
Berita dengan cepat tersebar di kalangan masyarakat tentang pemilik kafe dan restoran termewah di Kota Amasya yang telah menemukan anak-anaknya--yang terpisah sejak bayi. Banyak di antaranya sangat penasaran tentang sosok sepasang anak kembar Tuan Evan itu. Ada pula beberapa rumor miring seputar status pernikahan dengan ibu dari anak-anaknya. Namun rupanya Evan tak begitu peduli. Ia memilih menjaga kedua anaknya dengan ketat.
Siang itu Evan membawa Sky dan Star mengunjungi kafe. Ini adalah pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di kafe mewah itu dengan status sebagai anak pemiliknya. Begitu memasuki bangunan mewah berlantai tiga itu, semua mata tertuju pada dua bocah kecil yang menggemaskan.
Sky reflek menyembunyikan tubuh di belakang daddy-nya saat menyadari tatapan orang-orang. Ia teringat pertama kali menginjakkan kaki di kafe itu, saat ia menerima hinaan dari para karyawan kafe.
"Ada apa, Nak? Kenapa bersembunyi di belakang daddy?" tanya Evan mengusap lembut rambut putranya. Sedangkan Star berada dalam gendongannya yang juga menyembunyikan wajah di celuk leher sang Daddy.
"Aku mau pulang saja, Daddy!" pinta Sky dengan menundukkan pandangan.
"Kenapa pulang? Bukankah kau mau makan kebab yang dibuat paman koki?"
Sky menyahut dengan gelengan kepala, bola matanya secara perlahan meneliti beberapa pria dan wanita berseragam yang berdiri tak jauh darinya.
Hanya dengan menatap sorot mata Sky, Evan telah paham apa yang ada di benak putranya. Ia tersenyum lembut kepada Sky, kemudian memberi kode kepada seluruh karyawan kafe untuk berkumpul di sana.
Beberapa orang bahkan terlihat ketakutan dan tak berani mengangkat kepala.
"Dengar semua, Sky dan Star adalah anakku yang terpisah sejak bayi dan aku baru menemukan mereka. Jadi tolong perlakukan dan layani anak-anakku dengan baik."
"Baik, Tuan."
Evan kembali melirik Sky yang masih belum berani mengangkat kepala. Ia ulurkan tangan sehingga Sky menyambutnya.
__ADS_1
"Ayo, Nak. Kita ke ruangan Daddy," ujarnya kemudian melirik seorang koki pria sambil tersenyum. "Harun, tolong bawakan roti dan kebab isi daging yang enak ke ruanganku!"
"Baik, Tuan," ujar koki berseragam putih itu.
"Tolong minta Ranz membuatkan jus alpukat dan jus apel juga."
"Baik."
Di sisi lain ... Eliya, anak Nyonya Ursula yang pernah menghina Sky habis-habisan beberapa waktu lalu--saat datang dan meminta kebab gratis untuk adiknya, tampak berdiri di dekat meja bartender yang bersebelahan dengan dapur.
Eliya meneliti penampilan Sky dan Star. Kini dua anak itu tak lagi menggunakan pakaian lusuh, melainkan pakaian bermerk yang sudah pasti sangat mahal.
“Eliya, aku benar-benar tidak menyangka bahwa anak berpakaian kumal yang datang hari itu adalah anak Tuan Evan,” bisik salah seorang pelayan kafe wanita.
“Awalnya aku juga terkejut, Sema! Mereka datang di malam hari mencari Sky dan Star. Aku pikir Sky habis mencuri sesuatu. Ternyata mereka anak bos kita,” ucap Eliya menggigiti kuku-kukunya. Ia sudah takut jika sampai dipecat karena pernah menghina anak bos-nya. “Aku takut Tuan Osman yang galak itu akan memecatku.”
“Tenanglah. Aku rasa kau tidak akan dipecat. Kau bekerja lah dengan baik.”
“Tapi aku sudah melakukan kesalahan besar, Sema ... dan aku sangat malu karena hal itu.” Mata Eliya mulai berair, tatapannya tertuju pada sang bos di dalam ruangan berdinding kaca yang sedang bercengkrama dengan anak-anaknya. “Mana aku tahu kalau Sky anak bos kita. Dia tetanggaku yang selama ini hidup dengan menyedihkan. Ibunya bahkan hanya seorang penjahit.”
“Pergilah minta maaf, Eliya. Tuan Evan itu orang baik, dia akan memaafkanmu.”
“Aku tidak yakin,” ujarnya pasrah. “dan bagaimana dengan Nona Hanna. Dia sering terlibat masalah dengan ibuku. Tamatlah riwayatku.” Eliya menyandarkan punggungnya di dinding dapur. Ingin rasanya gadis itu menyembunyikan wajahnya di kerak bumi terdalam karena rasa malu.
__ADS_1
“Apa menurutmu anak itu akan mengadukanmu?”
“Entahlah! Ughh rasanya aku mau bunuh diri saja!” Eliya menghela napas frustrasi.
“Hey kalian berdua jangan mengobrol terus!” Suara seorang koki pria menghentikan pembicaraan antara Eliya dan Sema. “Eliya, Sema ... Kalian bawa ini ke ruangan bos.” Laki-laki bertubuh tambun itu menggeser beberapa nampan berisi kebab dan roti. "Sema, ambil minumannya di meja Ranz."
"Baik."
Eliya dan Sema saling lirik, sebelum mendekati meja dan dengan cepat meraih nampan itu. Melangkah menuju ruangan bos, membawakan menu spesial untuk Sky dan Star.
“Permisi, Tuan,” ucap Sema dan Eliya saat memasuki ruangan itu.
“Masuklah!” jawab Evan singkat.
Melihat siapa yang baru masuk ke dalam ruangan pribadi daddy-nya, Sky dan Star yang sedang bermain seketika menunduk seolah tak berani menatap gadis itu. Bahkan wajah Star sudah memucat, tubuhnya gemetar dan bola matanya berkaca-kaca. Eliya adalah tetangga yang sering memarahi mereka.
"Ada apa, Nak?"
Sadar reaksi tak terduga anak-anaknya, Evan meraih tubuh Star dan memeluknya. Tangan satunya terulur membelai kepala Sky yang juga tampak ketakutan. Sedangkan Eliya dan Sema masih mematung di tempatnya berdiri.
Tamatlah riwayatku ... jerit Eliya dalam hati.
***
__ADS_1