Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 129


__ADS_3

 Dua minggu sudah Evan dirawat di rumah sakit. Dua minggu pula Hanna tak pernah beranjak dari sisinya. Hanna juga tidak pernah pulang ke rumah, meskipun kakak-kakak ipar dan suaminya sendiri kerap memintanya pulang untuk beristirahat. Namun, setiap kali diminta untuk pulang, Hanna hanya menjawab dengan kalimat,


“Aku tidak mau meninggalkan suamiku!” Sebuah jawaban yang akan membungkam semua orang. 


Kini kondisi Evan menunjukkan banyak kemajuan. Beberapa alat medis yang sempat melekat di tubuhnya sudah dilepas, menyisakan infus di tangan kiri dan juga gips yang membalut kaki kanannya. 


“Sayang ...” panggil Evan kepada wanita yang sedang terbaring dengan tangan melingkar di tubuhnya.


Karena Hanna selalu menolak pulang, maka keluarga Azkara meminta ranjang pasien di ruangan itu diganti dengan tempat tidur biasa, sehingga Hanna bisa ikut tidur di sisi suaminya setiap malam. 


Hanna mendongakkan kepalanya, sehingga kini mereka saling tatap. “Apa kau butuh sesuatu?” 


“Tidak.” Evan tersenyum menatap sang istri, dengan tangan yang bergerak merapikan beberapa helai rambut yang berada di sekitar wajah dan menyelip ke belakang telinga. “Apa kau tidak lelah? Pulanglah dan istirahat.” 


Mendadak wajah Hanna menjadi murung. Ada cairan bening yang menggenangi bola matanya. Sejak hamil ia menjadi agak sensitif dan mudah menangis. Evan meringis sedikit saja sudah membuatnya menangis terisak.  

__ADS_1


“Apa kau tidak senang aku di sini menemanimu, makanya kau selalu memintaku untuk pulang?” 


Melihat mata Hanna yang mulai berair dan bibir mungil yang mengerucut membuat Evan tertawa kecil. Ekspresi wajah Hanna terlihat sangat menggemaskan baginya. 


“Bukan begitu maksudku, Sayang." Ia membelai wajah istrinya. "Kau sudah dua minggu di sini dan tidak kemana-kemana. Apa kau tidak merasa bosan? Selain itu kau sedang hamil dan butuh banyak istirahat.” 


“Memangnya aku melakukan apa di sini? Tidak ada kan, hanya menemanimu berbaring. Aku sama sekali tidak lelah.” 


“Tapi anak-anak bagaimana, mereka juga membutuhkanmu. Ayolah, pulang dan istirahat. Aku sudah tidak apa-apa, hanya kakiku saja yang belum bisa digerakkan.”


“Pokoknya aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya akan pulang saat bersamamu,” ucap Hanna dengan intonasi yang tak dapat dibantah lagi. 


Evan tersenyum, Hanna memang sangat keras kepala. 


“Baiklah ..." Akhirnya Evan menyerah. "Kemari sebentar, aku mau memelukmu.” Evan merentangkan tangan, membuat  Hanna membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. 

__ADS_1


“Aku mencintaimu!” bisik Hanna dengan manja seraya mengecup pipi berulang-ulang. 


“Terima kasih, Sayang.” Tangannya menyusup ke dalam pakaian dan mengelus lembut perut istrinya yang masih rata. “Maafkan aku. Seharusnya sekarang aku yang repot memenuhi keinginan ngidammu. Tapi malah sebaliknya, kau yang repot karena merawatku.” 


“Tidak apa-apa. Karena aku akan menagih hutangmu saat kau sembuh nanti. Aku akan meminta banyak hal darimu dan kau akan mengomel karena kesulitan memenuhinya.” Ia menciumi pipi suaminya lagi dan lagi seakan tak pernah cukup. 


“Memang Hanna Cabreraku yang galak ini mau minta apa?” 


"Em ... apa ya! Hanna memutar bola matanya dan berpikir sejenak. "Karena suamiku ini rich man, maka aku akan mengidam tanpa memikirkan biaya. Aku akan ngidam sushi tapi kau harus ke Jepang untuk membelinya, rujak Bangkok yang langsung dari Thailand, kurma yang langsung beli di Arab, kebab juga harus dari Turki. Ah, satu lagi ... aku juga akan meminta spaghetti tapi harus beli di Italia. Selain itu aku juga berencana untuk ngidam makan es serut tapi es-nya harus dari Kutub Utara."


Evan mengatupkan bibirnya demi menahan tawa.


"Tuan Rich Man, apa kau akan memenuhi semua rencana ngidamku?" ucap Hanna dengan mengedipkan mata seolah sedang merayu dengan genit.


Membuat Evan tertawa terbahak. 

__ADS_1


*** 


__ADS_2