Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 115


__ADS_3

Sore itu kafe dan restoran milik Evan kembali ramai oleh pengunjung. Hampir dua minggu sepi akibat kasus keracunan yang terjadi pada seorang anak kecil. Kini kasus tersebut sudah menemui titik terang setelah Aysel mengaku membawa putrinya ke sebuah restoran seafood sebelumnya. 


Hanna menyambut para tamu yang berdatangan dengan ramah. Tetangga-tetangga lama sudah berdatangan. Mulai dari Nyonya Ursula hingga Nyonya Gulsha. Tampak pula Nenek Laura bersama cucunya di sana. 


Sementara Sky dan juga Star berada di sisi lain, sedang bermain bersama anak-anak lain di ruangan khusus anak-anak. Sky pun telah berdamai dengan Ozkan dan Murad. Saat ini mereka sedang membagikan bingkisan dan hadiah menarik untuk semua anak-anak yang datang. 


"Sky, apa benar kata Ozkan kalau paman pemilik kafe itu adalah daddy-mu?" tanya Murad ingin memastikan. Sesekali matanya melirik ke sebuah ruangan berdinding kaca transparan, di mana seorang pria sedang duduk santai bersama seorang pria lainnya.


"Iya, itu daddyku," jawab Sky.


Murad menatap pria itu dengan kekaguman. Sesekali berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Wow, daddymu keren sekali."


"Ayahmu juga sangat keren. Dulu aku sering melihatnya pulang dengan membawakanmu mainan."


"Tapi daddymu lebih keren karena bisa memberi semua anak mainan. Sudah begitu, hari ini semu makanan di sini gratis."


*


*


*


Acara berlanjut dengan bahagia. Hari ini, Evan juga akan mengumumkan pernikahaannya dengan Hanna demi menepis semua fitnah dan berita miring yang sempat beredar tentang istrinya itu.

__ADS_1


Kini tidak ada lagi prasangka buruk. Semua fitnah telah luntur bersama dengan pengumuman itu. Beberapa orang tampak memberi ucapan selamat atas pernikahan mereka.


“Hanna ...” Suara panggilan seorang wanita mengalihkan perhatian Hanna. Ia seketika menoleh, Aysel baru saja datang bersama putrinya. 


“Nona Aysel—” 


Wanita itu tersenyum samar. “Maaf kalau aku mengganggu waktumu. Bisakah kita bicara sebentar?” 


Hanna mengangguk seraya tersenyum ramah. “Tentu saja. Silakan duduk dulu.” 


Aysel tertunduk, kemudian memilih duduk di sebuah meja kosong. Ia tampak ragu untuk memulai pembicaraan. Wajahnya juga terlihat memerah. 


“Sebenarnya aku sangat malu mendatangimu hari ini. Tapi aku rasa ... Aku perlu minta maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Selain itu aku banyak berbuat jahat padamu.” 


Hanna mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, Nona. Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula semua bukan semata karena kesalahanmu. Aku juga minta maaf.” 


“Terima kasih, Hanna. Evan sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Semoga kau selalu bahagia.” 


“Terima kasih, Nona Aysel. Aku juga mendoakan yang sama untukmu.” 


.


.

__ADS_1


.


Hari itu semua merasakan kebahagiaan yang sama. Acara ditutup dengan pengundian door prize menarik yang diundi untuk para tamu. 


Sementara dari ruangan pribadinya, Evan tersenyum melihat Hanna yang berseri-seri. Ia tertawa lepas dengan beberapa teman wanitanya. Sesuatu yang sangat jarang ia lihat, karena Hanna terbilang seorang wanita yang sangat kaku.


“Terima kasih, Osman! Kau sudah bekerja keras. Sekarang semua sudah beres, tidak akan ada lagi penghinaan untuk Hanna.” 


“Benar, Tuan. Mereka sudah berdamai."


Evan menghela napas lega. Kemudian melirik kedua anaknya yang sedang bermain bersama anak-anak lain dengan riang.


"Tuan ..."


"Hemm ..."


"Sekarang semua sudah beres, kasus restoran juga sudah selesai. Jadi cepatlah berangkat ke Istanbul, sebelum manusia tanpa rambut itu menculik Anda,” ucap Osman membuat Evan melotot tajam.


"Jangan sebut nama orang itu di sini. Apa kau lupa bagaimana dia mengikat kaki dan tangannya sendiri untuk menipu kita?"


"Anda benar, dia bahkan sanggup membius dirinya sendiri."


*

__ADS_1


*



__ADS_2