentinya menggerutu dalam hati. Sementara Sky dan Osman mengikuti di belakangnya sambil mendorong kursi roda Star.


"Sayang ... sepertinya anak-anak sudah lelah. Ayo, kita pulang!"


Hanna dan pria asing itu menoleh. Karena terkejutnya, rahang Hanna sampai terbuka lebar mendengar panggilan sayang yang disematkan Evan kepadanya.


Evan yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, ia terus melontarkan hinaan wanita murahan terhadap Hanna.


Ada apa dengannya? batin Hanna.


"Hanna, laki-laki itu siapamu?"


Hanna seketika menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Sebenarnya ... Dia bukan siapa-siapaku," ucap Hanna pelan, membuat mata Evan melotot.


***** 

__ADS_1


__ADS_2