
Perlahan kelopak mata Evan mulai terbuka saat merasakan silaunya cahaya mentari yang menembus jendela kaca. Tangannya menyentuh kepala saat merasakan denyutan di sana.
“Tunggu, di mana ini?”
Pandangannya berkeliling. Ia seorang diri berada di dalam sebuah ruangan asing dengan ranjang besar. Jendela kaca besar yang sebagian tertutup tirai membuatnya yakin sedang berada di sebuah kamar hotel.
“Cih kenapa si Botak itu malah membawaku kemari? Bukannya pulang ke rumah saja bertemu Hanna dan anak-anak.”
Ia menyibak selimut, bangun dan duduk di tepi ranjang. Perjalanan dari Turki ke Indonesia membuatnya sedikit pusing. Apa lagi ada efek obat bius yang ia hirup. Botak benar-benar menyebalkan baginya.
Tak lama berselang pintu terbuka, membuat Evan menoleh seketika. Ia tersenyum bahagia saat melihat Sky muncul dari balik pintu, yang kemudian berlari ke arahnya dengan senyum sumringah.
“Daddy!” panggilnya penuh semangat.
“Sky ...”
__ADS_1
Evan merentangkan kedua tangan ke samping dan menyambut dengan pelukan erat demi melepaskan kerinduan selama satu bulan tidak bertemu. Ia menghujani wajah polos itu dengan kecupan sayang.
“Anakku ... Daddy sangat merindukanmu.” Tangannya bergerak mengusap-usap rambut putranya hingga sedikit berantakan.
“Aku juga sangat merindukan Daddy.” Sky pun mengeratkan tangan yang melingkar di leher daddynya. “Kenapa daddy baru datang?”
“Maafkan daddy, Nak. Semua urusan daddy baru selesai.” Ia menciumi lagi wajah itu. “Ngomong-ngomong siapa yang membawamu ke mari?” tanyanya seraya menyisir rambut Sky dengan jari dan merapikan rambut yang menutupi keningnya.
Kemudian memperhatikan penampilan Sky yang sangat berbeda dari biasanya. Sky tampak menggemaskan dengan setelah jas berwarna biru frozen dan dasi kupu-kupu. Selain itu tubuhnya lebih berisi dibanding saat terakhir kali bertemu.
Evan terkekeh saat mendengar nada bicara Sky yang terdengar cukup kesulitan menyebut satu-persatu anggota keluarga mereka.
Mau apa mereka semua ke hotel? Apa ada sesuatu? tanya Evan dalam batin.
“Lalu di mana Mommy dan Star sekarang?” Evan menatap ke pintu yang dapat terlihat dari tempatnya duduk sekarang. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
“Mommy di bawah, Daddy.”
“Di bawah? Lalu Siapa yang tadi mengantarmu ke sini?”
Melihat gedung-gedung tinggi yang terlihat di balik jendela, Evan meyakini sedang berada di lantai teratas gedung hotel itu. Tidak mungkin Sky naik ke lantai atas seorang diri. Apa lagi saat ini Evan berada di presidential suite yang berada di lantai atas gedung hotel.
“Kakak yang bekerja di sini yang mengantar.” Tadi Sky meminta diantar ke kamar daddynya karena sudah tidak sabar bertemu daddynya. “Ayo Daddy cepat kita ke bawah. Mommy sudah menunggu.” Sky menarik lengan daddynya, meminta untuk segera turun.
Pertanyaan kembali timbul di benak Evan. Ia masih bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya serba tak terduga. Terbangun saat sudah berada di atas sebuah jet pribadi yang akan membawanya ke Indonesia.
“Memangnya di bawah ada apa, Sky?”
“Di bawah ada banyak orang, Daddy. Mommy dan Star memakai baju seperti putri. Ada kue tart yang sangaaat besar.” Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan melukis lingkaran di udara.
Evan yang belum mampu mencerna ucapan Sky hanya menatap putranya penuh tanya.
__ADS_1
“Apa yang kau bicarakan, Sky?”