Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 67


__ADS_3

“Maaf, aku belum menemukan mereka,” ucap Evan penuh sesal. Ia menundukkan kepala sambil menunggu reaksi Hanna selanjutnya. Mungkin menjahilinya akan terasa menyenangkan. 


Wanita itu menyibak selimut yang membalut tubuhnya, hendak turun dari tempat tidur, namun Evan menahannya. “Kau mau ke mana?” 


“Lepaskan! Aku mau pergi mencari mereka!”


"Ini masih gelap, Hanna. Besok saja dilanjutkan."


"Apa?" Hanna menatap tak percaya. "Mereka sedang dalam bahaya dan kau memikirkan kegelapan? Ayah macam apa kau ini?"


Ia memukul-mukul dada Evan sekuat tenaga hingga membuat laki-laki itu tertawa. Hal yang membuat Hanna keheranan sekaligus geram. Anak-anaknya belum ditemukan, tetapi Evan malah mengajaknya bercanda. 


"Anak-anakmu belum ditemukan dan kau masih bisa tertawa? Apa kau sudah gila?” Isak tangis kembali terdengar, Hanna pun berlinang air mata. 


Ia meraba pembaringan di sebelahnya demi meraih bantal untuk memukuli suaminya, namun seketika tersadar ketika tangannya menyentuh sosok tubuh kecil. 


“Sky ... Star!” lirih Hanna menatap anak-anaknya. "Kau berhasil menemukan mereka?"


Evan tersenyum. "Apa menurutmu aku bisa tenang selama mereka belum ditemukan?"

__ADS_1


"Tidak, maafkan aku."


Ia tak dapat membendung luapan air mata ketika menyadari keberadaan anak-anak yang ternyata sudah terlelap di sisinya. Rasa takut yang teramat besar pun berganti menjadi rasa haru. Ia menangis, memeluk, mencium dan mengusap tubuh anak-anaknya demi menyakinkan hatinya bahwa ia tidak sedang bermimpi kedua buah hatinya telah kembali. 


“Sky ... Star ...” lirih Hanna mengecup wajah anak-anaknya lagi dan lagi. “Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa ada perban di kening Sky dan kenapa tubuh Star terasa hangat?” 


Tak ingin istrinya khawatir berlebihan, Evan mengusap rambutnya dengan penuh kelembutan. “Tenanglah Hanna, mereka tidak apa-apa. Star hanya demam biasa dan aku sudah memberinya obat. Sky juga tidak apa-apa, keningnya hanya luka lecet karena terjatuh tadi.” 


Hanna menyeka air mata, lalu kembali memeluk kedua anaknya hingga seluruh kekhawatiran itu menghilang sepenuhnya. Berganti menjadi rasa lega yang tak terhingga. Ia lantas menatap Evan yang masih duduk di sisinya. 


Evan menerbitkan senyum di bibirnya, meskipun di wajahnya tersirat rasa lelah. Sejak Sky dan Star menghilang, Evan sama sekali tidak pernah beristirahat ataupun tidur. Ia terus mencari dan mencari tanpa rasa lelah. 


“Kenapa minta maaf?” 


“Karena keegoisanku. Aku menyalahkanmu atas hilangnya mereka. Tolong maafkan aku.” 


Evan menggelengkan kepala pelan. “Tidak semudah itu, Hanna Cabrera.” 


Napas Hanna tertahan, menatap Evan dengan penuh rasa bersalah, lalu menundukkan kepala setelahnya. Ia sadar telah berlaku tak adil dengan menyalahkan Evan. Padahal yang terjadi bukanlah kesalahannya.

__ADS_1


“Kau tidak mau memaafkanku?” 


Evan terdiam beberapa saat, menatap Hanna dengan mengintimidasi. “Kau tadi memukulku di sini.” Ia menunjuk dadanya di mana Hanna menghujaninya dengan pukulan. “Apa kau tidak tahu kalau itu sakit?” 


“Lalu apa kau akan membalasku?”


Tak tahan dengan tingkah Hanna, Evan tertawa kecil, lalu memeluknya. Tangannya bergerak mengusap punggung Hanna. Menyandarkan dagunya di puncak kepala wanita itu. “Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti keadaanmu. Ibu mana pun tidak akan sanggup kehilangan anaknya.” 


“Terima kasih sudah menemukan mereka dan membawanya dalam keadaan selamat.” 


Evan pun melepas pelukan, lalu menatap dalam wajah wanitanya. Sebuah tatapan yang mengalirkan cinta yang besar. “Ngomong-ngomong kita sudah dua hari menikah, tapi aku belum mendapatkan apapun selain serangan darimu.” 


“Lalu aku harus apa?” 


Evan menyentuh kedua sisi pipi Hanna dan menatapnya intens. Mencondongkan wajahnya hingga tersisa jarak satu ruas jari saja. Hanna membeku, seolah terjebak dalam tatapan itu.


“Besok saja. Aku sedang sangat lelah sekarang. Siapkan saja tenagamu untuk besok malam!"


****

__ADS_1


__ADS_2