
Evan mendekati Hanna dan memeluknya. Menciumi kening dan bibir dengan gemas.
"Sepertinya kau benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik, ya."
"Kan kau yang memintaku memakai ini."
Evan terkekeh. "Baiklah, aku akan mandi dulu untuk mengumpulkan tenaga. Jadi bersiaplah untuk lelah," bisiknya dengan menggoda.
Evan beranjak menuju kamar mandi. Namun berhenti saat berada di ambang pintu. "Oh ya, pastikan ponselmu mati, kalau tidak anak-anakmu akan melakukan panggilan untuk mengucapkan selamat malam."
*
*
*
Bulan bersembunyi dengan malu-malu di balik awan. Keheningan malam pun menjadi saksi.
Hanna mencengkram rambut Evan yang tengah melahap tubuhnya tanpa ampun. Membuat wanita itu hanya mampu mengerjapkan mata ketika merasakan sensasi berbeda dari setiap sentuhan suaminya.
Dalam ...
Lembut ...
Hangat ...
Sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan dengan ribuan kata.
Hanna terkulai lemas dalam pelukan suaminya saat segalanya selesai dengan menggapai puncak kenikmatan yang tak terkira.
Evan tersenyum bangga ketika melihat Hanna begitu kesulitan mengatur napasnya yang memburu. Ia kecup kening, pipi kelopak mata dan bagian wajah lain.
__ADS_1
"Mau lagi?" bisik Evan membuat mata Hanna melebar.
"Tidak! Aku mohon jangan!"
"Padahal kau yang menantang duluan dengan pakaian tipismu itu." Tangannya bergerak membelai wajah lelah itu dengan jarinya. "Lalu kenapa sekarang malah menyerah duluan?"
"Simpan saja tenagamu untuk besok. Aku masih punya beberapa lingerie dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda." Hanna membalas dengan bisikan yang tak kalah menggoda.
"Kalau seperti ini, sepertinya aku akan betah di rumah terus," ucapnya dengan tawa kecil.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian para suami sangat suka jika istrinya menggunakan pakaian seperti ini menjelang tidur?"
Mendengar ucapan Hanna, Evan tiba-tiba teringat sebuah kejadian lucu beberapa tahun lalu.
"Sayang ... Tidak semua suami menyukainya. Apa kau tahu, Kak Zian pernah mau menutup sebuah perusahaan pembuat lingerie karena tidak suka saat Naya menggunakannya."
Hanna tampak terkejut, lalu kemudian tertawa. Tingkah Zian memang terkadang di luar nalar manusia normal.
"Iya. Saat Naya menggunakannya, Kak Zian mengatakan dia mirip wanita penggoda. Naya marah dan mengusirnya dari rumah. Lalu Kak Zian datang dan mengadu pada Kak Fahri. Dia memaki Elsa, karena Elsa yang membelikannya untuk Naya."
Tawa Hanna kembali pecah. Kemudian bersandar di dada suaminya demi menghirup bau tubuh itu. Bau parfum yang bercampur dengan keringat. Hanna sangat menyukainya.
"Kisah keluargamu sangat unik. Aku sangat menyukai mereka."
"Dan aku sangat menyukaimu."
Hanna memukul dada suaminya sambil tertawa kecil.
"Oh, ya ... bagaimana urusan dengan wanita yang anaknya keracunan di restoranmu?" tanya Hanna tiba-tiba teringat dengan masalah yang tengah membelit suaminya. "Apa kau sudah bertemu dengan orangtua anak itu?"
"Sudah."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anaknya?"
Evan menghela napas panjang. "Anak itu masih harus menjalani perawatan intensif. Menurut hasil pemeriksaan, dia terpapar racun tetrodotoksin."
"Apa? Racun apa itu? Dan apa itu berbahaya?" tanya Hanna khawatir.
"Iya. Itu adalah jenis racun yang terdapat pada jenis ikan tertentu, cukup berbahaya dan berakibat fatal."
Raut wajah Hanna mulai terlihat khawatir, apalagi melihat wajah suaminya yang mendadak sedih. Tetapi Evan melukis senyum di bibirnya, seolah ingin memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.
"Maaf, sepertinya kita harus menunda kepulangan kita. Sebelum anak itu dinyatakan sembuh, kita akan menetap di Amasya dulu."
Hanna mengangguk mengerti. "Aku ikut prihatin. Semoga anak itu cepat sembuh."
"Apa kau tahu ... Ternyata ibu dari anak itu adalah teman lamaku. Kami pernah kuliah di tempat yang sama. Tadinya dia akan marah, tapi saat mengetahui aku adalah pemilik restoran itu, dia jadi melunak."
"Benarkah?"
"Iya ... Aysel bilang dia hanya punya putrinya di dunia ini."
Tiba-tiba terlihat kerutan di kening Hanna mendengar nama yang baru saja disebutkan suaminya.
"Aysel?"
"Ibu anak itu namanya Aysel. Kenapa, Sayang?"
Hanna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku kenal seseorang bernama Aysel. Tapi lupakan saja. Aku kesal setiap kali harus mengingat nama itu"
****
__ADS_1