
Dengan wajah memerah, Hanna meraih handuk yang teronggok di lantai dan melilitkan lagi di tubuhnya. Rasa malu membuatnya tak berani lagi menoleh pada suaminya, terlebih saat menyadari Evan menatap sampai lupa berkedip.
“Sedang apa kau di sini? Bukannya kau sedang berada di taman belakang?” tanya Hanna membalikkan tubuhnya.
Evan mengerjapkan matanya berulang-ulang demi mengembalikan akal sehat yang hampir hilang setelah menyaksikan pemandangan tak biasa. Sepertinya bukan hanya Hanna yang malu, Evan pun sama malunya. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan dan menghela napas panjang.
“Ma-maaf, aku diminta Kak Elma kemari untuk memanggilmu. Mereka tadi menanyakanmu.”
Hanna menggenggam erat ujung handuk yang membalut tubuhnya yang gemetar. “Ka-kalau begitu keluarlah dulu. Aku akan memakai baju dan turun.”
“Baiklah. Kak Elma bilang jangan lama-lama.”
Meskipun tampak tidak rela meninggalkan kamar, namun Evan langsung berdiri dari duduknya, kemudian beranjak keluar dari kamar. Sementara Hanna langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi meja rias. Ia menepuk-nepuk wajahnya ketika melihat pantulan dirinya di cermin.
“Ya ampun ini sangat memalukan. Bagaimana aku bisa seceroboh ini tadi. Aku bahkan tidak menyadari dia ada di kamar ini.” Ia melirik tubuhnya yang hanya terbalut handuk putih. “Dia melihat semuanya lagi, aku sangat malu.”
__ADS_1
Wanita itu menarik napas panjang berulang-ulang demi mengurai rasa malu yang membelenggunya. Hingga beberapa menit berlalu barulah mengenakan pakaiannya.
Sementara Evan masih berdiri di balik pintu. Ia diam mematung dan mengatur napasnya yang cepat. Butuh waktu pula untuk menormalkan detak jantungnya.
“Padahal aku tidak habis beraktivitas yang berat,” gumamnya seraya mengusap dada.
Laki-laki itu segera beranjak menuruni tangga untuk menuju ke taman belakang.
Jika tadi ia menggerutu karena kebingungan mencari jawaban buah apa yang tidak berasal dari pohon, kini ia menggerutu lagi setelah berhasil memecahkan misteri yang telah tersimpan selama beberapa tahun itu.
Evan tiba di taman dan langsung bergabung dengan kakak-kakaknya. Tampak Zian dan Fahri duduk berdua sedang menikmati hidangan malam itu.
Zian menatap Evan dengan penuh selidik ketika menyadari raut wajah adiknya itu. Apa lagi saat melihat rona merah di pipinya. Ia tersenyum jahil, lalu memberi kode pada si sulung Dokter Fahri dengan menyenggol kaki di bawah meja. Fahri seketika menoleh saat merasakan kakinya ditendang.
“Apa?” tanyanya dengan kening berkerut.
__ADS_1
Zian hanya memberi kode dengan lirikan mata, membuat Fahri menatap adik bungsunya itu.
“Kenapa wajahmu merah begitu? Apa kau sudah menemukan buah-buahanmu?” tanya Fahri menahan tawa.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Evan semakin merona merah. Rasa malu yang tak dapat disembunyikan itu tersirat melalui bahasa tubuhnya. Mendadak ia teringat kembali pada keindahan tubuh sang istri.
Kulitnya yang putih mulus dan lekuk tubuhnya yang sempurna. Bisa dipastikan Evan tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
"Sudah!" jawabnya singkat dengan nada kesal.
Fahri dan Zian terperangah, lalu kemudian terkekeh.
Tak lama berselang, Hanna pun datang dan langsung bergabung dengan kakak iparnya. Zian dan Fahri kembali saling melirik ketika menyadari Evan dan Hanna langsung salah tingkah saat bersitatap.
Sial! Mereka benar-benar menyebalkan! gerutu Evan dalam hati.
__ADS_1
****