
Evan menggelengkan kepala setelah kesadarannya kembali. Melirik seorang anak yang tengah tergeletak tak berdaya di tengah jalan yang berada kurang dari dua puluh meter dari mereka.
"Kau menabraknya?"
"Tidak, Tuan. Saya membanting setir ke kiri sebelum menjangkau anak itu. Sepertinya dia pingsan karena terkejut." Osman menarik napas dalam-dalam seraya mengusap dada. Kejadian tadi membuat akal sehatnya seakan hilang.
Khawatir kendaraan lain akan melintas, Mereka segera turun dari mobil, berlari dengan kencang ke arah anak yang tergeletak di tengah jalan dengan posisi tengkurap itu.
Saat telah berada dalam jarak yang sangat dekat, tiba-tiba jantung Evan seakan berhenti berdetak, sendi-sendinya terasa lemas, juga bola matanya yang berair. Betapa tidak, ia sangat mengenali tubuh kecil itu, berikut pakaian yang dikenakannya.
"Sky!" teriak Evan seraya berjongkok dan membalikkan tubuh anak itu, meletakkan di pangkuannya.
Benar dugaannya, anak itu adalah Sky, putranya yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Sky, bangun, Nak. Ini Daddy! Sky bangun!" Ia menepuk pipi, mengguncang-guncangkan tubuhnya, namun Sky sama sekali tak bergerak dan tak pula terbangun.
"Sky!" Berulang-ulang ia meneriakkan nama itu.
__ADS_1
Osman pun begitu terkejut menyadari anak yang hampir saja ditabraknya ternyata adalah Sky. Beruntung ia segera menginjak rem dan membanting setir ke kiri, sehingga mobil tak sempat mengenai tubuh Sky.
"Tuan muda!"
Osman lantas memeriksa seluruh tubuh Sky dan memastikan tidak ada luka serius selain sedikit lecet di kening yang terlihat masih baru. Mungkin akibat bergesekan dengan aspal.
"Tuan, apa kita harus membawa tuan muda ke rumah sakit?" ucapnya panik.
Evan yang masih berjongkok di aspal dengan memangku Sky seketika tersadar, lalu menyentuh seluruh bagian tubuh putranya.
"Sepertinya tidak ada. Dia hanya terkejut dan kelelahan."
Osman dan Evan melirik mobilnya yang sudah terjerembab ke semak-semak, ban mobil terperosok dalam. Butuh derek untuk mengeluarkannya dari sana.
"Osman, tolong kau hubungi Botak, kita butuh mobil. Katakan padanya untuk membawa Star kemari."
"Baik, Tuan. Sambil menunggu mereka datang, Anda bisa membaringkan tuan muda di dalam mobil."
__ADS_1
Evan mengangguk, lalu segera menggendong Sky menuju mobil. Osman membuka pintu mobil bagian belakang, sehingga Evan membaringkan Sky di sana. Sebuah bantal boneka digunakannya untuk menyangga kepala Sky. Ia lalu mengusap wajah putranya dengan berderai air mata.
Sky tampak sangat pucat dan lemah. Pakaiannya kusut dan sobek di beberapa bagian. Melihat kaki putranya yang penuh dengan tanah berlumpur, ia menduga Sky berlari tanpa menggunakan alas kaki. Juga terdapat beberapa luka goresan di sekitar betis.
"Sky ... Kau dengar Daddy! Bangunlah, Nak! Daddy sudah di sini." Tatapan Evan berpindah pada Osman yang berdiri di dekat pintu mobil sambil menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Osman, minta mereka lebih cepat!"
"Mereka sudah mengarah kemari, Tuan." Osman memperhatikan tuannya. Ini adalah pertama kali ia melihatnya sepanik ini. Karena biasanya Evan sangat tenang saat menghadapi apapun.
"Apa yang sudah dilakukan wanita jahat itu pada anak-anakku?" ucapnya dengan sangat marah.
Osman dapat membaca kemarahan di wajah tuannya. Dulu Evan mengampuni Cleo demi menghormati statusnya yang merupakan seorang dokter.
Namun Cleo sudah keterlaluan kali ini. Osman bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kepada Cleo selanjutnya. Terlebih, karena Evan telah menyerahkan urusan Cleo kepada Botak.
***
__ADS_1