Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 79


__ADS_3

Evan mendekati Hanna yang sedang merapikan tempat tidur. Sesekali melirik Sky dan Star yang terus menatapnya dengan curiga. 


“Coba lihat tatapan mereka. Seolah aku adalah ikan paus raksasa yang akan menelanmu,” bisik Evan seraya tertawa kecil. 


Hanna ikut tertawa mendengar bisikan Evan. “Mereka memang seposesif itu. Tenang saja, aku akan menjelaskan pada mereka nanti.” 


Setelah merapikan tempat tidur, Hanna meraih handuk yang menggantung pada sebuah tiang di sudut kamar, lalu masuk ke kamar mandi. 


Sementara Evan melirik Sky dan Star yang menatapnya dengan tak bersahabat. 


Setidaknya aku harus berbaikan dengan mereka dulu untuk bisa mendapatkan mommy-nya. 


Evan tampak berpikir beberapa saat. Mungkin ia harus berusaha membujuk lebih keras lagi. Ia lantas mendekati sepasang anak kembar itu dan duduk di sisinya. 


“Kalian masih marah pada daddy?” tanya Evan dengan wajah sememelas mungkin. 


Sky dan Star masih merengut. Sangat kompak, membuat Evan menghela napas panjang. 


“Ayolah, Nak. Daddy tidak akan menghukum mommy, percayalah.” 


“Tapi Daddy bilang mau menghukum mommy,” jerit Star tak terima. 


“Iya. Daddy jahat.” Sky menambahkan. 


Evan mendesahkan napas ke udara. Entah bagaimana lagi cara membujuk bocah-bocah itu. Sepertinya Sky dan Star akan sulit diluluhkan kali ini. Ia berpikir beberapa saat hingga terbesit ide di benaknya. 


“Bagaimana kalau minggu depan kita jalan-jalan ke kebun binatang. Kalian pasti belum pernah lihat gajah dan jerapah kan?” bujuk Evan. 

__ADS_1


“Gajah dan jerapah?” Tampaknya Star langsung tertarik mendengar rayuan daddy-nya. “Sebesar apa gajah dan jerapah itu, Daddy?” 


“Sangat besar, Nak. Lebih besar dari boneka beruang yang ada di kamarmu.” 


Mata Star seketika berbinar. Sepertinya sudah masuk ke perangkap daddy-nya. “Wah keren sekali. Apa di sana banyak binatang lagi?” 


Yes, satu sudah masuk perangkap. batin Evan bersorak, kemudian melirik Sky sambil memikirkan bujukan yang mampu meluluhkan keduanya. 


“Sangat banyak. Kita juga bisa ke Sea World, nanti. Di sana kita bisa melihat ikan hiu dan kura-kura raksasa.” 


“Wow, itu sangat keren, Daddy. Aku mau ikut Daddy.” Star melompat kegirangan seraya memeluk daddy-nya. Evan tersenyum senang, seolah sangat puas dengan hasil bujukannya. 


Sementara Sky masih malu-malu namun sudah agak melunak. Terlihat dari wajahnya yang tak lagi sekaku tadi. 


“Apa kau tahu, Star, di sana ada ikan aligator yang sangat besar.” Evan melukis lingkaran di udara, seperti yang sering dilakukan Sky saat menjelaskan sesuatu. 


“Ikan aligatornya sebesar daddy.” 


Sky tampak sangat takjub. Terlihat dari bola matanya yang melebar. “Benarkah, Daddy?” 


“Iya. Minggu depan kita akan ke sana bersama-sama.” 


Akhirnya senyum terbit di  wajah Sky. Semua dendam yang tadi mendadak sirna setelah mendengar janji manis sang daddy. 


Tak lama berselang Hanna keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas dada. Melihat Evan masih di kamar, ia menundukkan kepala malu. Evan pun mengerti dan langsung  menurunkan Sky dan Star dari pangkuannya. 


“Aku akan keluar dulu.” 

__ADS_1


“Jadi kalian sudah berbaikan dengan daddy?” tanya Hanna setelah Evan keluar dari kamar. Ia lantas menuju lemari dan memilih pakaian. 


“Iya, Mommy. Daddy mau mengajak aku dan Star ke kebun binatang,” jawab Sky penuh semangat. 


“Baguslah, pasti akan sangat menyenangkan.” Hanna tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya. Mendadak senyum di wajah Sky meredup setelah melihat beberapa tanda kemerahan di bawah leher dan bahu mommynya. 


*** 


Sarapan pagi berlangsung dengan hangat seperti hari-hari sebelumnya. Selalu saja ada obrolan seru setiap pagi di meja makan. Jika Evan cukup lega meluruskan kesalahpahaman dengan kedua anaknya, namun tidak begitu dengan Sky. 


Sejak tadi ia tampak tak tenang duduk di meja makan, diiringi dengan raut wajah yang cukup sedih. Elma yang dapat membaca kesedihan di wajah keponakannya lantas bertanya. 


“Ada apa, Sky? Kenapa sedih, Nak? Apa kau tidak suka menunya?” 


Sky hanya menggelengkan kepalanya yang tertunduk. 


“Sky ... Jangan begitu, Nak. Tidak boleh sedih saat sedang makan. Memang apa yang membuatmu sedih?” bujuk Evan. 


Sky mendongakkan kepala, menatap paman Fahri-nya seolah mengadu. 


“Daddy jahat!” 


Fahri lantas menatap Evan dengan mengintimidasi. Kemudian menatap Sky. “Apa yang dilakukan daddymu, Nak? Apa daddy habis memarahimu?” 


Dengan menahan air mata, Sky menggeleng, kemudian melirik Hanna dengan wajah sedih. 


“Daddy sudah menghukum mommy. Aku liat tadi ada merah-merah di badan mommy. Daddy jahat!” pekik Sky membuat Evan terlonjak, sehingga air putih yang baru saja diteguknya menyembur keluar. 

__ADS_1


*****


__ADS_2